Senin, 22 Desember 2014

Disuntik



Dari kecil aku selalu takut pada jarum suntik. Setiap kali sakit, aku lebih memilih menelan banyak obat dari pada disuntik satu kali. Disuntik selalu terlihat menakutkan, tak peduli seberapa banyak kalimat bujukan untuk menenangkanku, aku tetap saja selalu takut disuntik. Kata mereka disuntik tidak sakit, rasanya hanya seperti digigit semut, sakit sebentar, setelah itu sudah, sakitnya berakhir. Tapi kalimat itu, aku tak pernah percaya. Disuntik selalu sakit, dan aku menghindarinya. Tapi pada akhirnya, selalu ada saat-saat dimana aku tak bisa menolak disuntik. Sewaktu SD misalnya, sekali setahun sekolah kami kedatangan tim dari puskesmas yang membawa tujuan mulia “memvaksin anak-anak”. Entah vaksin apa, aku juga tak pernah mengerti, yang pasti setiap kali mereka datang, perut ku mendadak mulas. Sebuah respon alamiah saat aku mulai ketakutan “perut mendadak mulas”. Dan celakanya, hari vaksin ini tak pernah diumumkan sebelumnya, hingga tentu saja aku tak bisa menghindari mereka. Maka hari yang begitu, aku selalu terduduk lemas di kursi, menunggu takdir jarum itu menusuk tubuhku. Ibu ku tau aku takut disuntik. Tapi aku harus tetap disuntik, biar sehat katanya. Aku ingat apa nasehat beliau saat aku akan disuntik “Tubuhnya dilemasin ya nak, jangan dikerasin, nanti kalo dikerasin jarumnya patah di dalam, bahaya”. Aku mengangguk saat dinasehati begitu, bukan cuma sekedar anggukan, nasehat ini selalu ku ingat dan ku kenang hingga saat ini, tentu saja ia ku terapkan saat harus berada pada situasi disuntik. Dan begitulah aku, dengan pasrah disuntik, meski takut, meski benci, meski sakit, tapi aku pasrah disuntik. Tidak menolak, tidak memberikan perlawanan, pasrah dan ikhlas saja disuntik, toh dengan disuntik tubuhku menjadi lebih sehat. Mereka yang menyuntikku ingin aku lebih sehat. Toh pada akhirnya disuntik membawa kebaikan untukku.

Jika dipikir-pikir lagi tentang disuntik. Bukankah hidup itu seperti aku yang disuntik? Ada beberapa hal dan ada saat-saat seperti aku disuntik. Takdir, masalah, atau apapun itu, saat ia datang ia seperti jarum yang masuk ke tubuhku. Sakit, mereka menimbulkan rasa sakit. Tapi seperti biasa saat disuntik, aku harus ikhlas disuntik. Jangan dilawan, jangan ditolak. Terima saja, hadapi saja. Meski sakit, ya terima saja. Toh hal-hal seperti ini baik untukku. Hal-hal yang seperti ini, ada banyak kan. Hal-hal yang kita tak boleh lawan, hal-hal yang kita tak mampu lawan. Tak perduli seberapa benci, seberapa takut, seberapa sakit, kita tetap tak mampu dan tak boleh lawan. Kita hanya harus pasrah, menerima, tanpa boleh melawan. Tentu saja, seperti jarum suntik, jika dilawan ia akan lebih berbahaya. Jika dilawan ia akan lebih menyakitkan. 

Aku suka dengan Darwis Tere Liye yang bilang “Hakikat cinta sejati itu melepaskan”. Kurasa bukan hanya sekedar cinta sejati, tapi hakikat sebenarnya hidup adalah melepaskan. Akan ada saat dimana kau memang harus melepaskan, tak peduli seberapa berarti, tak peduli seberapa berat, tak peduli seberapa banyak harap dan mimpimu disana. Akan ada saat dimana kau memang harus melepaskan, tanpa bisa bertanya kenapa, tanpa bisa bernegosiasi mungkin bisa ditukar dengan apa, atau mungin waktunya diundur sebentar. Tak ada, tak bisa, hanya melepaskan. Hanya mengikhlaskan untuk dilepaskan.

