Jumat, 31 Januari 2014

Jembatan

Kenapa harus jembatan?
Ahli jembatan, ini impian baru seorang Dian. Impian yang besar namun insya Allah ga ragu untuk diucapkan. Masalah berhasil atau tidak, itu urusan nanti, yang penting yakin untuk bermimpi, itu hal pertama dan terpenting. 

Kenapa harus jembatan? awalnya tertarik pada jembatan hanya karena satu alasan "Jembatan itu susah, menguasai jembatan berarti juga menguasai gedung bertingkat". Awalnya hanya memaksakan diri untuk bertindak lebih. Meski jujur aja sadar-sesadar-sadarnya bahwa kemampuan pada jembatan masih NOL besar, namun dengan keras kepalanya memaksakan diri untuk berani mengambil jembatan.

Lalu kemudian, kenapa jembatan? terkesima sekali dengan ucapan pembimbing ke dua, Pak Hotland, seorang ahli jembatan, seorang pembuat jembatan "Insinyur itu, harus bisa membuat jembatan yang bisa dilalui orang. Kalo jembatan yang kamu buat tidak bisa dilalui orang atau malah mencelakakan orang lain, kamu dosa besar. Dosa besar sekali". Ucapan beliau ini menyadarkan gue mengenai satu hal. Jembatan, dia punya fungsi serta makna yang begitu besar. Jembatan bukan cuma sekedar penghubung tempat yang terputus, tapi ia juga berarti banyak. Jembatan bisa jadi penghubung harapan yang putus, bisa jadi penghubung nafkah yang putus, bisa jadi penghubung rindu yang putus. Lebay ya gue mendefinisikan jembatan? tapi ini benar adanya. Insinyur, ia adalah orang yang dituntut dengan segala ilmunya untuk melancarkan dan mempermudah hidup orang lain. Melancarkan dan mempermudah sesuai dengan ilmunya. Satu hal yang terpikirkan setelah mendengar omongan pak Hotland tersebut "kalo berhasil membangun gedung yang megah, indah, menawan, aman, ekonomis, mungkin hasilnya akan membuat orang bilang 'wah', tapi sayangnya gedung ini pasti tidak semua orang bisa memanfaatkan. Namun berbeda dengan jembatan, setiap orang, dari berbagai kelas, tanpa pandang bulu, bisa memanfaatkannya secara gratis, bisa menggunakannya tanpa perlu permisi."

Karena itu, kemudian yang terpikirkan adalah jembatan. Meski tau susah, meski pak Hotland sendiri pun kaget pas tau kita dibangku kuliah GA PERNAH belajar teknik transportasi tapi masih ngotot mau jembatan, meski apapun yang menghadang didepan, insya Allah berniat untuk belajar jembatan. Bukan seberapa sulit, tapi seberapa ingin belajar ^^

Begitu lah Allah

Alhamdulillah.. Allah selalu ngasih sesuatu yang tak terduga. Sekejap mata, dan tak terduga. Hal ini, bisa jadi hal yg membuat tawa atau malah duka, tapi apapun itu percayalah itu yang terbaik. 

2 hari yang lalu, gue sempet murung seharian. Sedih, menyesal, sekaligus marah ke diri sendiri. Sedih karena impian untuk 2 orang terkasih di bulan September (insya Allah) harus dikuburkan, menyesal karena kesempatan disia-siakan begitu saja, serta marah atas kelalaian diri sendiri. Sedih, menyesal dan marah yang kemudian menyadarkan gue "Kau terlalu sombong gadis kecil".

Iya, jika diingat, seberapa sering diri ini sombong, seberapa sering diri ini merasa hebat, seberapa sering diri ini meremehkan, jawabnya sering sekali. Berjalan arogan, melihat dengan arogan, dan berpola dengan arogan. Sering kali diri ini lalai, arogan yang membawa kelalaian. 

Maka 2 hari yang lalu, ketika kenyataan hampir didepan mata, ketika otak mulai menganalisis kemudian menerka, air mata jatuh begitu saja. Ternyata buah dari kesombongan begitu pahit rasanya.  Ah, 2 hari yang lalu, bahkan mata memancarkan kekosongan ketika tertawa. 

Namun, 2 hari yang lalu, Alhamdulillah menyadarkan bahwa diri bukan apa-apa, bahwa diri bukan siapa-siapa. Gue ga hebat, gue ga wah, gue ga super sekali. Gue biasa aja, gue punya sejuta kekurangan, bahkan dalam beberapa hal gue jauh dibawah rata-rata. Itu artinya, apapun yang gue mimpikan, harus mengeluarkan keringat ketika ingin menggapainya. Itu artinya, tanpa keringat gue tak akan menghasilkan apa-apa. Pun ketika impian itu tergenggam, maka gue harus ingat langkah tertatih-tatih diantara keringat dan tangisan-tangisan lemah diantara doa pengharapan, bahwa semua yang kita genggam adalah hadiah dari Sang Maha Pencipta. Bahwa segala yang kita punya adalah Pemberian dari Dia dengan segala kemurahan-Nya.

