Disuatu siang menjelang sore, di hari yang seharian hujan di
kota hujan, seorang Bapak-bapak penjual air minum isi ulang mengantarkan air
minum isi ulang ke kostan. Selepas uang kembalian ia berikan, ia menyodorkan
selembar kertas berisikan angka-angka soal. Soal aljabar ternyata. Ia bertanya,
cara menyelesaikan soal ini bagaimana, bagaimana dengan jawaban yang ia kerjakan,
benar atau tidak? Pelan-pelan saya jawab pertanyaannya. Singkat sekali sesi
tanya-jawab kali itu. Beliau seperti tak enak hati jika berlama-lama berdiri di
depan pintu kostan dgn secarik kertas agak lembab berisikan soal aljabar
tersebut.
“Takut ganggu waktu nya Mbak, katanya”. Tentu saja saya jawab
“Ga
apa-apa pak”, namun tentu saja sang bapak tak berlama-lama. Sejurus kemudian ia
pergi lantaran pesanan lainnya menunggu untuk diantarkan. Perlahan sesuatu yang
lembut menyentuh hati saya. Saya tersenyum sore itu, di depan pintu kostan,
menatap sang Bapak yang menutup pintu pagar.
“Yang tua saja mau belajar”, pikir
saya. Yang tua saja, yang tidak punya kesempatan saja, masih mau belajar, bagaimana
dengan kita yang muda, kita yang masih Allah berikan kesempatan. Kita yang diberikan kesempatan belajar aljabar (bahkan apa pun) yang mungkin di luar sana
ada yang ingin sekali bisa belajar namun tak ada kesempatan.
Bersyukur lah
kita-kita yang Allah berikan kesempatan. Bersyukurlah kita yang Allah berikan
kesempatan untuk belajar. Berbahagialah kita yang Allah berikan kesempatan untuk belajar.
Bersyukur dan berbahagialah. Semangat belajar.
