Minggu, 23 Maret 2014

Catatan 5000 kata (2)

Gue lagi pusing, pusing aja (kayak yg gue bilang kemaren), tapi satu hal yg gue syukuri adalah “gue ga pusing sendirian”. Gue pusing berdua, sama Faiz, temen satu bimbingan dengan tema skripsi yg 80% mirip. 

Ini sesuatu yg gue syukuri. Gue membayangkan, seandainya gue ngejalanin ini sendirian, mungkin gue ga sanggup. Bolak-balik Jakarta sendirian, ketemu orang-orang baru sendirian, ngolah data sendirian, main-in software sendirian, nyari literatur sendirian, pusing sendirian, dsb. Jika situasinya begini, sendirian, gue yakin gue ga akan jalan. Setidaknya, ketika gue kebingungan dan ga menemukan titik cerah dari sekelumit gelap, gue yakin ketika gue sendirian, waktu yg gue butuhkan untuk kembali berjalan setelah berhenti akan lebih lama dari pada ketika gue punya partner. Bersyukur punya partner, karena setidaknya, ada sebentuk perasaan ga enak ketika kita berlaku menghambat kelancaran partner kita. Otomatis, disana ada sedikit usaha untuk lebih maju dari hari-kehari. Bersyukur punya partner.

Sebenarnya, dari awal, seperti yg gue pernah bilang, tema skripsi yang gue ambil seperti sebuah langkah sok-sok-an. Ada beberapa temen gue yang berpikir “Skripsi mah yang gampang aja yan, yang penting cepet kelar”. Ya, itu benar, tidak salah sama sekali. Tapi jika gue harus ngikutin kata hati gue, maka jawaban gue adalah tidak. Niat gue dari awal, bukan pengen sok-sok-an punya tema skripsi yg riweh (emang ini riweh yan? Haha), tapi gue memandang skripsi adalah ajang besar untuk belajar. Ini ajang besar yang sayang untuk dilewatkan. Di skripsi, secara bertanggung jawab, dosen pembimbing lo akan berusaha semampunya untuk ngebimbing lo, untuk ngajarin lo. Artinya, ngebuat lo dari ga tau jadi tau. Artinya lagi, ini ladang besar untuk belajar apa yg lo pengenin. Makanya, gue sok-sok-an aja pengen jembatan walaupun di SIL ga pernah belajar jembatan secara khusus. Tapi, justru yg tadi gue bilang, ini ladang besar untuk belajar. Justru karena di kelas ga pernah belajar, maka ini adalah kesempatan untuk belajar, dan ditambah lagi ada yg mau ngajarin. Pas banget kan?

Awalnya gue Cuma pengen stuktur atas, yang artinya mekanika teknik yang diperdalam disitu. Namun, jalannya ternyata berubah. Dari struktur atas, gue diarahin kestruktur bawah. Struktur bawah, itu artinya yang berperan bukan Cuma mekanika teknik tapi juga geoteknik alias tanah. Situasi semakin panas ketika jembatan yang disarankan adalah yang melalui sungai. Itu artinya, selain cakupan struktur, cakupan yang harus difokuskan juga meliputi air.

Anggapan-anggapan saat beberapa rekan tau tentang cakupan skripsi kita jadi beragam. Ada yg “oww air juga? Semangat yan” atau bahkan ada yang “Lu maruk amat sih yan, udah struktur di embat, air juga di embat. Kalo struktur ya struktur ga usah ribet-ribet mau air juga”. Lelucon setiap orang mah memang beda-beda kan ya. Apapun itu, gue sih ketawa aja tanpa pernah mau berpikir negatif, karena gue tau mereka ga bermaksud negatif.

Kalo dipikir-pikir, celetukan temen gue ada bener nya juga. Jika dipikir-pikir, air yang jadi bahasan di skripsi gue sebenernya itu bisa jadi satu buah skripsi. Tapi, entah bagaimana, saat dosen gue mengatakan keinginan beliau memasukkan air kedalam skripsi gue, gue malah senyum kegirangan. Gue saat itu sadar sih, ini bakalan riweh. Sebenernya saat itu gue juga sempet ngerasa males sih “yah, dimasukin air deh”. Gue sempet mikir gitu, tapi setelah pertemuan berikutnya sama Beliau, gue jadi malah senyum-senyum semangat.

Lantas kenapa gue sempet mengalami "pusing aja" ya? Ah bukan apa-apa. Ini pusing bukan dalam artian putus asa. Ini pusing, pusing aja. Gue pusing harus mulai dari mana. Di otak gue, ada banyak hal yang berebutan. Di otak gue terekam banyak jadwal dengan faktor kepentingan yang sama dan memakan waktu yang banyak yang harus dituntaskan, sementara itu otak gue juga menyadari bahwa waktu gue tinggal sebulan lagi. Karena itu lah gue pusing aja. 