Ibuku, aku ingat betul sosok seperti apa dia. Dialah gambaran terbaik wanita terhebat sejagad. Kau tau kenapa aku berkata begitu? Ia manusia yang menerima sesuatu dengan sangat baik. Seberapa banyak takdir yang mengampiri mu, seberapa banyak yang mampu kau terima? Kau tau, tak semua manusia memliki kemampuan merima sesuatu dengan sangat baik. Tapi jika kau punya kemampuan itu, kau hebat sekali. Dan ibuku, beliau memiliki kemampuan itu. Itulah kenapa bagiku beliau hebat. Kehebatannya ini, selalu menjadi andalan beliau saat menasehati kami. Kehebatannya ini selalu beliau upayakan untuk ditularkan pada anak-anaknya. Kau tau kalimat andalan beliau? “Biar lah orang lain melakukan itu ke kita, asalkan jangan kita yang melakukan itu ke orang lain”. Itu kalimat andalan beliau, selalu beliau ulangi saat anak-anaknya mengadu atas tindakan tak semestinya dari orang lain, selalu beliau ulangi saat anak-anaknya protes saat ibu diperlakukan dengan tidak semestinya oleh orang lain. “Allah itu tidak tidur, nanti juga ada balasannya” itu sambungan kalimat andalan beliau. Beliau menerima dengan baik apa yang terjadi pada hidupnya. Meski begitu, beliau bukan wanita bodoh yang membiarkan dirinya disakiti tanpa berani membela dirinya. Kau tau, orang yang jelas tidak salah tapi membiarkan dirinya disakiti tanpa mau membela dirinya sendiri, ia adalah orang yang bodoh. Ibu ku mengajarkan dengan jelas tentang ini. sejak kecil aku terbiasa menyaksikan tindak tanduknya dalam mengambil peran melindungi yang tersakiti. Jangan heran, karena background pekerjaan bapak, rumah kami selalu menjadi tempat orang-orang mengadu. Dan ibu, beliau dengan jiwa sosialnya mengambil peran menguatkan siapa saja yang seharusnya membela dirinya. Sedari kecil aku menyaksikan ini, bagaimana beliau berprinsip “Jangan sakiti orang lain, tapi jangan biarkan dirimu disakiti orang lain”. Pun saat kita tetap merasa tersakiti setelah membela diri, ya sudah biarkanlah, terima saja, ikhlaskan saja, jangan dibalas dengan balik menyakiti. Terima saja dengan baik, tak perlu dilawan sakitnya. Ikhlaskan, terima dengan baik. Mungkin dibalik sakitnya, Allah bermaksud baik pada mu. Allah ingin kamu lebih baik lagi. Seperti jarum suntik yang menusuk tubuhmu, terima saja. Jarum itu punya tujuan agar kamu lebih baik kesehatannya.

“Lah lah, biarlah, dak tau ngapolah kito. Biarlah, dak tau nek ngula e agik”
“Biarlah orang kayak tu ke kito, asal jangan kito bae yang kayak tu ke orang”
Aku merindukanmu. Semoga Engkau di sayang Allah. Selamat hari ibu.

Rabu, 03 Desember 2014

At Gwanghwamun

How was your day?
There's still a little bit of summer left
For some reason, i had a tiring day
when the leaves changed color on the side of the road of Gwanghwamun, That was when i finally lifted my head
We used to shine so bright together, But now we are strangers
in your arms the world was mine, goodbye to those childish day
Today, like a fool, i am standing at that spot
getting wet in the rain
waiting for you who won't come
I was happy, At the memories of holding hand and walking together
I look back, in case you are standing there
I don't know if living in this world is just about always looking for another person
As i came to this street filled with the aroma of coffee, that was when i finally smiled
It was the first time that someone made me that nervous
You were the only one
You were more lovable than anyone else, but why did you leave me?
Today, like a fool, i am standing at that spot
Getting wet in the rain
waiting for you who won't come
I was happy, at the memories of holding hand and walking together, I look back
At that place i get to know how i am slowly changing every day
In the far days ahead, just smile for me
I am happy, Because today, this place is just as beautiful as back then
For no reason, like a fool, i am standing at this spot
Getting wet in the rain
Waiting for you who won't come
I was happy, I look back once again at this road in Gwanghwamun
In case you are standing there


*For some reason, i really love this song. Ga cuma lirik nya yang bagus, iramanya yang enak didenger dinyanyiin sama suaranya Kyu yang bagus banget, hehehe. Ahhh kalo masalah lagu Ballad mah, Kyu tiada tiga nya emang, Tiada tiga soalnya ada Yesung yang ga kalah kerennya dari Kyu :D :D :D . But honestly, i have another reason why i really love this song, it's like my heart flows away with this song, ahaaiiii :D

