Selasa, 02 Juli 2013

Selayaknyalah Kita

Pada akhirnya kita kembali pada prinsip
ketika tak ada lagi tanya yang dapat dilontarkan
bukan tak menemukan jawaban
namun lebih karena kita terlalu lelah untuk bertanya

Pada setiap persimpangan, entah kiri atau kanan
pada akhirnya kita memilih
dan takdir mengikuti setiap pilihan
namun saat kita memilih berjalan bersama
maka satu payung bernama kebersamaan melekat pada satu arah

Bukankah hidup bukan hanya tentang jantung yang terus berdetak
bukan juga hanya tentang perut yang menjadi aman dan membuat ngantuk
disetiap sudutan jalan, disetiap tepian jalan
bukankah kita tak hidup hanya dengan tubuh sendiri

Iyaa, maka lah kita hidup dengan aturan
aturan yang terlalu lelah untuk kita pertanyakan kenapa
namun menjaga kita tetap pada ciri khas manusia

Lalu, apa begitu menyenangkan menjatuhkan orang lain?
seolah diri kita bak permata sempurna tanpa celah
apa begitu bangga menonjolkan diri dengan menenggelamkan yg lainnya?
padahal yang tertampak hanya sebatas kedengkian yang memuakkan

Aku menghindari perdebatan,
bahkan ketika setiap urat telah menebal
bahwa sewajarlah masa ranum adalah masa dimana kita tak pernah mau kalah
bagiku "ini buah pikirku, jika kau tak percaya, terserahlah"

Tak ada salahnya menjadi melankolis lebih banyak
bukan pada sifat cengengnya, namun pada sifat perasanya
iya, pintar merasa dan lebih sensitif merasai tindakan sendiri

Dan suatu ketika ketika kita telah terlalu lelah untuk bertanya
dan kita terlalu bosan untuk memaklumi
maka prinsip adalah hal pertama yang akan selalu kita pertahankan


Tanah terlalu asing, 2 Juli 2013

Tidak ada komentar :

Posting Komentar