Alhamdulillah, sedikit goncangan di 2 hari yang lalu menyadarkan diri. Mengingatkan kembali pada sebuah nasehat tulus yang diucapkan kepada diri "Kedepannya, pujian akan banyak berdatangan, tapi harus tetap rendah hati ya Kak". Ini pesan yang selalu gue ingat (entah kenapa) dari sekian banyak pesan yang dititipkan kala itu. Dan akibat pujian, sejenak gue pernah lupa pada pesan itu, namun Alhamdulillah Allah mengingatkannya kembali.

Maka kemarin, gue tersenyum haru. Haru sekali. Diantara keputus-asaan pada impian sedari TPB, gue menemukan kemurahan dari Ia yang maha lembut. Lagi-lagi gue takjub pada kebaikan dan keajaiban hadiah yang Ia berikan. Alhamdulillah, ketakutan 2 hari yang lalu Ia jawab dengan sebuah kesempatan. Kesempatan sekali lagi, kesempatan sekali lagi setelah berkali-kali kesempatan yang Ia berikan namun selalu gue sia-sia-kan. Disaat hati telah begitu kecil, disaat hati tak ingin lagi berharap pada hal tersebut, kemurahan datang begitu saja. Ia menghadiahkan kesempatan itu begitu saja, sekali lagi kesempatan untuk memperbaiki.

Alhamdulillah, penuh syukur. Lagi-lagi, dan begitu banyak kenikmatan yang Ia limpahkan. Lagi-lagi, dan begitu banyak kasih sayang yang Ia berikan. Patah hati di 2 hari yang lalu serta jawaban pada hari kemarin, membuatku seketika tersadar. Alhamdulillah, Alhamdulillah. Terima kasih Allah.

Terima kasih telah menyadarkan diri ini ketika salah. Terima kasih Allah.

Untuk kedepannya, jika keringat belum pernah ditumpahkan disepanjang perjalanan hingga semester 7, maka sisa terakhir ini keringat harus banyak dicucurkan. Tak boleh lagi lalai, tak boleh lagi meremehkan. Berkeringatlah, karena tanpa keringat kita tak kan pernah menggenggam apa-apa. Berkeringatlah gadis kecil. Untuk 2 orang yang setiap hari selalu berkeringat di tanah kelahiran nun jauh disana. Untuk senyum 2 orang yang tak pernah kehabisan keringat demi dirimu. Semangat, Hwaiting, Fighting. jangan sia-sia-kan nikmat kesempatan dan kemampuan yang Allah titipkan padamu. Maksimalkan!!

Bogor di dini hari, pada akhir bulan Januari ^^
*Januari yang selalu menyimpan banyak makna*


Kamis, 30 Januari 2014

Ahh hatimu bergoncang lagi. Tapi tunggu dulu, goncangan apa ini? Alhamdulillah bukan lagi goncangan kelemahan. Syukurlah ini goncangan semangat. Syukurlah.

Gadis kecil, jangan bersedih lagi. Jangan menangis lagi, meski tangisan diam-diam, meski tangisan dikala sendiri. Ah bukan, kau boleh menangis, kau boleh menangis disela-sela sujudmu, kau boleh menangis disela-sela harapmu, kau boleh menangis di sela-sela takutmu. Menangislah jika itu suasana romantis dengan-Nya. Menangislah dan lembutkan hatimu. Tapi, berjanjilah untuk tak menangisi benda kesayangan yang dulu tiba-tiba hilang dari genggaman mu, berjanjilah. Tak apa, tak apa. Dia paham dan merencanakan yang terbaik untukmu. Kau harus terus percaya pada-Nya.

Gadis kecil, kau harus terus menguatkan dirimu. menguatkan agar goncangan ini bukan lagi kesedihan, agar goncangan ini dapat kita nikmati sebagai lecutan semangat. Kau harus terus menguatkan dirimu.

Kita, kita juga pasti bisa. Kita juga pasti bisa menebarkan senyuman di wajah-wajah orang-orang yang saat ini kita cintai, serta orang-orang yang akan kita cintai dimasa depan. Kita pasti bisa. Kita harus bisa. Karenanya, tumbuhlah. Besarkan dan beranikan hatimu. Besar dan Berani.


\


Rabu, 29 Januari 2014

sembuh

Bukan seberapa banyak sakitnya, tapi seberapa ingin diri sendiri sembuh
Bukan berapa kali terjatuh, tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berdiri kembali
Naturalnya, manusia mampu menyembuhkan dirinya sendiri, ia mampu meski terkadang ia gagal sembuh, namun naturalnya mestinya ia mampu.

Terluka? tak apa, kau bukan satu-satunya. Tapi ingat, jangan pernah kehilangan mimpimu. Jika sekali kau pernah, maka berikutnya jangan lagi. Jangan lagi kehilangan mimpimu.