Selasa, 18 November 2014

Si-Pelit

"Aku sedang menunggu" katanya. Percakapan sore itu dimulai dengan pernyataannya yang menggantung, membuatku bingung. Menunggu apa dia, atau menunggu siapa? tak ada tanda-tanda manusia lainnya akan datang sekarang. Tempat ini terlalu privat untuk didatangi manusia lainnya. Pernyataannya menggantung, seperti biasa. 
"Pernyataannya menggantung", pikirku. Mulanya ku putuskan untuk menunggu saja kelanjutan kalimat itu.
 "Pasti ada kelanjutannya" pikirku. Namun lama aku menunggu, kalimat itu hanya sepotong saja. Sudah, sekian, itu saja. Aku menatap bagian wajah sampingnya, ku sunggingkan senyum kemudian. Dia selalu begitu, teman ku ini, dia selalu begitu. Sejak pertama kami bertemu hingga detik ini, ia selalu begitu. Sulit baginya untuk menyampaikan perasaannya, ia dipenuhi gengsi dan rasa tak-enak-an yang banyak. Ini saja, situasi ini saja, aku telah termasuk jajaran orang hebat (versi ku) sebab telah mampu membuatnya bercerita meski hanya sepenggal-penggal.

"Baiklah, jika situasinya sudah begini, aku harus menebak apa maksud pernyataan singkat nya ini" pikir ku. Sembari menatap wajah sampingnya, aku mencoba mengulas segala kejadian 3 bulan-an ini, kejadian 3 bulan-an yang terjadi pada hidupnya. Mengulas kembali takdir apa yang telah terjadi pada hidupnya. Ah takdir apa ini? tiba-tiba aku dihantui rasa amat tak mengenakkan, kening ku berkerut, cahaya mataku memudar. Takdir apa ini? Jantung ku berdetak lebih kencang sekarang. Sayu ku tatap dirinya. 
"Manusia macam apa teman-ku ini" pikirku. Ia terlihat seperti sebatang kayu yang mendingin sekarang. Di mataku, ia mendingin sekarang. Mungkin telah terlalu lama aku terdiam, dia menoleh dan menatap ku sekarang. Matanya sedetik kemudian menyipit, ia tersenyum.
 "Kau sudah makan?" katanya, bahasa nya riang.
 "Ah aku lapar sekali, bagaimana kalau kita ke warung sebelah" lanjutnya. Aku membeku. Bahasa riangnya, ini pertanda aku gagal sekarang. Aku gagal sebagai pendengar ceritanya. Maka aku membeku sekarang, di posisi ku, di kursi ku. Ia menatap ku heran sekarang. 
"Kau kenapa?" tanya nya. Aku masih terdiam. Mata ku lurus ke matanya.
"Apa hal buruk telah terjadi padamu?" ia masih bertanya. sejurus kemudian ia memelukku.
"Tak apa, semua akan baik saja" katanya. Dada ku sesak seketika mendengar kalimat tulus dari bibirnya. Bagaimana mungkin orang yang tak sedang dalam keadaan baik menasehati lainnya untuk menjadi baik. Bagaimana mungkin dengan ringannya ia berkata "Tak apa, semua akan baik saja". Dada ku bergemuruh, tubuh ku gemetaran, melemah di pelukannya. Bahasa tubuhnya menunjukkan ia terkaget dengan reaksiku.
"Tak apa, tak apa, jangan bersedih, Allah maha baik" ujarnya lembut. Hangat sekali, hangat sekali kalimat itu merasuki dadaku. Hanya beberapa detik kemudian lautan tangisan ku tumpahkan di dadanya. Lautan tangisan yang mewakili lautan kesedihan hatinya. Lautan kesedihan hatinya yang begitu pelit ia bagikan pada manusia lainnya. Lautan kesedihan yang ia nikmati sendiri tanpa berbagi pada manusia lainnya. "Pelitnya, pelitnya ia, ini pelit yang keterlaluan sekali" pikirku.

