Dua kumandang azan terdengar jelas diantara dinding-dinding beton kompleks kita. Kita yang tak berarti benar adalah kita. Dua kumandang azan bersahut-sahutan. Tak beradu siapa yang paling cepat, tak beradu siapa yang paling lantang. Ia hanya menyampaikan ajakan dengan sentuhan kemerduan yang berharap mampu mengelus kita yang masih saja bergelut dengan pikirnya setengah harian.
Dua kumandang azan berakhir hampir serentak. Sepi dan sayup. Hanya putaran kipas angin yang menerbangkan satu dua potong kertas sekarang. Pelan-pelan suara televisi terdengar dari dapur belakang. Berbunyi sendiri, tanpa ada yang menonton. Selebihnya, sunyi sayup.
Diluar panas. Kota hujan yang tak lagi pantas menyandang gelarnya. Ia tak pantas karena ia panas, SEKARANG. Kompleks yang panas dan banyak nyamuk! Meski teknologi buah pikir otak telah di terapkan, masih saja banyak nyamuk! Sesekali ku lirik handphone yang tergeletak di meja. Ia menghitam, tak bersuara. Ia mati suri lantaran kehabisan pasokan energi hidup. Ia menambah sepi.
13 Oktober yang berarti keesokan hari 14 Oktober. Oktober yang menjadi garang. Akhiran -ber yang tak lagi bermakna BRRRR. Akhiran -ber yang bertanda revolusi bumi hampir melunasi satu putarannya. Akhiran -ber yang memaksa bertanya "ber- apa yang telah kau sandang?".
Kompleks masih saja sepi, hanya saja suara perut ikut berbunyi sekarang. Kreok-kreok, ia membunyikan alarm alaminya. Sang pemilik masih saja sunyi sayu di tatapannya. Menatap lurus 20 meter sepanjang jalan yang berakhir pada belokan kiri. Tak ada apapun disana, hanya sederet rumah dan mobil-mobil pemiliknya. Mobil, seperti impiannya pada seseorang dulu. Rumah seperti percakapannya dengan seseorang dulu, percakapan terakhir rupanya. Mobil dan rumah yang menjadi hayal tak kesampaiannya dulu. Ternyata, ia masih manusia biasa, lumrah dan sederhana.
Boleh saja pandangan hanya melayang sejauh 20 meter, tapi pikirnya terbang bebas di ketinggian. Berkelana ke banyak tempat. Tempat kenangannya, tempat impiannya, tempat mau dan ingin-nya. Berkelana jauh namun hampir tak ingin pulang. Sang pemilik perut kehilangan pikirnya.
Kompleks masih saja sepi.
Senin, 13 Oktober 2014
Selasa, 07 Oktober 2014
Tempat Berlabuh Terbaik.
Niat memang memegang kunci pada hasil dari suatu tujuan. Niat baik atau niat buruk, hasilnya berimbang sesuai niatan. Niat baik akan berakhir baik, insya Allah. Begitu juga sebaliknya. Baik yang dimaksud tentu saja tidak selalu baik menurut kehendak kita. Tidak selalu, tapi ia berbentuk "baik" menurut yang Maha Bijaksana, jadi tentu saja itu "baik".
Galau adalah pertanda hati yang risau dalam mencari. Galau berarti hati mu sedang risau mencari tempat berlabuh. Galau berarti hatimu merindukan tempat berlabuh. Apakah tempat berlabuh yang lebih baik dari pada yang Maha Penyayang? Adakah yang lebih baik untuk berlabuh selain Dia yang Maha Penyayang? Tentu saja tak ada. Maka galau berarti hati mu sedang rindu pada Dia yang Maha Penyayang. Hati mu sedang risau akibat rindu pada tempat berlabuh terbaik, yakni Dia yang Maha Penyayang.
Niat yang baik, kemudian hati yang meng-galau, begitu saja meng-galau seiring proses perjalanan mewujudkan niat baik tersebut, pertanda apa kah ini? Apakah ini pertanda niat baik mu bukan lah niat yang baik? tentu saja tidak, keraguan itu datang seiring dengan setan yang rajin berbisik di kedua telingamu, merayu-rayu segumpal daging bernama hati milikmu yang terkadang lemah, menghembus bujuk-bujuk di otak mu yang terkadang hilang fokus. Itu lah asal muasal ragu yang berujung pada galau. Ada yang salah dengan niat baik awal yang kau niatkan? Tak ada. Sama sekali tak ada.
Maka, galau ini kembalikan lah ia pada definisi awalnya, "hati yang sedang mencari tempat berlabuh terbaik". Kembalilah lagi pada Dia yang Maha Baik.
Sebaik apa dirimu saat bercerita pada temanmu? Sebaik apa dirimu dalam menyampaikan maksud dan tujuanmu pada orang lain? Maka lakukanlah sebaik itu juga pada Allah mu. Bukan, lakukan lebih baik. Allah maha tahu, tentu saja. Tanpa perlu kau katakan, Allah tau apa-apa yang tersembunyi di hatimu, apa-apa yang berkecamuk di setiap bagian otakmu. Allah tau, sangat tau dengan sangat jelas. Tapi, cobalah untuk tetap menyampaikan sebaik mungkin pada Allah. Meskipun Ia tau segala hal, cobalah untuk menyampaikan serinci-rincinya. Apa beban mu, apa yang membuat mu sedih, apa yang membuatmu senang, apa yang kau sesalkan, apa yang kau harapkan, apa yang sebenarnya telah terjadi, apa yang membuatmu risau, apa yang membuat hati mu merasa tidak mudah. Katakan semua pada-Nya. Sebaik kau bercerita pada sahabatmu, sebaik itu juga katakan padanya. Bahkan, lebih baik untuk bercerita lebih lengkap dari pada biasanya. Bukankah, Ia maha tahu, maka kau tak perlu malu. Bukan kah Ia penjaga rahasia terbaik, jadi tak perlu khawatir. Bukan kah Ia pemilik hidup dan mati mu, maka tak perlu sungkan untuk jujur pada-Nya. Ia Maha Mendengar dan Ia Maha Bijaksana, Ia selalu ada untuk mu, kapan pun dan dimana pun.
Maka jika kau galau, suatu ketika jika kau galau, dengan alasan apapun, terlebih lagi jika kau galau dalam proses "niat baik" mu, jangan ragu untuk curhat pada pemilik hidup dan matimu. Kembali lah pada tempat berlabuh terbaik.
Label:
path
Langganan:
Postingan
(
Atom
)