Rabu, 28 Mei 2014

Mei Akhir

Selamat malam duhai Mei akhir ^^

Ini Mei, dan dibulan ini selalu ada banyak hal terjadi. Seperti di tahun ini. Seminar penelitian, Farewell Party SIL 47 IPB, kelahiran S.T. pertama SIL 47 IPB, serta kebut-kebutan akibat kebat-kabit ngeliat Sista Helena udah jadi S.T. 

*ini foto habis seminar, ceritanya cuma mengundang 2 orang ini, trus habis itu gue diprotes sma temen-temen yg laen "kenapa ga ngundang gue" alhasil cuma bisa nyengir :D *

 * sista Helana Novitas Sari Lasol, S.T. >0< *

Huhuhu banget deh rasanya ngeliat temen sendiri (satu kelas, belajar bareng, ujian bareng, ngakak bareng, dll bareng-bareng) udah duluan nyandang gelar S.T... Sontak aja "gue ngebet pengen juga" :3

Malam ini bukan mau nge-cerudik mengenai keinginan yang udah muncak ke ubun-ubun tentang gelar S.T. Bukan!! ini hanya sekedar tulisan yang ditulis dari buah pikiran yang terbentuk begitu saja dari proses pergaulan sehari-hari. Belibet ya gue, iya sih sedikit hehehe

Nulis apa sih? 

Ehmm,,, dimulai dari mana ya? Seperti biasa, dari yg diinget aja ya *nyengir

Udah sering denger kata-kata "Dont Judge from the cover" *eh punten kalo tulisan bhs inggris nya salah, maklumin saya yang sangat cinta bahasa ibu kita :p *

Oke balik lagi ke "dont judge from the cover" ya. 

*terdiam lama, bingung mau mulai cerita dari mana -____- *

Intinya adalah semenjak kuliah gue menemukan banyak hal tentang "kita ga bisa menilai orang lain hanya dari luarnya aja"

Contoh gampang nih ya, dulu gue selalu berpikiran bahwa orang-orang yang ngerokok, nongkrong di warkop, rambut panjang, serta kelakuan bla-bla lainnya adalah sekumpulan orang-orang minus. Tapi pemikiran gue salah. Ga semua loh dari mereka itu minus. Gue saksi nyatanya, karena temen gue begitu. Iya, gue punya banyak temen yang model begitu. Temen yang ngerokok dua bungkus sehari, hampir tiap malem nongkrong di warkop, pergi kuliah ga mandi, rambut gondrong acak adul (ini dulu waktu kampus belom ngelarang rambut gondrong). Dari mana gue dapet temen model begini? Yang begini mah banyak dikelas gue, ya maklum bro kelas "teknik" *nyengir*

Dulu gue mikirnya, orang-orang model gini tuh "ga niat kuliah", "berandal", "playboy", "ga punya semangat juang", minus deh pokoknya. Ini pikiran gue yang kejam, iya gue udah sadar kalo itu pikiran kejam banget :(

Eh tenyata, itu ndak bener loh. Buktinya, orang-orang yang berprestasi di kelas justru berasal dari kaum-kaum mereka ini. Justru yang pinter-pinter, jago teknik, dan aktif itu berasal dari kaum-kaum ini. 

Dan satu hal lagi yang bikin pikiran gue berubah 100% tentang kaum-kaum ini, "solid, kepedulian, dan tanggung jawab" kaum-kaum ini bener-bener super. 

Kebetulan gue salah satu yang beruntung dapat menyaksikan bagaimana kaum-kaum ini berinteraksi satu sama lainnya. Terutama (yg bikin gue kagum) adalah saat mereka berinteraksi dalam menyelesaikan masalah. Pola pikir, pola bertindak yang bikin gue salut. 

"Temen gue ada beban, berarti itu beban gue juga". 

"Temen gue ada masalah, berarti itu masalah gue juga."

 dan salutnya, "masalah temen gue bukan berarti gue selalu membenarkan setiap tindak tanduknya dalam menyelesaikan masalah, tapi masalah temen gue harus gue cermati untuk mendewasakan temen gue".

 Kemudian mereka bertindak "tidak hanya untuk melindungi, tapi juga mendewasakan". 