Percakapan macam apa sore ini? entahlah tak ada yang benar tau. Hanya saja, tubuh kurus ini, si pelit ini, ia menghawatirkan aku yang justru khawatir padanya. Matahari dikejauhan sana telah bersiap untuk kepulangannya. Pastilah sang matahari bahagia sekali sekarang. Ia akan segera pulang ke tempat ia seharusnya berpulang dimana ada segelintir orang yang menungggunya pulang. Tak lama lagi matahari akan pulang.

Kamis, 06 November 2014

Penghujung 2014

Umur tak ada yang tau. Siapa sih yang tau umur. Yang sehat wal-afiat saja satu detik kemudian bisa menginggal begitu saja. Siapa manuasia yang bisa nebak? Siapa manusia yang bisa nolak? Tak ada. Toh kita ini kepemilikan Allah, maka terserah Allah saja. Terserah Dia saja mau kapan, mau dimana, mau bagaimana. Terserah Allah saja.

Akhir 2014. Penghujung 2014, kami banyak kehilangan. Bahkan penghujung 2014 belum berakhir, keluarga besar kami kehilangan banyak hal. Beruntut, bertubi-tubi. Belum 40 hari Ibu meninggal, Bibi menyusul. Belum 40 hari Bibi meninggal, Mbah menyusul. Bahkan 2014 belum berakhir, kami telah banyak kehilangan.

Ah tak tau apa yang harus kukatakan. Sejak 6 September pun ada banyak hal yang tak mampu kukatakan, apalagi sekarang.

Sejak September 2014 menangis menjadi hal yang biasa di keluarga kami. Tak ada lagi yang malu untuk menangis, semua orang tak ada lagi yang sanggup untuk tak menangis. Kami hanya manangis, menangis, dan menangis. Menangis dengan wajar, berusaha menangis dengan wajar. Apalagi? Tak ada reaksi perasaan yang pantas selain menangis, seolah semua sadar jika kami meluapkan perasaan dengan ‘berkomentar’ satu sama lain, maka kata-kata ‘meratapi keputusan Allah’ akan keluar. Kami hanya takut kata-kata kami akan melemahkan yang lainnya. Maka pada akhirnya kami hanya menangis sembari diam.

“Padahal baru saja semalam mikirin Mbah, baru saja semalam mikirin bagaimana perasaan Mbah jika suatu saat nanti menghadapi sakaratul maut, dan pagi ini kabar datang begitu saja.

“Selamat jalan Mamak, Bik Halimah, Mbah. Semoga Allah menempatkan kalian di tempat terbaik di sisi-Nya, mengampuni dosa kalian, menjauhkan kalian dari siksa kubur dan sisa api neraka, semoga Allah senantiasa menjaga dan menyayangi kalian. Selamat jalan, semoga suatu saat nanti Allah mengizinkan keluarga besar kita berkumpul kembali di surga-Nya. Dan juga semoga Allah selalu memberikan kekuatan bagi kami yang kalian tinggalkan. Amin, Allahumma amin.

6 September, 28 September, 6 November 2014

Senin, 13 Oktober 2014

-ber Kemudian Ber-

Dua kumandang azan terdengar jelas diantara dinding-dinding beton kompleks kita. Kita yang tak berarti benar adalah kita. Dua kumandang azan bersahut-sahutan. Tak beradu siapa yang paling cepat, tak beradu siapa yang paling lantang. Ia hanya menyampaikan ajakan dengan sentuhan kemerduan yang berharap mampu mengelus kita yang masih saja bergelut dengan pikirnya setengah harian.

Dua kumandang azan berakhir hampir serentak. Sepi dan sayup. Hanya putaran kipas angin yang menerbangkan satu dua potong kertas sekarang. Pelan-pelan suara televisi terdengar dari dapur belakang. Berbunyi sendiri, tanpa ada yang menonton. Selebihnya, sunyi sayup.

Diluar panas. Kota hujan yang tak lagi pantas menyandang gelarnya. Ia tak pantas karena ia panas, SEKARANG. Kompleks yang panas dan banyak nyamuk! Meski teknologi buah pikir otak telah di terapkan, masih saja banyak nyamuk! Sesekali ku lirik handphone yang tergeletak di meja. Ia menghitam, tak bersuara. Ia mati suri lantaran kehabisan pasokan energi hidup. Ia menambah sepi.

13 Oktober yang berarti keesokan hari 14 Oktober. Oktober yang menjadi garang. Akhiran -ber yang tak lagi bermakna BRRRR. Akhiran -ber yang bertanda revolusi bumi hampir melunasi satu putarannya. Akhiran -ber yang memaksa bertanya "ber- apa yang telah kau sandang?".

