Senin, 29 September 2014

Sehat?

Setiap kali ada yg menghubungi saya (chat,sms,telpon, atau sejenis nya) dengan pembicaraan diluar kebiasaan kami berbicara, entah cara berbicara hingga topik pembicaraan, maka saya reflek menanggapinya:

pertama, saya memanggil namanya, misal A. Kemudian saya berhenti sejenak atau dengan kata lain menambahkan tanda "koma" kemudian disusul dengan satu kata yang diakhiri dengan tanda tanya yakni"sehat?". Versi lengkapnya "A, sehat?".

Jangan salah sangka. Sehat ini sebenarnya bukan berarti saya sedang menghawatirkan kondisi tubuh si pembicara. Tapi yang saya maksudkan dengan "sehat" adalah kondisi kejiwaan orng tersebut. Jadi versi panjangnya adalah "A, kondisi kejiwaanmu sehat?".


Selasa, 23 September 2014

Aku tak lagi suka sepi

Duuhh..
tulisan ini dibuka dengan kata penuh kepenatan, mungkin. Apa ya? pernahkah kamu takut pada sepi? Sepi, sendirian, membuatmu takut. Bukan karena tempat mu berdiri sendiri adalah sarang penjahat atau bukan juga sepi sendiri di hutan belantara penuh hewan buas. Bukan, ini sepi yang tak kan menyakiti fisikmu. Fisikmu aman, tapi tetap saja kau takut padanya. Ini tentang sepi yang memakan jiwamu. Sepi yang membuat hati mu resah serba salah.

Kata temanku, dia kaget mendengar kabar bahwa aku telah berada kembali di kampung halamanku yang nun jauh disana, padahal malam sebelum itu kami masih tertawa riang berbagi cerita, berbagi suka cita. Dia kaget. Kemudian kataku, aku juga kaget. Iya, jangankan dirimu, bahkan aku sendiri juga kaget. Kaget sekali.

Kaget, saking kagetnya aku bahkan masih sering bertanya-tanya "benarkah?". Saking kaget nya terkadang aku masih dengan sengaja mencupit anggota tubuhku hanya untuk memastikan bahwa aku sedang bermimpi atau tidak. Saking kagetnya, aku masih mengingat-ngingat, mencari-cari dengan mataku seolah ingin memastikan kebenarannya. Tapi, jawaban yang kutemukan adalah, ini kenyataan. Tak peduli seberapa kagetnya, tapi ini kenyataan.

Kau tau, ada banyak hal yang menumpuk-numpuk dihatiku. Banyak sekali, tapi tak sepatah pun mampu ku keluarkan. Aku hanya tertawa ke sana kemari, berkata "aku baik-baik saja" kesetiap orang yang bersimpati kepadaku, bahkan aku menceritakan garis besarnya dengan tersenyum dan santai saat mereka bertanya kronologisnya. Iya, aku melakukan itu. Maka benarlah apa yang temanku katakan "Lo itu cuma bisa cerita hal-hal yang umum aja, tapi hal yg pribadi perasaan lo, lo ga pernah mau cerita". Iya temanku benar. Dia benar, seperti sekarang itulah yang terjadi padaku. Numpuk dan menumpuk, karena itu lah aku takut pada sepi sekarang.

Aku takut pada sepi sekarang. Aku tak menyukai sepi, karena saat sepi-lah saat dimana segala hal terasa dan semakin kerasa. Saat sepi-lah sesak itu datang menghampiri. Saat sepi-lah keresahan yang meresahkan itu kurasakan. Saat sepi. Karena itu aku tak suka sepi. Aku tak lagi suka sepi.