Bukan cuma ini loh, dari pengalaman beruntung menyaksikan interaksi kaum-kaum ini, gue menemukan bagaimana ketegasan seorang laki-laki. Gue salut aja saat temen gue bilang "Gue ini cowok, gue harus tanggung jawab sama pilihan gue". Ini kalimat yg dia keluarkan bukan dalam keadaan santai-santai, tapi dalam keadaan penuh tekanan dimana-mana (satu hal, gue percaya bahwa ketika tertekan setiap orang cenderung menunjukkan sisi terjujur dari dirinya sendiri). 

Tambah salut lagi saat temen gue yang lainnya lagi bilang "Kita harus ngajarin dia buat dewasa, itu lah guna nya kita sebagai saudara." Saat menyaksikan perbincangan penuh tekanan ini gue cuma diem sambil meratiin wajah mereka satu-persatu. Orang-orang yang peduli, dewasa dan mendewasakan, tegas, serta penuh tanggung jawab. Gue salut.

Kalau diatas adalah cerita yang rinci, maka dibawah ini cerita yang ga rinci (maklum ini cerita kebalikannya, jadi ga bisa dijabarin dgn luwes :D )

Gue menemukan lagi bahwa "tampak luar ga selalu sama dengan tampak dalam". 

Ada orang yang dari luar terlihat "nginjek semut pun ga mati" tapi dalem nya punya hati yang tega banget. Ada juga yang tutur katanya selalu manis, terlihat sangat baik dan peduli, terlihat hangat dan penyayang tapi di belakangnya ada hal-hal yang bikin orang lain harus ngelus dada banyak-banyak. Ngelus dada sambil di dalam hati berdoa "semoga Allah menjauhkan dari sifat yang begini".

Keras diluar tidak selalu berarti keras didalam apalagi kejam di dalam. Tidak selalu!! (statement ini bukan buat pembelaan diri saya yang berwatak keras ya :D )

Tapi nyatanya memang begitu. Ada orang yang terlihat jutek, terlihat tempramen, mukanya nyebelin, terlihat keras kepala, hatinya terlihat keras, kalo nonton film sedih bukannya nangis tapi malah ngetawain orang lain, terlihat "ndak pake kompromi", tapi nyatanya "hatinya ndak tegaan". Ada loh yg begitu, banyak malah.

Entah kenapa gue nulis begini, mungkin karena dibalik ke-salut-an yang muncul dari kaum-kaum temen gue diatas, ada juga kekecewaan yang gue rasakan dari beberapa lainnya. Kekecewaan yang bikin gue bertanya-tanya "Kenapa?"

"Kenapa?" yang bikin gue ngelus dada banyak-banyak sembari menjauhkan hati gue dari orang ini. Seperti biasanya seorang Dian, "Ga peka", tapi jika peka nya ini dibangkitkan oleh sebuah insiden maka insiden ini akan selalu menjadi warning di dalam hati. Warning yang bikin gue menyimpan pikiran "cukup tau". 

Cukup tau itu menyimpan banyak arti kalau buat gue. Itu seperti gambaran sebuah kekecewaan yang sebaiknya tak perlu ditunjukkan, apa lagi dipemasalahkan, tapi selanjutnya ada semacam warning yang membuat gue tak lagi sama. Setidaknya hati gue tak lagi sama. Tentu saja tak perlu dipermasalahkan, karena gue ga berhak mempermasalahkan apapun (setidaknya menurut gue diam adalah hal yang jauh jauh sangat baik dari bertindak semodel apapun)

***

Kita ga bisa selalu disukai oleh setiap orang. Ga mungkin. Saat salah, saat kita menyadarinya, kemudian saat kita menyesal dan meminta maaf, selalu ada orang yang tidak bisa menerima itu. Orang yang tidak menerima, apa dia salah? Ngga. Menurut gue dia ga salah. Karena itu hak dia. Tapi yang salah adalah ketika tidak menerima kemudian melakukan hal yang "tega". Itu salah.

Duduk manis memperhatikan sekeliling ternyata itu menyenangkan. Duduk manis sembari memperhatikan, kemudian menemukan, menganalisa dan belajar,  itu menyenangkan.

Dan sekali lagi, gue suka sama "tidak peka-nya saya". Kadang-kadang itu ngerepotin sih, karena banyak orang yang suka salah sangka sama gue. Tapi "ga peka" itu bikin gue ga punya pikiran buruk ke orang lain. 