Kompleks masih saja sepi, hanya saja suara perut ikut berbunyi sekarang. Kreok-kreok, ia membunyikan alarm alaminya. Sang pemilik masih saja sunyi sayu di tatapannya. Menatap lurus 20 meter sepanjang jalan yang berakhir pada belokan kiri. Tak ada apapun disana, hanya sederet rumah dan mobil-mobil pemiliknya. Mobil, seperti impiannya pada seseorang dulu. Rumah seperti percakapannya dengan seseorang dulu, percakapan terakhir rupanya. Mobil dan rumah yang menjadi hayal tak kesampaiannya dulu. Ternyata, ia masih manusia biasa, lumrah dan sederhana.

Boleh saja pandangan hanya melayang sejauh 20 meter, tapi pikirnya terbang bebas di ketinggian. Berkelana ke banyak tempat. Tempat kenangannya, tempat impiannya, tempat mau dan ingin-nya. Berkelana jauh namun hampir tak ingin pulang. Sang pemilik perut kehilangan pikirnya.

Kompleks masih saja sepi.

Selasa, 07 Oktober 2014

Tempat Berlabuh Terbaik.

Niat memang memegang kunci pada hasil dari suatu tujuan. Niat baik atau niat buruk, hasilnya berimbang sesuai niatan. Niat baik akan berakhir baik, insya Allah. Begitu juga sebaliknya. Baik yang dimaksud tentu saja tidak selalu baik menurut kehendak kita. Tidak selalu, tapi ia berbentuk "baik" menurut yang Maha Bijaksana, jadi tentu saja itu "baik". 

Galau adalah pertanda hati yang risau dalam mencari. Galau berarti hati mu sedang risau mencari tempat berlabuh. Galau berarti hatimu merindukan tempat berlabuh. Apakah tempat berlabuh yang lebih baik dari pada yang Maha Penyayang? Adakah yang lebih baik untuk berlabuh selain Dia yang Maha Penyayang? Tentu saja tak ada. Maka galau berarti hati mu sedang rindu pada Dia yang Maha Penyayang. Hati mu sedang risau akibat rindu pada tempat berlabuh terbaik, yakni Dia yang Maha Penyayang.

Niat yang baik, kemudian hati yang meng-galau, begitu saja meng-galau seiring proses perjalanan mewujudkan niat baik tersebut, pertanda apa kah ini? Apakah ini pertanda niat baik mu bukan lah niat yang baik? tentu saja tidak, keraguan itu datang seiring dengan setan yang rajin berbisik di kedua telingamu, merayu-rayu segumpal daging bernama hati milikmu yang terkadang lemah, menghembus bujuk-bujuk di otak mu yang terkadang hilang fokus. Itu lah asal muasal ragu yang berujung pada galau. Ada yang salah dengan niat baik awal yang kau niatkan? Tak ada. Sama sekali tak ada.

Maka, galau ini kembalikan lah ia pada definisi awalnya, "hati yang sedang mencari tempat berlabuh terbaik". Kembalilah lagi pada Dia yang Maha Baik. 

Sebaik apa dirimu saat bercerita pada temanmu? Sebaik apa dirimu dalam menyampaikan maksud dan tujuanmu pada orang lain? Maka lakukanlah sebaik itu juga pada Allah mu. Bukan, lakukan lebih baik. Allah maha tahu, tentu saja. Tanpa perlu kau katakan, Allah tau apa-apa yang tersembunyi di hatimu, apa-apa yang berkecamuk di setiap bagian otakmu. Allah tau, sangat tau dengan sangat jelas. Tapi, cobalah untuk tetap menyampaikan sebaik mungkin pada Allah. Meskipun Ia tau segala hal, cobalah untuk menyampaikan serinci-rincinya. Apa beban mu, apa yang membuat mu sedih, apa yang membuatmu senang, apa yang kau sesalkan, apa yang kau harapkan, apa yang sebenarnya telah terjadi, apa yang membuatmu risau, apa yang membuat hati mu merasa tidak mudah. Katakan semua pada-Nya. Sebaik kau bercerita pada sahabatmu, sebaik itu juga katakan padanya. Bahkan, lebih baik untuk bercerita lebih lengkap dari pada biasanya. Bukankah, Ia maha tahu, maka kau tak perlu malu. Bukan kah Ia penjaga rahasia terbaik, jadi tak perlu khawatir. Bukan kah Ia pemilik hidup dan mati mu, maka tak perlu sungkan untuk jujur pada-Nya. Ia Maha Mendengar dan Ia Maha Bijaksana, Ia selalu ada untuk mu, kapan pun dan dimana pun. 

