Sepenggal
Kisah Tentang Negeri Terkasih
: mengoyak rindu di
perantauan
Demi
malam-malam yang bergelayut manja pada pagi. Kota asing yang dingin. Dua bola
terkantuk-kantuk. Merayapi lembar-berlembar kertas harapan. Pada doa dua
pertiga malam, yang saban rutin hari ibu kirimkan.
Bagiku, tanah ini asing. Negeri asing yang amat bising. Negeri asing yang… ah, bahkan hujan pun tak persis sama. Bahkan malam tak sama kelam!
Pada mulanya hati tak paham. Hanya mengarah pada sebait harapan dua insan. Harapan sederhana tentang hidup di tanah kelahiran. Sederhana, tentang rumah, tentang perut segelintir orang. Hanya kemudian, bagai selaksa kabut hitam menutupi pandangan, tertiup angin, terdispersi, menghilang. Bah, betapa kagetnya aku, langit kita tak sama biru!
Hingga aku terongok di pembaringan. Bukan pembaringan terakhir, bukan pula pembaringan rindu. Hanya Pembaringan yang tak hangat namun memanaskan otak yang terpaksa berputar.
Siapakah aku?
Aku
menekan perut demi merasakan perut sekitarku. Perih, sungguh. Seperih hati pada
pikiran loyo untuk negeri.
Lalu bagaimanakah aku?
Aku
mematung. Menghitung deritan nafas teman seperjuangan. Terasa lebih tenang dari
pada nafas anak kecil berkopiah berkantong plastik. Jauh lebih damai dari si
renta di pingiran jalan.
Kembali aku teringat pada malam malam merah menyala. Mencoret-coret pada lembaran kertas karya mereka, yang saban hari kujejalkan pada otak dungu. Membisu, menuli, dan membuta. Coretan ini telah kehilangan makna.
Duh malunya hati ini. Bahwa tangan tak pernah berbagi. Bahkan pikiran hanya sebatas kertas persegi. Padahal negeri kami, padahal negeri kami... memilukan, memupuk sembilu di perantauan. Menghantam, menghempas, menampar impian tentang sebuah peristiwa saklar berpakaian hitam.
Ah, betapa berdosanya diri. Berbasah-basah tabah hanya pada dua tiga huruf dibelakang nama. Berpeluh-peluh raga dan ruh hanya demi secangkir teh di peraduan senja, bahkan hanya pada sebuah rumah. Padahal negeri kami, menjerit terhimpit, mengadu tertahan, meratapi usia yang semakin menua.
Hanya pada selembar kertas hasil perjuangan. Dari sebuah tempat singgasana pendidikan. Kupertanyakan merah nyalaku untuk negeri.
Kota
asing yang teramat dingin, 28 April 2013
* ini puisi yg Alhamdulillah juara 2 di FAC 2013. gue juga ga paham kenapa bisa menang. tolong maklumi kalo ga seindah tulisan pujangga lain, maklum ane bukan pujangga cing, hihihi. ceritanya, ngikutin FAC ini antara niat ga niat. cuma, gara-gara sahabat saya, sebut saja namanya angga, akhirnya kepaksa ikut, hahah, dan ide nulis ini pun munculnya h min berapa jam gitu. kacau dh pokonya. tapi, alhamdulillah menang. mau bilang makasih juga sama tmen gue yg satu itu. dia salah satu penyemangat anak-anak SIL. selalu berbagi dengan semangatnya. iya, gitu deh pokoknya, hahaha...*
Tidak ada komentar :
Posting Komentar