Kita adalah dua wanita yang begitu kikuk. Kau dan aku,
begitu kikuk saat-saat kita berhadapan dengan orang-orang yang kita sayang. Begitu
kikuk saat kita mulai berhadapan dengan yang namanya persaan. Seperti hari ini,
dan hari-hari sebelum ini. Kekikukan kita yang terkadang menyusahkan, namun
terkadang menimbulkan banyak kesan mendalam.
Hari ini hari ibu. Hari untuk mengapresiasikan jasa-jasamu,
kata mereka. Jutaan anak didunia merayakan hari ibu untuk malaikatnya. Jutaan anak
mengucapkan dan mengekspresikan hari ibu. Tapi aku? Hari ini aku hanya terdiam
menyimak dengan sejuta pandangan dan pikiran yang hanya terarah padamu. Aku merasakannya
ibu, namun kekikukan yang kuwarisi darimu membuat aku kesulitan mengutarakan
apa yang aku rasakan ^^
Maaf begitu keras kepala
Gadis kecilmu ini memang selalu keras kepala, tak bisa
dibantah, berjiwa kritis, tapi anehnya ia tak pintar mengungkapkan perasaannya.
Aku ingat bagaimana tanggapanmu saat aku bersikeras untuk berpisah lagi dengan
mu. Menuntut ilmu di pulau orang, meninggalkanmu lagi. Tapi kali ini tanah yang
ingin kutempuh adalah tanah yang begitu jauh. Tanah yang selama ini kau dengar
ditelevisi rawan dengan orang jahat. Tanah yang tak ada satupun sanak saudara
kita, tanah yang bahkan kau sendiripun belum pernah menginjaknya, apalagi gadis
kecilmu ini. Gadis kecilmu yang baru selesai bangku SMAnya Saat itu kau menyatakan harapanmu padaku agar
aku tak pergi terlalu jauh. “kuliah saja dibangka. Ambil akademi kebidanan. Jadi
bidan disini.” Kau mengatakan itu dengan hati-hati. Tapi tanpa perlu waktu
lama, kau menyerah juga. Terpaksa meridhoi keinginanku karena tentu saja kau
satu-satunya orang yang paling paham betapa keras kepalanya gadis kecilmu. Sejak
kecil, Gadis kecilmu ini memang tak neko-neko. Ia jarang meminta apalagi
merongrong, namun ketika ia telah berkata “iya”, kau tau bahwa saat itu sangat
sulit untuk menolaknya. Aku ingat dulu saat begitu repotnya kau ketika aku
mulai merajuk saat kata “iya” ku kau tentang. Aku menolak makan, mengurung diri
dikamar, tak mau berbicara pada siapapun, bahkan pada dirimu. Gadis kecilmu
yang telah menunjukan keras kepalanya bahkan ketika masih hijau. Alhasil, kau
harus menguatkan dirimu saat melepaskan kepergianku sendirian. Iya sendirian,
tanpa seorang kerabat atau temanpun yang kau kenal. Tanpa bisa mengantarnya
ketempat persinggahan disana. Tanpa tau dialamat mana harus kau cari ketika
terjadi sesuatu pada gadis kecilmu. Melepaskan gadis kecilmu yang sebelumnya
bahkan tidak pernah pergi keluar rumah sendirian ketika hari mulai gelap.
Maaf banyak membuatmu khawatir..
Aku ingat betapa terkejutnya aku saat tergopoh-gopoh kau
merangkulku sambil menangis. Aku membuatmu khawatir. Hari sudah beranjak larut,
tapi gadis kecilmu yang kabarnya akan pulang dari perantauan belum nampak
batang hidungnya dirumah. Handphoneku tak bisa kau hubungi. Sementara jakarta
adalah tanah yang begitu tak tergambarkan untukmu. Hampir larut tapi ia belum
tiba dirumah. Ahh,, betapa aku membuatmu khawatir.
Maaf lebih sering tak berada disisimu
Waktu tumbuhku lebih banyak ku habiskan dengan temanku
ketimbang dirimu. Bukan kau tak mau, tapi aku. Ketika kuutarakan niatku untuk
bersekolah di SMA Pemali yang jauh darimu, lagi-lagi kau harus mendukungnya. Sebuah
SMA dengan kehidupan asramanya. Sebuah SMA yang kau tau adalah SMA dengan kelas
unggulan, tempat putra-putri terbaik bangka belitung berkumpul. Itu masa
pertama ku berpisah denganmu. Saat hari dimana kau mengantarkanku keasrama,
kita sangat kikuk saat berpisah. Tak ada tangisan haru seperti rekan-rekan yang
lainnya. Aku biasa saja, kau pun begitu. Tapi rasanya ada kesunyian yang
menyeruak saat kulihat mobilmu berjalan menjauh. Dan kau tau, malamnya aku tak
bisa berhenti menangis, dan hari-hari berikutnya terasa berjalan begitu lambat.