Terluka? tak apa, suatu saat kau pasti sembuh. Suatu saat kau pasti jua menertawakan lukamu. Seperti pesan sahabatku "Sesuatu yang kau tangisi sekarang, bisa jadi adalah hal yang akan kau tertawakan dimasa depan, jadi jangan terlalu berlebihan". Ini sungguhan, sebab aku sendiri pernah membuktikannya, hal yang dulu kutangisi justru sekarang ku tertawakan. Jadi jangan khawatir, guaenchanayeo ^^

Karena itu, tak perlu lagi takut, tak perlu banyak khawatir. Jika jatuh, kau hanya perlu bangkit, jika luka kau hanya perlu menyembuhkan, kemudian dari setiap kejadian kau hanya perlu belajar.

Kau, terima kasih telah berani bermimpi lagi. Gadis kecil, terima kasih telah berani bermimpi lagi. Gadis kecil, aku bahagia menemukanmu lagi. Kita, mari kita bermimpi lagi dan kita biarkan Allah memeluk mimpi-mimpi kita.

Terima kasih telah bertekad dan berjuang untuk sembuh, terima kasih. Bersemangatlah, hwaiting!!


Selasa, 28 Januari 2014

Diam (2)

Diam. Diam itu emas, atau malah diam itu bau. Iya, diam diam tiba-tiba bau, haha.. Baiklah, rasanya sejak pulang dari gunung gue cuma diam di kostan sembari sesekali ke kota buat ketemu dosen pembimbing, atau sesekali juga muncul di akun sosial untuk menimpali obrolan-obrolan sederhana. Obrolan sederhana saja karena gue tau, Fly over tidak sederhana sehingga hal lainnya baiknya ditanggapi sederhana saja. Namun yang terjadi rupanya tak begitu, diluar sana hal rumit datang menyapa. Ia meniupkan "fuuuuuuhhhhhh", dan taarrrraaaammm gue kaget. Kaget sembari berkata "ini apa lagi", kaget sembari ngasih emot -_____-

Sebenernya tadi baru aja bikin tulisan panjang kali lebar yang maknanya luas, tapi kemudian setelah dipikir-pikir, diam jauh lebih aman. Kabur dan pergi, jauh lebih aman. Loh bukannya sejak kemarin-kemarin kita telah kabur? ternyata itu masih belum cukup loh, masih belum cukup. Buktinya, meski kabur, hal rumit pun masih saja dihubung-hubungkan dengan dirimu. Iya kan? meski cuma diam di kostan, ga ngapa-ngapain, masih aja kena imbasnya. Meski udah pergi bahkan sejak peringatan dilayangkan, ternyata masih saja diseret masuk ke zona ini. Zona yang jujur saja paling gue benci.
 AAhhh,, bukannya kita mau diam? ya terus kenapa malah ngoceh. Diamlah, entah diam emas atau diam bau. Yang penting kita diam. Diam saja, dan terserah mereka mau apa, terima saja. Stay Cool. Semangat penelitian, semangat punya mimpi lagi. Semangat. Hwaiting.

Kamis, 23 Januari 2014

Seri Papandayan (1)

Pagi >0<

Jadi ceritanya, yang punya blog baru aja nyampe kostan jam 4 subuh tadi. Ceritanya dia baru pulang dari naek Gunung Papandayan, Garut.

Papandayan, 1 kata yang mewakili, "Subhanallah". Papandayan bener-bener indah, keren banget, mantep, aseli keren mantep cakep.

Karena ceritanya yang punya blog lagi capek banget plus kakinya bengkak (maklum baru pertama kali naek gunung), jadi cerita plus foto-foto kece tentang papandayannya di skip sampai batas waktu yang tidak ditentukan, haha.. Ya begitulah, setelah melewati liburan yang super mengesankan dan bikin ketagihan, ceritanya yang punya blog lagi dikejar-kejar target Fly Over-nya.

Baiklah, selamat pagi, selamat tidur. Hwaiting, Semangat!!

Sabtu, 18 Januari 2014

ber-13-Januari-an

Saengil chukae hamnida
Saengil chukae hamnida
Naesarang, uri dian,
Saengil chukae hamnida >0<



Jadi ceritanya, si Dian baru saja ber-13 Januari-an untuk ke 22 kalinya. Januari, awal tahun. Seperti orang-orang kebanyakan yang mengajukan banyak harapan, rencana-rencana, serta evaluasi-evaluasi di awal tahun, gue pun begitu. Tahun baru, buat gue itu berarti umur baru, karena di awal tahun baru, gue pun menjalani awal umur yang baru. Itulah Januari, my january. Bulan dimana gue menata semua dari awal, menumbuhkan semangat dari awal, memulai semua dari awal, menyusun rencana dari awal, itu lah Januari. Januari yang selalu spesial, karena di Januari doa-doa dari keluarga, sahabat, teman banyak dilontarkan buat gue. Karena di Januari pelukan hangat dari sahabat sekitar, candaan kecil dari teman sekitar, sapaan hangat dari teman jauh, selalu datang dengan beragam bentuk. Di Januari, kejutan kecil pun selalu datang. Kejutan kecil yang selalu merekahkan senyuman :)

