Hari ini, matahari jauh lebih dekat dari yang kita kira
ada anak-anak yang tak gentar menantang bahaya
menjadi terlalu bandel untuk kategori kita
ada anak-anak yang merengek berisik dipangkuan ibunya
menghendaki hal yang sama namun terbelenggu lengan-lengan kekar di dadanya
tapi kita, hanya menatap nanar tanpa menyiratkan maksud apapun
entah enggan, entah ingin
Hujan kini telah tak peduli musim
ia turun kapan pun ia mau
saat bumi terlalu panas, dan gejolak tetesan tak bisa dibendung,
ia turun begitu saja,
pun ketika udara terlalu dingin untuk dirasa
ia juga turun begitu saja
Entah malam telah terlalu dingin, atau bergumul jauh lebih nikmat sekarang
kita lebih betah berdiam diri
meski suara petasan menjadi terlalu berisik
kita tak lagi banyak protes
Wajah tetangga kita banyak yang telah berubah
menjadi asing
atau malah tak kita kenali
atau malah selama ini kita tak banyak saling kenal
Rembulan masih baru lahir
bintang masih terlihat jelas
tapi bara didada telah tak jelas warnanya
bukan merah, bukan hitam
apa lagi merah jambu
..............
Ada anak yang berlari terlalu cepat
ada anak yang tergopoh-gopoh mengejarnya di belakang
tapi mereka masih saja tertawa
Jika hari ini berakhir, maka esok akan datang
jika hari ini kita kehilangan, maka esok kita pasti memiliki
dan harapan akan selalu ada
bahkan pada tanah yang dikais dengan ceker mungil anak ayam
Rabu, 17 Juli 2013
Kabar Dari Pluit (lagi)
Hallo, yg punya blog balik lagi dan kali ini balik dengan tulisan yang lebih abstrak dari biasanya,haha. Kenapa ya? entahlah, segala sesuatu terjadi dengan sangat cepat dan random. Udah kayak musim aja, yang ga bisa ditebak berdasarkan lokasi dan waktunya, kayak sekarang nih, mestinya musim panas, tapi di Pluit malah dingin banget ( sampe alergi dingin saya kumat, hiks hiks).
Dan tulisan ini harus dimulai dari mana? dari yg inget aja ya, terus berenti sesuka hati saat yang nulis udah bosen,haha.. (ini emang kebiasaan jeleknya nih, suka bosen sembarangan )
Pernah ga kalian ngerasain sebuah perasaan ga betah, ga sanggup, tapi kemudian ketika masa itu telah akan berakhir, eh malah kaliannya jadi sedih banget. Gue pernah, pas SMA. Saat pertama kali gue menginjakkan kaki di Asrama SMA 1 Pemali, gue ga betah. Gue mau pulang. Waktu berjalan sangat lambat, rasanya ga nyaman, tapi saat itu gue memilih untuk bertahan. Dan alhasil, setelah 3 tahun di sana, gue malah nangis-nangis sedih pas harus berpisah dari tempat itu. Dan jika gue harus menuliskan sebuah kesan dari kehidupan di Asrama Kelas Unggulan SMA 1 Pemali, gue cuma pengen bilang bahwa gue bersyukur atas nikmat kesempatan yang Allah berikan itu. Sebuah pengalaman menakjubkan yang ga semua anak miliki. Sebuah pengalaman yang membuat hati gue selalu berkata "Seseru apapun pengalaman SMA kalian, pengalaman SMA gue ga kalah seru". Kehidupan unik dimana kita belajar untuk mengubah sifat buruk+nyebelin jadi sifat bersahabat+toleransi tingkat tinggi. Ya gimana engga, namanya juga satu atap sama anak seumuran yang notabene semuanya masih beremosi sangat labil. Dan alhasil kita belajar untuk mengerti dan saling peduli. Kalau gue harus bilang, itu adalah sebuah proses peng-gojlokan mental dan karakter terbaik yang pernah gue rasain, karena gue sendiri ngerasain banyak perubahan setelah masa karantina 3 tahun tersebut. Dan nilai tambahnya adalah gue punya keluarga ke dua yang bener-bener 'care', bukan cuma dimulut, tapi sampe tindakan saat kita dalam masa-masa sulit.
Tapi inti dari tulisan ini bukan mengenai kehidupan SMA gue. Saat ini gue juga ngalamin hal yang sama. Saat ini, PL adalah hal terapdet sekaligus terabstrak yang gue rasain. Jika sebelum PL gue bilang gue takut, dan diawal PL gue bilang gue seneng, nah ditengah-tengah gue bosen setengah mati, dan sekarang gue ngerasa galau antara seneng waktu PL udah mau kelar dan rasa sayang meninggalkan proyek. Abstrak, aneh, ga jelas, iya itu lah saya.
Segala sesuatu terjadi dengan cepat, kayak cuaca di Pluit yang berubah-berubah dan bikin gue sakit-sakitan,haha..
Pluit yang awalnya ga bersahabat, entah kenapa jadi akrab. Mulai dari cuacanya, bau payaunya laut, teteh kostan, abang nasi goreng, ibu nasi padang, abang pecel ayam, (ini apa ya maksudnya -_- ), ya pokoknya gitu deh.
Di proyek juga, yang awalnya segan dan malu-malu, sekarang mah malu-maluin. Di proyek juga, semuanya tetep baik. Dan hari ini, setelah mendengar curhatan dosen pembimbing lapang, terbuka lah pikiran mengenai kehidupan di masa kerja nanti. Dan gue harus bilang satu hal bahwa merencanakan masa depan itu penting kawan. ( tapi gue ga bisa cerita isi curhatannya apa, hehe ).