Maka jika kau galau, suatu ketika jika kau galau, dengan alasan apapun, terlebih lagi jika kau galau dalam proses "niat baik" mu, jangan ragu untuk curhat pada pemilik hidup dan matimu. Kembali lah pada tempat berlabuh terbaik.

Senin, 29 September 2014

Sehat?

Setiap kali ada yg menghubungi saya (chat,sms,telpon, atau sejenis nya) dengan pembicaraan diluar kebiasaan kami berbicara, entah cara berbicara hingga topik pembicaraan, maka saya reflek menanggapinya:

pertama, saya memanggil namanya, misal A. Kemudian saya berhenti sejenak atau dengan kata lain menambahkan tanda "koma" kemudian disusul dengan satu kata yang diakhiri dengan tanda tanya yakni"sehat?". Versi lengkapnya "A, sehat?".

Jangan salah sangka. Sehat ini sebenarnya bukan berarti saya sedang menghawatirkan kondisi tubuh si pembicara. Tapi yang saya maksudkan dengan "sehat" adalah kondisi kejiwaan orng tersebut. Jadi versi panjangnya adalah "A, kondisi kejiwaanmu sehat?".


Selasa, 23 September 2014

Aku tak lagi suka sepi

Duuhh..
tulisan ini dibuka dengan kata penuh kepenatan, mungkin. Apa ya? pernahkah kamu takut pada sepi? Sepi, sendirian, membuatmu takut. Bukan karena tempat mu berdiri sendiri adalah sarang penjahat atau bukan juga sepi sendiri di hutan belantara penuh hewan buas. Bukan, ini sepi yang tak kan menyakiti fisikmu. Fisikmu aman, tapi tetap saja kau takut padanya. Ini tentang sepi yang memakan jiwamu. Sepi yang membuat hati mu resah serba salah.

Kata temanku, dia kaget mendengar kabar bahwa aku telah berada kembali di kampung halamanku yang nun jauh disana, padahal malam sebelum itu kami masih tertawa riang berbagi cerita, berbagi suka cita. Dia kaget. Kemudian kataku, aku juga kaget. Iya, jangankan dirimu, bahkan aku sendiri juga kaget. Kaget sekali.

Kaget, saking kagetnya aku bahkan masih sering bertanya-tanya "benarkah?". Saking kaget nya terkadang aku masih dengan sengaja mencupit anggota tubuhku hanya untuk memastikan bahwa aku sedang bermimpi atau tidak. Saking kagetnya, aku masih mengingat-ngingat, mencari-cari dengan mataku seolah ingin memastikan kebenarannya. Tapi, jawaban yang kutemukan adalah, ini kenyataan. Tak peduli seberapa kagetnya, tapi ini kenyataan.

Kau tau, ada banyak hal yang menumpuk-numpuk dihatiku. Banyak sekali, tapi tak sepatah pun mampu ku keluarkan. Aku hanya tertawa ke sana kemari, berkata "aku baik-baik saja" kesetiap orang yang bersimpati kepadaku, bahkan aku menceritakan garis besarnya dengan tersenyum dan santai saat mereka bertanya kronologisnya. Iya, aku melakukan itu. Maka benarlah apa yang temanku katakan "Lo itu cuma bisa cerita hal-hal yang umum aja, tapi hal yg pribadi perasaan lo, lo ga pernah mau cerita". Iya temanku benar. Dia benar, seperti sekarang itulah yang terjadi padaku. Numpuk dan menumpuk, karena itu lah aku takut pada sepi sekarang.

Aku takut pada sepi sekarang. Aku tak menyukai sepi, karena saat sepi-lah saat dimana segala hal terasa dan semakin kerasa. Saat sepi-lah sesak itu datang menghampiri. Saat sepi-lah keresahan yang meresahkan itu kurasakan. Saat sepi. Karena itu aku tak suka sepi. Aku tak lagi suka sepi.