 
Ini kejutan kecil di 13 Januari yang ke 22, dari teman satu rumah, Mpok Lela dan Jeng Vivi. Kuenya, dibikin sendiri loh >0<
Hmm, tapi dua orang yang biasanya bikin kejutan kecil, di Januari ini belum muncul, bahkan sekedar ucapan pun belum disampaikan. Kita tunggu saja ya ada rencana apa mereka, haha.. 











 Nah, ini 13 Januari yang ke 21, yang bikin kejutan? dua orang yang tadi udah disinggung sedikit. Mereka adalah teman sekamar pas TPB serta teman sekamar ketika si Dian masih ngekost di Bateng, hehe...

 Baiklah diperkenalkan, sebelah kanan (yang pake kerudung) namanya Dyah ITP 47, dan sebelah kiri tante Novitha THP 47 :)









Kalo yang ini ni, ini 13 Januari yang ke 20. Pelakunya, dua orang diatas. Oya, ada satu kado yang bikin si dian ceritanya girang banget, waktu itu dia dapet kado lampu belajar (soalnya si Dian takut gelap) sama satu lagi editan foto dia sama Donghae. Si Dian, pas liat editan foto itu, ga berhenti senyum-senyum girang hahaha...










Yang terakhir, ini 13 Januari yang ke 19. Iyaaappp,, itu kita bertiga masih TPB. Dikamar 412, lantai 4 Rusunawa, dan kita cuma bertiga (berempat sih sebenarnya, tapi karena satu dan lain hal, jadinya kita bertiga).


Jumat, 17 Januari 2014

Abang

Aku punya seorang abang. Abang yang sebenarnya abang. Darah yang mengalir di darah ku, adalah darah yang sama mengalir di tubuhnya, meskipun banyak yang tak percaya bahwa aku adalah adiknya. Dari segi perawakan, dari segi wajah, kami berbeda. Tapi ia adalah abang, seseorang yang menyaksikan bagaimana aku tumbuh dari bayi hingga sekarang, seseorang yang memakan nasi dari penanak nasi yang sama denganku, ia seseorang yang berbagi rumah yang sama denganku.

Ia seorang abang, abang yang super menurutku. Abang yang menjadikan aku adiknya, seseorang yang menasehati, menyarankan, melarang, mengingatkan, bahkan menegur. Abang yang menjadikan aku temannya, seseorang yang mengajak ku olahraga di sore hari, seseorang yang meminjamkan ku komik dan bertukar anime dengan ku, seseorang yang ku ladeni untuk bertengkar, seseorang yang ku julurkan lidah ketika aku kesal. Abang yang menjadikan aku layaknya seorang pacar, seseorang yang mengajakku pergi makan di luar berdua, seseorang yang menemaniku belanja, seseorang yang menghadiahiku sepatu, baju, tas. Abang yang memperlakukan aku seperti anaknya, seseorang yang memenuhi hampir segala kebutuhanku, seseorang yang menjamin bahwa S1 bisa kukenyam tanpa perlu kekhawatiran terhadap uang.

Ia seorang abang, yang detik ini belum memutuskan untuk menikah. Bukan tak ingin, bukan belum umurnya. Ia hanya berpikir "biar adik-adikku menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu"

Ia seorang abang yang berkali-kali membuatku terharu begitu banyak. Ia seorang abang yang memikirkan kami, adik-adiknya, begitu banyak. Ia seorang abang, abang yang super, begitu banyak.

Aku punya 4 orang abang dan dari ke empat orang abang, aku punya 1 abang yang akan selalu ku nomer 1 kan. 


Minggu, 12 Januari 2014

Ceritanya...

seharian hujan, januari yang basah, dan selalu basah. tapi biarpun begitu, dian tetep suka januari. Apalagi tanggal 13 nya, hehe..

jadi ceritanya, malem ini pengen nulis hal aneh sebelum hal aneh dilarang di blog ini. lah, emang siapa yang ngelarang yan? yang ngelarang adalah dian yang semakin tua karena udah berusia 22 tahun. jadi ceritanya, besok dian akan menginjak usia double 2. dan menurut dian, dian udah tua, ga boleh kekanak-kanakan lagi. jadi tulisan kekanak-kanakan harus dihilangkan? kalo kebiasaan kekanak-kanakan yan? nah itu sedang dipertimbangkan hahaha...