Kita mulai akrab dan terbiasa dengan mereka. Hari ini aja, semua pada komenin tulisan tangan gue yang AGAK jelek SEDIKIT, haha. Mulai dari Pak Rus (pembimbing lapang) yang bilang tulisan gue kayak tulisan arab sambil menyerah baca tulisan gue, trus Pak Lalan yang tiba-tiba ngintip gue lagi nulis bilang " kebaca sih saya tulisan kamu, kayak dokter yang lagi nulis resep kan", atau Pak Ifdal yang bilang sambil ketawa "itu tulisan petinju?". Hadeehhh,, perasaan tulisan gue ga jelek, cuma sedikit ga rapi. Itu aja. Eit, dilarang protes,haha.
Begitulah, sebenernya ada hal lain yang ikut memenuhi dada, iya seneng, iya sedih, ya gitu deh, cuma kayaknya ga perlu diceritain deh,haha.. Apapun itu, gue selalu percaya bahwa semua akan baik-baik saja dan gue akan selalu kuat menghadapi apapun. Setiap hal yang datang, pasti akan pergi dan setiap hal yang dimulai, pasti akan diakhiri. Nah, akhirnya ini kita lah yang memilih, karena takdir mengikuti pilihan. All is well. Dan kalimat favorite gue masih sama " La tahzan. Innallaha ma'ana ( Jangan bersedih. Allah bersama kita)".
aduh maaf ya, tulisannya aneh nih, haha.. yaudah ga usah dibaca ajalah ya, abstrak emang yang nulis (pemirsa: emang kita ga mau baca kok yan, tenang aja )
oke, selamat ramadhan. Selamat puasa dan selamat malam ^^
Label:
path
Selasa, 02 Juli 2013
Selayaknyalah Kita
Pada akhirnya kita kembali pada prinsip
ketika tak ada lagi tanya yang dapat dilontarkan
bukan tak menemukan jawaban
namun lebih karena kita terlalu lelah untuk bertanya
Pada setiap persimpangan, entah kiri atau kanan
pada akhirnya kita memilih
dan takdir mengikuti setiap pilihan
namun saat kita memilih berjalan bersama
maka satu payung bernama kebersamaan melekat pada satu arah
Bukankah hidup bukan hanya tentang jantung yang terus berdetak
bukan juga hanya tentang perut yang menjadi aman dan membuat ngantuk
disetiap sudutan jalan, disetiap tepian jalan
bukankah kita tak hidup hanya dengan tubuh sendiri
Iyaa, maka lah kita hidup dengan aturan
aturan yang terlalu lelah untuk kita pertanyakan kenapa
namun menjaga kita tetap pada ciri khas manusia
Lalu, apa begitu menyenangkan menjatuhkan orang lain?
seolah diri kita bak permata sempurna tanpa celah
apa begitu bangga menonjolkan diri dengan menenggelamkan yg lainnya?
padahal yang tertampak hanya sebatas kedengkian yang memuakkan
Aku menghindari perdebatan,
bahkan ketika setiap urat telah menebal
bahwa sewajarlah masa ranum adalah masa dimana kita tak pernah mau kalah
bagiku "ini buah pikirku, jika kau tak percaya, terserahlah"
Tak ada salahnya menjadi melankolis lebih banyak
bukan pada sifat cengengnya, namun pada sifat perasanya
iya, pintar merasa dan lebih sensitif merasai tindakan sendiri
Dan suatu ketika ketika kita telah terlalu lelah untuk bertanya
dan kita terlalu bosan untuk memaklumi
maka prinsip adalah hal pertama yang akan selalu kita pertahankan
Tanah terlalu asing, 2 Juli 2013
ketika tak ada lagi tanya yang dapat dilontarkan
bukan tak menemukan jawaban
namun lebih karena kita terlalu lelah untuk bertanya
Pada setiap persimpangan, entah kiri atau kanan
pada akhirnya kita memilih
dan takdir mengikuti setiap pilihan
namun saat kita memilih berjalan bersama
maka satu payung bernama kebersamaan melekat pada satu arah
Bukankah hidup bukan hanya tentang jantung yang terus berdetak
bukan juga hanya tentang perut yang menjadi aman dan membuat ngantuk
disetiap sudutan jalan, disetiap tepian jalan
bukankah kita tak hidup hanya dengan tubuh sendiri
Iyaa, maka lah kita hidup dengan aturan
aturan yang terlalu lelah untuk kita pertanyakan kenapa
namun menjaga kita tetap pada ciri khas manusia
Lalu, apa begitu menyenangkan menjatuhkan orang lain?
seolah diri kita bak permata sempurna tanpa celah
apa begitu bangga menonjolkan diri dengan menenggelamkan yg lainnya?
padahal yang tertampak hanya sebatas kedengkian yang memuakkan
Aku menghindari perdebatan,
bahkan ketika setiap urat telah menebal
bahwa sewajarlah masa ranum adalah masa dimana kita tak pernah mau kalah
bagiku "ini buah pikirku, jika kau tak percaya, terserahlah"
Tak ada salahnya menjadi melankolis lebih banyak
bukan pada sifat cengengnya, namun pada sifat perasanya
iya, pintar merasa dan lebih sensitif merasai tindakan sendiri
Dan suatu ketika ketika kita telah terlalu lelah untuk bertanya
dan kita terlalu bosan untuk memaklumi
maka prinsip adalah hal pertama yang akan selalu kita pertahankan
Tanah terlalu asing, 2 Juli 2013
Label:
path
Langganan:
Postingan
(
Atom
)