Senin, 19 Januari 2015

Bersyukur dan berbahagialah

     Disuatu siang menjelang sore, di hari yang seharian hujan di kota hujan, seorang Bapak-bapak penjual air minum isi ulang mengantarkan air minum isi ulang ke kostan. Selepas uang kembalian ia berikan, ia menyodorkan selembar kertas berisikan angka-angka soal. Soal aljabar ternyata. Ia bertanya, cara menyelesaikan soal ini bagaimana, bagaimana dengan jawaban yang ia kerjakan, benar atau tidak? Pelan-pelan saya jawab pertanyaannya. Singkat sekali sesi tanya-jawab kali itu. Beliau seperti tak enak hati jika berlama-lama berdiri di depan pintu kostan dgn secarik kertas agak lembab berisikan soal aljabar tersebut.
   “Takut ganggu waktu nya Mbak, katanya”. Tentu saja saya jawab 
  “Ga apa-apa pak”, namun tentu saja sang bapak tak berlama-lama. Sejurus kemudian ia pergi lantaran pesanan lainnya menunggu untuk diantarkan. Perlahan sesuatu yang lembut menyentuh hati saya. Saya tersenyum sore itu, di depan pintu kostan, menatap sang Bapak yang menutup pintu pagar. 
  “Yang tua saja mau belajar”, pikir saya. Yang tua saja, yang tidak punya kesempatan saja, masih mau belajar, bagaimana dengan kita yang muda, kita yang masih Allah berikan kesempatan. Kita yang diberikan kesempatan belajar aljabar (bahkan apa pun) yang mungkin di luar sana ada yang ingin sekali bisa belajar namun tak ada kesempatan.  

Bersyukur lah kita-kita yang Allah berikan kesempatan. Bersyukurlah kita yang Allah berikan kesempatan untuk belajar. Berbahagialah kita yang Allah berikan kesempatan untuk belajar.

Bersyukur dan berbahagialah. Semangat belajar.