Ahhhhhhhhh... Huaaaaa... Aigooo, aigooo, aigooo,, pengen banget guling-guling rasanya. Dian, dian, dian. Dian yang aneh, dian yang aneh, dan dian yang selalu merasa bahwa dirinya aneh.

jadi ceritanya lagi, dian lagi mempersiapkan diri buat besok, karena besok si dian bisa menebak bahwa dadanya bakalan sesak seharian kemudian dia akan berbicara banyak pada dirinya, menyadarkan dirinya kembali, dna menghimpun kekuatannya kembali. jadi ceritanya, si dian mulai mempersiapkan diri untuk sesuatu yang akan dia mulai besok.

jadi ceritanya malam ini, si dian ga jelas nulis apaan, cuma asal nulis diantara otaknya yang ga niat sama sekali buat belajar selain sedang dalam keadaan kepepet.  padahal ceritanya si dian hari selasa, disaat tanggal merah, bakalan ujian rekayasa kontruksi kayu yang bakalan merekayasa total otak dan hatinya.

ceritanya si dian lagi tersadar kemudian merasa malu. malu sama kelakuannya yang kekanak-kanakan. malu sama hatinya juga. malu sampe pengen guling-guling. malu sampe berkali-kali bilang "bodohnyaaaaa".

ceritanya pas lagi nulis ini si dian kedinginan, gara-gara seharian ujan. alhasil alergi dinginnya juga kambuh berulang-ulang.

ceritanya lagi, si dian kembali mengkhawatirkan sesuatu yang selalu dikhawatirkannya. kemudian si dian mulai lagi menyalahkan sesuatu yang juga sering ia salahkan. si dian mulai merasa bahwa dia telah terlalu banyak berdiskusi dengan dirinya sendiri hingga lupa berdiskusi dengan orang lain. si dian lupa bahwa dia tinggal didunia bareng-bareng sama orang lain, bukan cuma sama dirinya sendiri.

dan tiba-tiba, menjelang usia 22, si dian ceritanya semakin khawatir dan ketakutan. iya, dia khawatir sekaligus takut. ada banyak hal, ada banyak hal.


tapi ceritanya lagi, si dian mau udahan aja nulisnya. katanya sih si dian mau belajar. mau belajar apa mau liat Chilbong yan?

Omooo,, si dian lupa cerita kalo dia lagi suka sama chilbong. banyak temen-temen dian yang kecewa sama film Reply 1994 lantaran Na Jeong (cewek pemeran utama) memilih menikah sama Trash Oppa bukan sama Chilbong. tapi si dian pas nonton itu, malah ngangguk-ngangguk paham kenapa Na Jeong lebih milih Trash Oppa dri pd Chilbong yg ganteng. Soalnya, Na Jeong pengennya Chilbong menikah sama dian aja. gitu. Eits, ini blognya dian, jdi dilarang keras protes...hahaha..

Tuh, liatkan, betapa mempesonanya abang Ahn Yoon Suk (nama aslinya Chilbong)
"Chilbong-ah, saranghae <3"

















Jadi si dian, ceritanya mau menikah sama Chilbong, atau sama Donghae?

Jadi Ceritanya, si dian lagi bingung mau menikah sama Ahn Yoon Suk (foto diatas) atau Lee Donghae (foto disamping) atau si dian nikahnya sama kamu aja. Iya, sama kamu, sama kamu yang lagi baca tulisan ini. Cieeee hahahaha.. mohon dimaafkan ya pemirsa jika terdapat keanehan dalam postingan yang satu ini.











jadi ceritanya, si dian mau udahan nih ya. katanya sih mulai besok blog ini bakalan lebih waras tulisannya, katanya ya itu. kita liat aja seberapa besar komitmen dian.

oke, kalo begitu ceritanya diakhiri dulu. Annyeong.... ^^

Sabtu, 11 Januari 2014

Jagiya

Gue mau cerita tentang jagiya.

Jagiya itu diambil dari bahasa korea yang berarti "sayang", cuma jagiya ini lebih mengacu ke objek bukan predikat. Maksudnya, jagiya itu biasa dipake sebagai nama panggilan untuk seseorang yang kita sayang. Biasanya kalo dikorea, panggilan sayang buat mereka yang pacaran itu "jagiya" (tapi ini sepengamatan gue dari film-film korea ya hehhe).

Nah, kalo gue, gue ga menggunakan kata jagiya buat menamai pacar gue, yah alasannya udah bisa ditebak lah ya hahaha. Gue menggunakan kata "jagiya" utk menamai "temen" gue yang bener-bener gue sayang. Temen gue itu adalah Laptop dan Hp, fufufu..

Baiklah, gue perkenalkan. Gue punya dua temen dikala senang dan dikala sedih, temen yang hampir selalu gue bawa kemana-mana, temen yang selalu ngebantu dan memperlancar aktivitas gue, temen yang punya kekuatan ajaib mengubah mood jelek menjadi baik, temen yang sering jadi obat kebosanan, temen tempet gue curhat dan menyimpan banyak rahasia, temen tempet gue nitipin hal-hal yang gue suka misalnya film-film, video suju, lagu suju, dll, temen yang banyak sekali jasanya untuk kuliah gue, temen dengan berjuta peran deh pokoknya. 