Jadi ceritanya temen gue agak protes karena gue nulis di kertas "kritik dan saran" nya dia ga ada yang buruk-buruk. Baik semua yang gue tulis. Gue cuma nyengir sambil dengan jujur bilang "habisnya gue ga nemuin yang jelek sih". Yap itu jujur, "ga peka" nya gue ngebuat gue cuma bisa ngeliat sisi baiknya aja. Gue ga se-peka itu sama orang lain sampe bisa menemukan keburukan orang lain. Kecuali, jika orang tersebut "nyentil" gue. Nyentil yang bikin "Ga peka" nya gue berubah jadi peka, Waahh kalo sudah begini mah "cukup tau" nya gue bisa keluar nih :p

Tapi tenang pemirsa, kelakuan yang bikin "ga peka jadi peka" ini cuma sedikit kok, karena tetap aja pada dasarnya gue "ga peka" jadi ya "ga peka" heuhuhu

Saya ini orangnya ga baik, karena itu saya takut untuk bilang orang lain ga baik. Jika saya merasa terganggu dengan orang lain, dari pada protes, saya lebih memilih menyimpannya dihati saya sendiri sembari memikirkan ulang "apa benar orang lain berbuat salah sama saya tanpa sebab, jangan-jangan saya yang salah sama dia". Ini pikiran yang merepotkan memang, karena sedikit banyaknya saya sering menyalahkan diri saya sendiri. Tapi saya cukup bahagia dengan punya pola berpikir begini, karena dengan begini perlahan-lahan hati saya belajar buat ikhlas dan insya Allah mengasah kehalusannya,hehehe,,

Kalau dipikir-pikir dan diingat-ingat "bagaimana saya dulu (diawal masuk SMA), dan bagaimana saya sekarang" gue rada takjub loh. *Temen SMA gue pasti ngerti deh, karena mereka adalah korban-korban betapa nyebelinnya seorang dian huahahaha*


Tapi kalo soal nyebelin, sampe sekarang juga masih nyebelin sih :p

Udah ah, capek :p




Jumat, 09 Mei 2014

Kali ini dan kali kemarin, persis begini
pun sama seperti tahun sebelum ini, masih begini.
datang kemudian hilang. hilang kemudian datang
berulang-ulang menimbulkan tanya, dan berulang-ulang menimbulkan buah pikiran
datang kemudian hilang, dan hilang kemudian datang.
diluar sana semua membisik, entah nada nasehat atau malah nada menyesat. entahlah, antara nasehat dan menyesat, aku tak jelas rupa untukmu layak yg mana.

tapi di suatu sore, aku berpikir berulang-ulang
pun hingga malam menjelang, aku memutuskan tidur lebih cepat. bukan karena mengantuk, namun tak tahan lantaran hati berisik sesorean suntuk. Sejak sore hingga malam, aku berharap suara handphone ku akan berisik, namun nyatanya hati ku yg malah berisik.

aku hanya ingin bertanya, tidak bermaksud menghakimi, tak pula bermaksud menekan. Aku ingin bertanya, agar tak lagi penasaran, agar tak lagi banyak sangkaan, bahkan agar tak lagi patah dan tumbuh dengan pengulangan.

Aku hanya ingin tau, aku benar hanya ingin tau.

Ah, apa yg ku pikirkan? sedang apa aku ini? Aku berhenti sejenak

kemudian, aku kembali mengulangi, berpikir dengan penasaran.

lalu aku kembali bertanya "apa yg ku lakukan? sedang apa aku ini?"

kemudian skenario mengulang.

hingga lelah rasanya.


"ah sudah biasa, aku tak heran lagi padanya"

iya benar, "sudah biasa, aku tak heran lagi padamu"

iya, aku tak heran lagi padamu. 

Sabtu, 03 Mei 2014

1. ampunan Allah itu luas hati manusia saja seringkali sempit | tiap jiwa tentu pernah bersalah karena itu ada jalan bertaubat

2. sesali dosa itu baik namun putus asa itu dosa lebih besar | waktu tidak dapat diputar balik maka bijak bila kita mau belajar

3. tenggelam dalam penyesalan itu meniadakan masa depan | selama kita masih hidup itu artinya Allah punya rencana

4. setiap manusia punya aib yang mereka ingin kubur rapat | karena kita manusia itu memang tempatnya salah dan lupa

5. mampu mengaku salah itu sudah bagian kebaikan pula | sesuatu yang harus dihargai karena itu perlukan keberanian

6. seandainya bukan karena rahmat Allah pada hamba-Nya | tentu kita semua tiada layak mendapat ridha dan surga-Nya

7. namun Allah itu Maha Penyayang kepada hamba-Nya | begitulah Nabi saw kabarkan lewat satu hadits qudsi

8. "Wahai anak Adam! sungguh selama engkau berdoa dan berharap pada-Ku, Aku berikan ampunan padamu atas dosa-dosamu dan Aku tak peduli"

9. "Wahai anak Adam! andai dosa-dosamu sampai ke langit lalu engkau memohon ampunan pada-Ku, maka pasti Aku berikan ampunan kepadamu"

10. "Wahai anak Adam! jika engkau datang pada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku.."

