Selasa, 18 November 2014

Si-Pelit

"Aku sedang menunggu" katanya. Percakapan sore itu dimulai dengan pernyataannya yang menggantung, membuatku bingung. Menunggu apa dia, atau menunggu siapa? tak ada tanda-tanda manusia lainnya akan datang sekarang. Tempat ini terlalu privat untuk didatangi manusia lainnya. Pernyataannya menggantung, seperti biasa. 
"Pernyataannya menggantung", pikirku. Mulanya ku putuskan untuk menunggu saja kelanjutan kalimat itu.
 "Pasti ada kelanjutannya" pikirku. Namun lama aku menunggu, kalimat itu hanya sepotong saja. Sudah, sekian, itu saja. Aku menatap bagian wajah sampingnya, ku sunggingkan senyum kemudian. Dia selalu begitu, teman ku ini, dia selalu begitu. Sejak pertama kami bertemu hingga detik ini, ia selalu begitu. Sulit baginya untuk menyampaikan perasaannya, ia dipenuhi gengsi dan rasa tak-enak-an yang banyak. Ini saja, situasi ini saja, aku telah termasuk jajaran orang hebat (versi ku) sebab telah mampu membuatnya bercerita meski hanya sepenggal-penggal.

"Baiklah, jika situasinya sudah begini, aku harus menebak apa maksud pernyataan singkat nya ini" pikir ku. Sembari menatap wajah sampingnya, aku mencoba mengulas segala kejadian 3 bulan-an ini, kejadian 3 bulan-an yang terjadi pada hidupnya. Mengulas kembali takdir apa yang telah terjadi pada hidupnya. Ah takdir apa ini? tiba-tiba aku dihantui rasa amat tak mengenakkan, kening ku berkerut, cahaya mataku memudar. Takdir apa ini? Jantung ku berdetak lebih kencang sekarang. Sayu ku tatap dirinya. 
"Manusia macam apa teman-ku ini" pikirku. Ia terlihat seperti sebatang kayu yang mendingin sekarang. Di mataku, ia mendingin sekarang. Mungkin telah terlalu lama aku terdiam, dia menoleh dan menatap ku sekarang. Matanya sedetik kemudian menyipit, ia tersenyum.
 "Kau sudah makan?" katanya, bahasa nya riang.
 "Ah aku lapar sekali, bagaimana kalau kita ke warung sebelah" lanjutnya. Aku membeku. Bahasa riangnya, ini pertanda aku gagal sekarang. Aku gagal sebagai pendengar ceritanya. Maka aku membeku sekarang, di posisi ku, di kursi ku. Ia menatap ku heran sekarang. 
"Kau kenapa?" tanya nya. Aku masih terdiam. Mata ku lurus ke matanya.
"Apa hal buruk telah terjadi padamu?" ia masih bertanya. sejurus kemudian ia memelukku.
"Tak apa, semua akan baik saja" katanya. Dada ku sesak seketika mendengar kalimat tulus dari bibirnya. Bagaimana mungkin orang yang tak sedang dalam keadaan baik menasehati lainnya untuk menjadi baik. Bagaimana mungkin dengan ringannya ia berkata "Tak apa, semua akan baik saja". Dada ku bergemuruh, tubuh ku gemetaran, melemah di pelukannya. Bahasa tubuhnya menunjukkan ia terkaget dengan reaksiku.
"Tak apa, tak apa, jangan bersedih, Allah maha baik" ujarnya lembut. Hangat sekali, hangat sekali kalimat itu merasuki dadaku. Hanya beberapa detik kemudian lautan tangisan ku tumpahkan di dadanya. Lautan tangisan yang mewakili lautan kesedihan hatinya. Lautan kesedihan hatinya yang begitu pelit ia bagikan pada manusia lainnya. Lautan kesedihan yang ia nikmati sendiri tanpa berbagi pada manusia lainnya. "Pelitnya, pelitnya ia, ini pelit yang keterlaluan sekali" pikirku.

Percakapan macam apa sore ini? entahlah tak ada yang benar tau. Hanya saja, tubuh kurus ini, si pelit ini, ia menghawatirkan aku yang justru khawatir padanya. Matahari dikejauhan sana telah bersiap untuk kepulangannya. Pastilah sang matahari bahagia sekali sekarang. Ia akan segera pulang ke tempat ia seharusnya berpulang dimana ada segelintir orang yang menungggunya pulang. Tak lama lagi matahari akan pulang.

Kamis, 06 November 2014

Penghujung 2014

Umur tak ada yang tau. Siapa sih yang tau umur. Yang sehat wal-afiat saja satu detik kemudian bisa menginggal begitu saja. Siapa manuasia yang bisa nebak? Siapa manusia yang bisa nolak? Tak ada. Toh kita ini kepemilikan Allah, maka terserah Allah saja. Terserah Dia saja mau kapan, mau dimana, mau bagaimana. Terserah Allah saja.

Akhir 2014. Penghujung 2014, kami banyak kehilangan. Bahkan penghujung 2014 belum berakhir, keluarga besar kami kehilangan banyak hal. Beruntut, bertubi-tubi. Belum 40 hari Ibu meninggal, Bibi menyusul. Belum 40 hari Bibi meninggal, Mbah menyusul. Bahkan 2014 belum berakhir, kami telah banyak kehilangan.

Ah tak tau apa yang harus kukatakan. Sejak 6 September pun ada banyak hal yang tak mampu kukatakan, apalagi sekarang.

Sejak September 2014 menangis menjadi hal yang biasa di keluarga kami. Tak ada lagi yang malu untuk menangis, semua orang tak ada lagi yang sanggup untuk tak menangis. Kami hanya manangis, menangis, dan menangis. Menangis dengan wajar, berusaha menangis dengan wajar. Apalagi? Tak ada reaksi perasaan yang pantas selain menangis, seolah semua sadar jika kami meluapkan perasaan dengan ‘berkomentar’ satu sama lain, maka kata-kata ‘meratapi keputusan Allah’ akan keluar. Kami hanya takut kata-kata kami akan melemahkan yang lainnya. Maka pada akhirnya kami hanya menangis sembari diam.

“Padahal baru saja semalam mikirin Mbah, baru saja semalam mikirin bagaimana perasaan Mbah jika suatu saat nanti menghadapi sakaratul maut, dan pagi ini kabar datang begitu saja.

“Selamat jalan Mamak, Bik Halimah, Mbah. Semoga Allah menempatkan kalian di tempat terbaik di sisi-Nya, mengampuni dosa kalian, menjauhkan kalian dari siksa kubur dan sisa api neraka, semoga Allah senantiasa menjaga dan menyayangi kalian. Selamat jalan, semoga suatu saat nanti Allah mengizinkan keluarga besar kita berkumpul kembali di surga-Nya. Dan juga semoga Allah selalu memberikan kekuatan bagi kami yang kalian tinggalkan. Amin, Allahumma amin.

6 September, 28 September, 6 November 2014