Teman yang pertama bernama Jagiya Lepi. Jagiya Lepi ini adalah seorang leptop berwarna abu-abu berback-ground fotonya Donghae, haha. Jagiya Lepi, kami sudah berteman sejak TPB, jadi udah jalan 3 tahun lebih kebersamaan kami. Teman yang satu lagi, namanya Jagiya Lumia. Jagiya Lumia ini adalah seorang handphone berwarna pink. Kalo Jagiya Lumia, kebetulan dia baru setengah tahun jadi soulmate gue menggantikan Jagiya Merah yang meninggal beberapa waktu lalu (aaahh jadi sedih).

Jagiya Lumia dan Jagiya Lepi, mereka memiliki banyak kekurangan dan kelebihan yang unik. Baik Jagiya Lepi maupun Jagiya Lumia, terkadang mereka sering menunjukkan sifat keras kepalanya, terkadang mereka berdua juga sering banget ngambek. Apalagi Jagiya Lepi, dulu, Jagiya Lepi sering banget ngambek kalo kepanasan, maunya dikipasin mulu. Aigoo,, kalo dia udah ngambek gitu, gue palingan cuma bisa ngipasin sambil ngelus-ngelusin dia. Maklum, si Jagiya Lepi udah lama banget menemani gue, mungkin dia capek kali ya. Tapi untungnya semejak diservis ditempet yang bener, Jagiya Lepi ga pernah ngambek lagi. 

Nah, kalo Jagiya Lumia, dia juga pernah ngambek. dia ngambek seharian sampe bikin gue guling-guling galau. Gimana gue ga guling-guling galauu, dia ngambeknya kelewatan banget, seharian diem, ga ngerespon apapun yang gue lakuin ke dia, badannya panas, terus matanya melotot gede, ga mau tidur meskipun udah gue kasih obat tidur. dan parahnya, si Jagiya Lumia itu anaknya tertutup banget, Si Jagiya Lumia ga bisa dibuka, jadi betere nya ga bisa dicopot paksa. Alhasil gue cuma bisa tertunduk lesu ngebiarin dia sendirian dulu.

Jadi ceritanya, sejak 3 hari yang lalu, Jagiya Lumia sakit. Gue juga ga tau kenapa dia bisa sakit. Terakhir gue cuma mainin dia sampe baterenya habis dan mati. karena waktu itu gue sedang dalam posisi mau tidur, gue mikirnya nge-cash ini anak ntar aja pas gue bangun tidur. Alhasil, si Jagiya gue letakin di lantai sekitar 4jam-an. Nah, pas gue bangun tidur mau nge-cash dia, eh dia malah ga nyala. badannya dingin. Di-cash berjam-jam pun ga ada respon. Gue panik dong. Berdasarkan analisis temen gue, kayaknya si Jagiya kedinginan jadi organnya ga kerja. Iya sih kalo dipikir-pikir, malam dimana gue ngeletakin dia dilantai, itu bogor lagi dingin-dinginnya banget. Gue yang udah pake bad-cover aja masih kambuh alergi dinginnya, apalagi Jagiya yang diletakin di lantai tanpa pelindung apa-apa. Mianhae jagi :(

Akhirnya gue coba berbagai cara untuk menghangatkan dia, mulai dari ngeletakin dia di atas rice-cooker (terus gue diomelin sama temen gue "jangan letakin di atas rice-cooker, nanti mesinnya rusak"), ngejemur dia di atas atap (temen gue cuma geleng-geleng sambil bilang "lu ngejemur Hp lu? ckckckc"), sampe masukin dia di dalem beras 2 malem 1 hari (temen gue cuma ngakak sambil bilang "setau gue kalo Hp rusak tu diservis yan, bukan dimasukin dalem beras"). Tapi upaya itu tidak membuahkan hasil. Sampe hari ini ketika akhirnya gue menyerah dan mencoba membawa Jagiya ke Nokia Care, eh Jagiya bisa nyala lagi. Semua ini berkat saran dari temen gue. Dia bilang "mungkin mesinnya sleep, coba lu teken berbarengan antara tombol nyala sama tombol volume selama beberapa menit". Awal pas gue coba, itu ga berhasil. Alhamdulillah pas dicoba yang kedua kali, si Jagiya merespon dengan bergetar, kemudian muncullah layar bertuliskan "Nokia", kemudian "Windows Phone". Alhamdulillah sekali, Jagiya Sembuh dan gue seketika langsung bahagia *bigsmile*

Dulu, Jagiya Lepi juga pernah sakit, sering malah. Paling sering sih gara-gara virus. Pernah dulu pas gue PL, Jagiya Lepi sakit, dia sakit sama kayak Jagiya Lumia, ga mau nyala. Gue bener-bener hampir mati kebosanan saat itu gara-gara si Jagiya sakit. Meskipun ada si Jagiya Lumia, tapi tetep aja. Jagiya Lepi menyimpan banyak anime-anime kesayangan gue, lagu-lagu favorite, video-video koleksi sejak jaman SMA. Pokoknya waktu itu gue udah sedih aja pas mikir bakalan kehilangan file-file penting tersebut. Tapi untungnya, temen gue bisa memperbaiki dia. Makanya, gue sampe bela-belain balik ke bogor buat benerin si Jagiya Lepi.