11.".., tapi engkau tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, maka Aku akan datang padamu membawa ampunan sepenuh bumi!" (HR Tirmidzi)

12. masyaAllah, tak ada yang salah bila hendak meminta ampunan | Allah sungguh Maha Penyayang pada hamba-hamba-Nya yang sadar

13. karena kesucian itu tergantung dari berapa banyak kita membersihkan diri | bertaubat dengan berhenti, menyesali, dan tak mengulangi

14. lirihkan istighfar, kuatkan niat kebaikan, dan melangkahlah kaji Islam | maka semua hidup kita serahkan hanya bagi Allah semata

15. bagi engkau yang berjiwa mulia walau pernah bersalah | bila Allah saja menerima maaf darimu maka siapakah aku?

16. tunduk malu diri kita pada Allah dikarenakan maksiat | mungkin jadi jalan ampunan dan kasih sayang dari Allah

17. diantara yang berdosa dan pernah membuat kesalahan | yang paling baik yang bertaubat lalu menutupinya dengan selaksa kebaikan

18. menangislah pada Allah saja dan tersenyumlah pada manusia | keluhkan kesahmu pada Allah tapi kuatlah di hadapan manusia

ust.felix

Kamis, 01 Mei 2014

Ini Galau

Galau. Galau itu ada bnayak contohnya juga ada banyak penyebabnya. Jadi ceritanya, udah beberapa hari belakangan gue galau. Galau banget, sampe kepala nyut-nyutan, sampe gue harus guling-guling lalu kemudian jongkok dipojokan sambil menghadap tembok (tolong jgn dibayangkan ilustrasi yg satu ini)

Alasan galaunya? Apa ya? Ini semacam fenomena yg aneh. Pernah ga lo ngerasain situasi seperti berikut ini: Lo merasa bahwa lo telah melakukan kesalahan. Menilik dari apa yg lo rasakan dan dapatkan saat itu, lo merasa bahwa ada hal yg salah yang telah lo lakuin. Tapi, parahnya, lo ga tau salah lo dimana. Pokoknya salah aja, ga tau salahnya apa, dimana, bagian yang mana? Saat lo nanyain ke orang lain pun “salah gue apa?” orang lain Cuma berkata “lo kayaknya ga salah, tapi sepertinya salah”. Makin abstrak kan? Makin lah bikin lo galau dan nyut-nyutan.

Yap, jadi ceritanya, kondisi tersebut diatas udah gue alami lebih dari 2 minggu. Kepala gue nyut-nyutan tiap kali teringat pada keganjilan yang disebabkan kesalahan gue. (Hahaha, baiklah cara gue menyampaikan emng sengaja dilebay-lebay-in, biar (sok) asik fufufufu..) jadi sebenernya yg dari tdi gue bicarain adalah tentang 5000 kata gue. Bahan skripsian gue, hasil perhitungan gue, 80% aneh. Aneh banget. Dan gue 50% yakin gue salah hitung. 50% nya lagi gue yakin kalo gue ga salah hitung (nah loh, ini maksudnya apa -_-). Yah, pokoknya begitu lah. Alhasil, gue nanyain ke orang yg paham dong, yakni dosen gue. Tapi apa mau dikata, beliau pun bingung ngeliat excel gue. Dari yg beliau cek, komentar beliau “Hitungannya dian ga salah, tapi kenapa begini ya”. Nah loh lagi, beliau jg bingung. Kemudian gue menarik nafas panjang.

Hari-hari berikutnya sampe malam ini, gue masih galau gara-gara ini. Galau gara-gara “gue yakin kalo gue salah, tapi gue ga tau salahnya gue tu dimana”. Gue udah melototin hitungan gue, bahan rujukan, bahan penelitian, bahkan melototin video suju (eh ini ga masuk hitungan ya, haha), tapi hasilnya masih nihil. Ini bener-bener dilematis. 

Tapiii,, saat tulisan ini dibuat, galaunya gue udah berkurang, hohoho.. jadi ceritanya setelah capek melotot, gue menemukan salahnya gue dimana. Alhamdulillah, bahagia banget pas ketemu salahnya gue dimana. 