Masa-masa SMA, masa-masa tumbuh kembang yang lebih banyak kuhabiskan dengan
teman-temanku, ketimbang dirimu.
Kita begitu kikuk
Kita selalu saja tak bisa mengungkapkan perasaan kita dengan
benar. Terkadang saat rindu membuncah, aku menangis saat mendengar suaramu
ditelpon. Saat itu terjadi, tanggapanmu selalu sama “ kau ngapo put? Kau sakit?
Pening kepala yo? Sudah minum paracetamol?” ahh,, beginilah kita,,sangat kikuk
Saat hijau gadis kecilmu
Puput, itu panggilan kecilmu untukku. Saat ku tanya kenapa
aku dipanggil puput, kau hanya tertawa kecil dan mengeluarkan alasan yang tak
bisa kupahami. “Karena adikmu bernama pipit” itu saja alasannya. Karena memang
sedari kecil kami seperti anak kembar. Padahal usia kami terpaut dua tahun. Tapi
pertumbuhan pipit begitu cepat hingga terkadang banyak orang salah mengira
bahwa ia adalah kakakku. Jadilah kami anak kembar, puput dan pipit. Kau pun sering
mendandani kami seperti anak kembar. Baju dengan motif yang sama, model
kunciran yang sama, sepatu yang sama,payung yang sama, boneka yang sama, ahh
hampir semuanya sama.
Terima kasih telah bangga kepadaku
Dulu aku begitu malu saat kau mulai menjadikanku sebagai
bahan obrolan diantara teman-temanmu. “anakku yang bersekolah disekolah
unggulan, anakku yang menang lomba ini, menang lomba itu, anakku yang kuliah di
IPB, anak yang begini, anakku yang begitu” cerita yang sama yang kau ulangi
berkali-kali kepada setiap orang. Ah aku malu ibu. Sungguh, gadis kecilmu ini
bukan apa-apa. Tapi aku bahagia, usahaku membuatmu bangga, usahaku membuatmu
bahagia.
Ada satu pesanmu yang selalu kuingat
Dulu setiap malam aku akan duduk didekatmu dan mulai
bercerita tentang bagaimana hariku hari itu. setiap kali aku bercerita tentang
kelakuan nakal temanku, kau selalu menasehati “puput dak boleh gitu yo, nakal
tu namonyo” atau ketika aku bercerita bahwa hari ini ada anak yang menjahatiku,
kau selalu menasehatiku “biarlah orang jahat samo kito, yang penting kito dak
jahat samo orang”. Nasehat terakhir ini, nasehat yang merepotkanku. Misalnya,
ketika aku mulai protes pada mereka yang bertindak sewenang-wenang padamu, kau
selalu menggunakan nasehat itu untuk tidak membenarkan kelakuanku. Sesuatu yang
saat itu tak bisa ku pahami. Tapi kemudian perlahan, nasehat itu dapat kupahami
bahkan terakar dihatiku. Nasehat itu yang membuatku dapat memandang suatu
masalah dari sudut pandang yang berbeda.
Seperti hari ini dan hari-hari sebelum ini
Kita berdua sangat kikuk. aku sangat kikuk. maaf tak bisa merangkaikan
kata-kata indah untuk merayakan harimu. Maaf tak bisa bersikap romantis seperti
anak-anak pada umumnya. Maaf tak bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu. Walau tak
pernah ku ucapkan, tapi rasa itu tak perlu kau ragukan. Jika harus kukatakan satu-satunya
alasan untuk berdiri tegak, itu adalah dirimu. Jika harus kukatakan alasanku
berkeras kepala meninggalkanmu, itu adalah untuk dirimu.
Seperti hari ini dan hari-hari selanjutnya
sekarang gadis kecilmu sudah hampir berumur 21 tahun. ia telah menapaki usia yang menyimpan banyak sekali perubahan. kau pun semakin menua, 56 tahun. Kumohon, tetaplah sehat dan tersenyum seperti biasa. Kau harus
datang kebogor dan menyaksikan gadis kecilmu diwisuda. Kau harus mencicipi gaji
pertamanya. Kau harus melihat karirnya berkembang. Kau harus ikut menyeleksi
laki-laki yang memintanya menjadi istri. Kau harus mendampinginya duduk
dipelaminan. Kau harus mencerewetinya saat gadis kecilmu hamil (seperti dulu
kau melakukan itu ke kakak). Kau harus menemaninya melahirkan. Kau harus
membantunya memandikan cucumu. Kau harus ada disetiap momen-momen pentingnya. Kau
harus merasakan hasil jerih payahnya selama ini, karena semua itu untukmu. Karena
semua tujuan ini adalah kebahagiaan dirimu.
Selamat hari ibu. Aku mencintaimu.