Baik Jagiya Lumia maupun Jagiya Lepi, buat gue mereka berdua adalah kombinasi yang tak tergantikan dalam menemani hidup gue. Gue memang mengartikan mereka dengan lebay, bahkan ada beberapa temen gue yang bilang "Ih apa sih " pas tau kalo gue menamai dua benda kesayangan gue ini dengan nama-nama tersebut. Tapi, kalo dipikir-pikir, biarin ajalah orang mau merasa seperti apa, persahabatan diantara kami memang ga akan bisa dimengerti oleh orang luar. Dan satu hal, setiap orang punya cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya. Setiap orang punya cara unik masing-masing, nah kebetulan cara gue ya seperti ini, dengan memberikan mereka sebuah nama agar hubungan kami makin dekat, mengelus-ngelus mereka, ngajak mereka ngomong malahan terkadang. Iya, iya gue tau itu aneh, tapi gue bukan cuma suka ngomong sama Jagiya kok, gue malahan suka curhat sama boneka gue sebelum gue tidur, suka curhat juga sama bintang, kadang suka ngajakin ngomong posternya Donghae, Kyu, atau anak-anak suju lainnya yang terpampang di dinding kamar gue..haha.. Iya iya gue tau gue aneh... tapi biarkan sajalah ya hahaha...

Baiklah, sekian dulu cerita tentang jagiya gue, gue cuma berharap mereka berdua selalu sehat dan bisa menemani gue minimal sampe S1 gue kelar dan gue punya kerjaan tetap nan kece, hehe.. Apalagi Jagiya Lepi nih, perannya bakalan besar banget buat skripsi gue. 
"Jagi, harus betah ya berteman dengan diriku, mohon banyak bantuannya untuk kedepan, semangat sama jembatan kita >0< "


Jumat, 10 Januari 2014

Tere Liye

*di-copas dari Darwis Tere Liye*

 
“Ssttt… Diamlah sebentar.
Cinta sejati hanya bisa didengar justeru dalam senyap.
Bukan gegap gempita kalimat, yang mengaburkan makna.
Dan kita tertipu oleh tampilannya.


Ssttt… Ayo duduk sejenak.
Cinta sejati hanya bisa dikenali saat sepi.
Diperhatikan dengan seksama, dalam kesadaran diri paripurna.
Bukan berisik teriak-teriak ‘Aku cinta kamu’.
Hanya untuk esok lusa kita meratap kencang-kencang sebaliknya.

Ssttt…. Bisakah kita diam dulu?
Agar cinta sejati menunjukkan siapa diri sebenarnya.
Apakah yang ini, atau yang itu, atau mungkin yang lain lagi.
Dan kita harus menunggu dan bersabar.”



***

"Melupakan" adalah salah satu dahan dari pohon cinta. Dia dekat dengan dahan "melepaskan". Dan boleh jadi, besok lusa, seiring waktu berjalan, dua dahan ini justeru menjadi akibat penting bersatunya sebuah cinta.

Sayangnya, dahan-dahan ini tidak akan terlihat oleh orang yang terlalu dekat, melotot pula, takut sekali kehilangan, saat menatap pohon cinta. Terabaikan begitu saja.

***

Tidak semua rindu itu harus dikatakan. Lebih banyak yang sebaiknya disimpan dalam diam; apalagi jika rindu tersebut dalam bentuk hubungan yang tidak sesuai rambu2 agama.

Semoga dengan menahan diri, besok lusa diberikan kesempatan terbaik dalam cara yang baik menyampaikannya.


***



Nggak ada rumusnya hidup kita itu sepi, sendiri. Nggak ada rumusnya hidup kita sesak, sakit, bosan. Nggak ada.

Kalau memang tetap merasa begitu, ayo segera sana ambil wudhu, shalat. Mengadu pada Allah. 


Orang yang memiliki iman di hatinya, walau sebenang saja besarnya, tidak pantas merasa hidupnya sendiri.
 