Karena skripsian yg bikin galau ini , malam ini gue menemukan sesuatu, bahwa “menemukan kesalahan sendiri kemudian memperbaikinya adalah hal yg menyenangkan” huahaha *ceritanyasedangbahagia*

Ah ya, sebenarnya ada hal lain yg bikin galau. Pemirsa dimana pun anda berada, pernahkah pemirsa merasa galau lantaran pengen ngomong sesuatu sama orng lain tapi ga bisa ngomongin itu ke orang nya. Aaahh pasti banyak yg begitu.. biasanya sih orng-orang yg CDH tu yg sering begitu..
Hal yg berbeda sih sama gue. Gue galau bukan karena mau bilang “saranghaeyo” tapi ga berani bilang. Bukan karena itu penyebab galaunya. 

Entah sejak kapan, gue juga ga tau, tiba-tiba gue jadi peduli sama orang asing. Iya, dia orang asing. Bukan teman sekontrakan, bukan teman SMA, bukan juga teman sekelas di kampus. Ketemu bahkan “say hai” pun Cuma sebulan sekali, tapi ntah bagaimana dan sejak kapan, gue jadi peduli sama orang ini.

jadi ceritanya, gue menangkap bahwa orng ini sedang gundah gulana (tau nya juga bukan dri dia  yg cerita, tpi ya tau aja). Pas tau dia lagi gundah gulana, gue seketika galau. Gue ngersa aneh karena gundahnya dia itu sebenarnya ga ngaruh apa-apa ke gue. Ga ngerugiin, ga jg nguntungin, ga ada hubungannya deh. Tapi ntah bagaimana, begitu aja gue galau.

Ntah bagaimana, gue pengen nanyain dia “Kenapa, apa kau baik saja, apa masalahmu?”, kemudian gue pengen bilang “Tenanglah, semua akan baik saja, semangat ya”. Gue pengen bilang semua itu, gue pengen bikin dia merasa nyaman, gue pengen ngilangin tekukan di kedua alisnya, gue pengen ngurangin sesak di dada yg bikin kepalanya pusing, bahkan gue pengen dia semangat lagi, nguatin tekad dan semangatnya yg kemudian akan nguatin kaki dia buat melangkah lagi (so sweet banget kan gue). Yah, ini jujur, gue pengen ngelakuin itu. Tapi gue ga bisa. Bahkan utk sekedar bilang “semangaattt” pun gue ga bisa. Sekedar untuk nanyain “Apa kamu baik saja?” pun gue ga berani. Kenapa ga bisa ya? Bisa aja sih sebenernya, tinggal ketik sms trus kirim. Tapii, tetep aja ga bisa. Ga bisa, padahal pengen, ini lah yg bikin galau.

Aaahhhhh... gue jg ga ngerti kenapa gue begini. Pdahalah biasanya jg gampang-gampang aja kalo emng mau nyemangatin teman sendiri. Biasanya lagi sih, gue lebih sering cuek sama orang lain, haha. Tapi orang yang satu ini, tiba-tiba saja gue menyadari bahwa gue peduli sama dia. Saat dia berhasil, seketika aja, dgn sangat ikhlas, gue ikutan seneng, padahal dia berhasil atau ngga ga ada efeknya ke gue. Tapi saat dia seneng, seketika gue jg ikutan seneng, begitu juga sebaliknya. Ini benar-benar aneh. Pasalnya, dia orng asing. Belum sampai setahun gue kenal (lagi) sama dia. bahkan dalam setahun ini, kami hanya bertemu dan bicara sebulan sekali, bahkan kadang 2 bulan sekali, 3 bulan sekali. Yah begitulah. Aneh emang. Eh bukannya yg bikin tambah aneh adalah kenapa lo harus ceritain itu disini ya yan? Ah ya sudahlah, biarkan saja, blog sendiri ini hahaha

Tapi gue berharap, gundah nya orang tersebut segera menghilang, segera semangat lagi, dan ga lagi berpikir tentang hal weird yg bernama “mengeluh dan putus asa” :D

Begitulah cerita galau kali ini. sekian.

Oya, sejak 30 April temen-temen SIL udah pada mulai seminar. Gue dan temen satu bimbingan lainnya kebagian jatah tgl 14 Mei. Yang bikin sedih adalah, ini bukan seminar hasil, tpi Cuma progress. Target molor ceritanya pemirsah :(