Ada banyak hal yang harus gue mulai. Mulai pelajari, pahami, kerjakan, kemudian kuasai. Ada banyak, dan mereka bukan hal yg gampang. Tapi bukan berarti ga bisa kan? Hanya perlu usaha lebih banyak lagi. Iya itu jawabannya.

Dan kembali gue bersyukur punya partner. Setidaknya, saat gue berada pada posisi bingung yang berujung pada "pusing aja", gue punya sejenis alarm yang mengingatkan bahwa pusing tanpa bertindak adalah sama dengan memperburuk keadaan. Mau pusing aja kek, mau pusing banget kek, ya tetep, kalo Cuma guling-guling di kasur, pusingnya ga akan ilang, tapi malah bertambah akut. Dan hati-hati loh, jangan sampai skenario "lupa ingatan" harus dilaksanakan.

Begitulah cerita pusing aja yang pertama ini. Bagaimana pun, skripsi ya begini. Harus pusing. Kalo ga pusing mah ga seru ya, hehe...

Semangat semangat.. 

*gue inget sebuah tulisan yang sempat gue baca. Tulisan itu kurang lebih ingin menyampaikan “Lihat usaha mu, kemudian tanyakan pada dirimu, jika seandainya kamu adalah 'pihak yang memilih' apa kah kamu akan memilih orang seperti dirimu?”*


 Oya, ngomong-ngomong, tanggal 21 tadi, Suju-M ngeluarin mini album ke tiga mereka, khekkhekhe... Gue kembali menemukan, bahwa bahagia itu sederhana, misalnya ketika oppadeul ngeluarin MV dengan gaya baru mereka. Gue paling suka saat mereka bertingkah "cowok banget", dengan gaya rambut yang memamerkan jidatnya, saat itu mereka terlihat jauh lebih tampan dari pada rambut di-poni-in, khekhekhe... *kalo gaya rambut Wig beterbangannya Hae yan? ya berhubung dia adalah suami saya, maka saya akan tetap suka, haha*
Ahhhh,, Oppadeul aku selalu padamu >0<

Sabtu, 22 Maret 2014

Catatn 5000 Kata (1)

Gue lagi pusing.
Pusing aja, ga pake banget. Tapi takutnya, kedepan, gue khawatir ini akan berkembang menjadi pusing banget. Dan ditakutkan lagi, dari pusing banget ini akan berlanjut pada pusing banget plus mual-mual, yang kemudian akan berakhir pada "lupa ingatan".

maksudnya begini,  dulu gue sering becandain temen gue yg lagi ngerjain TA, dengan sebuah lelucon tentang "lupa ingatan". Skenarionya begini:
si A   : bla-bla *lagi ngobrol seru*
Dian : bla-bla *menimpali dengan seru*
si A   : *tiba-tiba merubah topik pembicaraan* eh, gimana skripsi lo? udah sampe mana?
Dian  : Skripsi? *diam sejenak* Arggghhh *mengerang sambil memegang kepala*
si A   : *mulai panik* eh, kenapa lo?
Dian  : *tiba-tiba kembali diam, kemudian....* Kamu siapa?
Si A   : *bingung*
Dian   : Kamu siapa? ini dimana? aku siapa? *lupa ingatan*
si A    : oke-oke, tenang yan, minum-minum dulu, tarik nafas bla-bla bla
*beberapa menit kemudian, si A memulai pembicraan lain, dan si dian kembali normal, ketawa-ketawa seperti biasa*
Jadi ceritanya, gue menyarankan temen gue untuk pura-pura lupa ingatan mendadak saat ada yg menyinggung soal skrips. Itu skenario terbaik yg gue rancang!!

Tapi, yg model begini, ini akut, dan berbahaya utk diterapkan. karena ini tingkatannya udah bener-bener "putus asa banget".

Oke, sekrang gue masih dalam tahap pusing aja. ditambah galau juga. Bukan, bukan. ini galaunya berkualitas. Gue galau karena ini udah minggu terakhir dibulan Maret, dengan April udah didepan mata, dan Mei adalah target seminar dan sidang. Alhasil, galau lah gue. Sekian.

Aigooo,, i can't help myself :(

Kamis, 06 Maret 2014

Tere Liye (4)

Cewek itu yang dibuat cantik, imut, manja bukan hanya wajah, badan, melainkan kemandirian, cara berpikir, akhlak, serta bisa menjaga kehormatan. Maka, ayo sekolah yang tinggi, berpendidikan, punya hobi dan aktivitas bermanfaat bagi sekitar. Bukan hanya sudah merepotkan orang tua, sekolah malas, nganggur, lantas kemudian bergaya sok imut menggemaskan, dengan suara/tulisan dimanja2kan menggoda, keluyuran kemana2, tapi sisanya kosong. 


*Semoga bisa jadi cewek yg beneran imut, >0<