Aku Berhenti



Aku berada pada suatu titik dimana aku mengerti
aku mengerti bahwa sebenarnya aku tak benar-benar mengerti
namun meski tak benar mengerti tapi aku mengerti

Aku berada pada suatu titik dimana aku mengerti
Aku mengerti bahwa aku harus berhenti
Meski tak benar mengerti, tapi aku mengerti bahwa harus berhenti
Meski tak banyak mengerti, aku tetap mengerti bahwa ini waktu untuk berhenti

Maka, aku tak lagi mencoba mengerti
Tak lagi mencari cara agar mengerti
Karena aku mengerti bahwa seharusnya lah aku berhenti

Aku berhenti


*Jangan memaksa!! Jangan memaksa orang lain jangan pula memaksa diri sendiri, apalagi memaksa Allah mu. Allah knows you so well, percayalah pada-Nya  ^^



Sabtu, 04 Januari 2014

Kalo takut capek, kita ga akan pernah belajar yan.
*Diantara sanling yang begitu melelahkan, semangat!!!*

Kamis, 02 Januari 2014

Kesimpulan

Terkadang kita menyimpulkan sesuatu terlalu banyak. Dari penglihatan, kemudian pendengaran, dibumbui dgn perasaan dan emosi,, kita melahirkan analisis. Analisis yg terkadang hanya sebuah bentuk pemuasan pada pertanyaan di hati. Analisis yang penuh terkaan. Kesimpulan yg kita tarik sendiri tanpa ada niatan untuk mengklarifikasikan pada objek lainnya, kesimpulan yg mengandung banyak ketak-pastian lantaran ia hanya tebakan dari hasil analisis, kesimpulan yg terkadang lebih banyak suudzonnya, kesimpulan yg kita buat seorang diri di dalam pikiran, ah betapa bahayanya ia.

Rabu, 01 Januari 2014

Idealisme



Idealisme yang kita utamakan. Idealisme yang kita buat sebagai pembungkus pilihan, tidak hanya pilihan hidup kita, tapi juga hidup mereka lainnya. Idealisme yang terekam jelas dipikiran tanpa pernah disampaikan. Idealisme yang tak semua orang mengerti. Idealisme yang kita paksakan tanpa ada penjelasan. Idealisme yang kemudian membuat kata tak mampu lagi kita ucapkan satu sama lain, meski hanya sebuah kata standar di penghujung sore seperti biasanya. Idealisme yang membuat wanita terlemah, ah bukan wanita terlembut hatinya, menangis dalam-dalam kemudian menyimpan kekecewaan yang juga dalam-dalam. Idealisme yang masih saja dipertahankan, meski waktu telah begitu banyak berlalu. Idealisme yang entah perlu atau tidak. 

Idealisme tanpa kata persetujuan dari yang lainnya. Idealisme yang dipaksa untuk diterapkan. Idealisme yang semakin meragukan. Idealisme yang memupuk kekecewaan. Idealisme yang mendinginkan kehangatan dan mengunci rapat mulut. Idealisme yang semakin dipertanyakan. 

Idealisme yang dipertontonkan pada gadis kecil sejak ia masih benar-benar kecil. Idealisme tanpa penjelasan. Idealisme yang ia coba mengerti tanpa ada penjelasan. Idealisme yang ia coba mengerti ketika dampak telah terasa. Idealisme yang membuat ia menyesali apa yang tak pernah ia lakukan. Idealisme yang membuatnya mengelus dada dalam kesendirian. Idealisme yang membuat sahabat adiknya memeluk erat dalam haru pada adiknya. Idealisme yang tak pernah ia curhat kan pada sahabat manapun. Idealisme yang diperbincangkan kakak adik dalam bisik-bisik pada bilik. Idealisme yang tak mampu ia tentang meski ingin, tak mampu juga ia pertanyakan meski penasaran. Idealisme yang masih tak ia temukan jawaban. Idealisme yang kemudian begitu takut ia terapkan namun justru tanpa sadar ia lakukan. Idealisme yang membuat ia menarik dirinya begitu banyak. Idealisme yang banyak membuat ia merenung dalam-dalam di tengah malam di atas sajadahnya. Idealisme yang membuat ia rindu pada masa kala itu. Masa dimana kata-kata hangat dipenghujung sore masih riuh disampaikan, masa dimana si kecil tak mengerti apapun selain boneka dan kuncir dua nya, masa dimana ia masih bermanja-manja pada semua kakaknya, masa dimana ia tak pernah melihat siapapun menangis kecuali teman sebayanya yang terjatuh dari sepeda, masa dimana dongeng si kancil masih setiap malam diperdengarkan bersama adiknya. 

Idealisme yang membuat ia banyak menyesali sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Idealisme yang membuat ia tersenyum tipis saat semua ego semakin menjadi-jadi sembari menenangkan adiknya. Ia hanya bertingkah tak ada apa-apa seraya berkata pada adiknya “sudah, lupakan”. Ia hanya mencoba lebih kuat dari adiknya karena ia tau, ia adalah kakak.

Idealisme, ia mendoakan idealisme ini pada setiap waktu terbaik untuk berdoa. Mendoakan sembari mencoba mengerti dan memaklumi. Mendoakan tanpa menyalahkan.