Selasa, 26 Agustus 2014

Rahasia Membuatmu Dewasa

Semakin dewasa kita, semakin banyak hal yang akan kita sembunyikan.
Semakin kita tumbuh dewasa, akan semakin banyak hal yang kita simpan sendiri.
Disimpan, disembunyikan, dengan berbagai alasan tentu saja.

Ah tentu saja, apa kau lupa saat kita masih kanak-kanak dulu. Tak perlu usaha yang berarti dari ibumu untuk mengetahui sebab mu menangis hari ini, dengan tersedu-sedu kau akan mengatakannya alasannya dengan nyaring. Tak ada yg kita sembunyikan dikala itu. Hampir tak ada.

Dan lihatlah, diusia mu yang sekarang, berapa banyak hal yang kau simpan sendiri. Mulai dari kesalahan yang kau perbuat dengan alasan "takut" atau "malu" atau bahkan "aku akan mempertanggungjawabkannya sendiri", hal-hal yg membuatmu sedih dengan alasan "tak seharusnya ku umbar itu" atau bahkan rahasia-rahasia orang lain yang kau jaga dengan alasan "sudah sepantasnya lah ku jaga aib teman ku sendiri". Lihat, berapa banyak hal yang mulai kau sembunyikan sekarang.

Pernahkah kau sendirian terpuruk di ruangan tertutup, berusaha keras menyumpal mulutmu agar suara tangis mu tak terdengar ke luar, kemudian meng-gercap-gercap-kan matamu sebisa mungkin agar bekas lelehan tak mudah disadari orang lain, dan kau keluar mencampuri tempat umum dengan tersenyum dan menyapa riang. Seolah kejadian di ruang tertutup tak pernah ada. Kau, menyembunyikan semua nya dengan sangat baik.

Atau pernah kah kau memikirkan semuanya seorang diri. Kau mendengar, kau diberitahu, bukan tentang mu tapi tentang orang lain yang kau "perdulikan" dalam hidup mu, namun dari pada bertanya kau lebih memilih menyimpannya sendiri, memikirkannya sendiri, dan berdoa yang terbaik utk dia yang kau pedulikan. Kau tersenyum dan tertawa seperti tak ada apa-apa. Alasanmu, mungkin ada banyak, tapi yang pasti kau percaya dan berharap yang terbaik untuk nya. Kau menyimpannya dengan sangat baik.

Pernahkah juga kau tercengang pada rahasia seseorang disekitarmu. Bukan dari mulutnya mungkin, bahkan sesuatu yg ia tak tau betul. Tapi kau sadar, jika ia tau, mungkin dampaknya tak baik untuk dia. Maka kau memilih menyimpannya sendiri, tak kau umbar untuk dia tak pula untuk yang lainnya. Kau merahasiakannya seorang diri. Kau merahasiakannya dengan baik.

Jika kau pernah, baik kasus yang kukatakan di atas, atau yang serupa maknanya dengan di atas, maka kukatakan saat ini kau mulai dewasa. Kau mulai dewasa hingga kau mulai banyak menyimpannya sendiri. Kau mempertimbangkan kemudian menahan dirimu sebaik mungkin. Kau mulai menempatkan sesuatu pada tempatnya. Itu artinya kau mulai dewasa.

Semakin kau dewasa, semakin banyak hal yang akan kau simpan sendiri. Sendiri, di hati mu, di otakmu, di dyari-mu, dan dipercakapan dengan Tuhan mu. Sesuatu yang tak bisa, tak layak, atau tak kau anggap perlu disampaikan pada yang lainnya. Dengan berbagai alasan, tapi kau melakukannya. Kau mulai beranjak dewasa Kawan.

Tak usah khawatir, jika kau kelelahan atas segala rahasia yang kau simpan, maksudku jika suatu saat kau merasa lelah, aku punya kabar gembira. Kabar gembra ini tentu saja bukan "kulit manggis sekarang sudah ada ekstraknya" haha. Kabar gembirnya adalah, "jika kau tak mampu mengatakan apa yg bersarang di dirimu ke pada yang lainnya, maka berwudhu dan sujudlah. Yang maha penyanyang akan setia mendengarkan kisah panjangmu. Dan tentu saja kisah ini Ia jaga sebaik-baiknya".

selalu ingat "Innallaha ma'ana". Kita tak pernah sendiri. Tak pernah. 




"Gwaenchanha, all is well"