Gue lagi pusing, pusing aja (kayak yg gue bilang kemaren),
tapi satu hal yg gue syukuri adalah “gue ga pusing sendirian”. Gue pusing
berdua, sama Faiz, temen satu bimbingan dengan tema skripsi yg 80% mirip.
Ini sesuatu yg gue syukuri. Gue membayangkan, seandainya gue
ngejalanin ini sendirian, mungkin gue ga sanggup. Bolak-balik Jakarta
sendirian, ketemu orang-orang baru sendirian, ngolah data sendirian, main-in
software sendirian, nyari literatur sendirian, pusing sendirian, dsb. Jika situasinya
begini, sendirian, gue yakin gue ga akan jalan. Setidaknya, ketika gue
kebingungan dan ga menemukan titik cerah dari sekelumit gelap, gue yakin ketika
gue sendirian, waktu yg gue butuhkan untuk kembali berjalan setelah berhenti
akan lebih lama dari pada ketika gue punya partner. Bersyukur punya partner,
karena setidaknya, ada sebentuk perasaan ga enak ketika kita berlaku menghambat
kelancaran partner kita. Otomatis, disana ada sedikit usaha untuk lebih maju
dari hari-kehari. Bersyukur punya partner.
Sebenarnya, dari awal, seperti yg gue pernah bilang, tema
skripsi yang gue ambil seperti sebuah langkah sok-sok-an. Ada beberapa temen
gue yang berpikir “Skripsi mah yang gampang aja yan, yang penting cepet kelar”.
Ya, itu benar, tidak salah sama sekali. Tapi jika gue harus ngikutin kata hati
gue, maka jawaban gue adalah tidak. Niat gue dari awal, bukan pengen sok-sok-an
punya tema skripsi yg riweh (emang ini riweh yan? Haha), tapi gue memandang
skripsi adalah ajang besar untuk belajar. Ini ajang besar yang sayang untuk
dilewatkan. Di skripsi, secara bertanggung jawab, dosen pembimbing lo akan
berusaha semampunya untuk ngebimbing lo, untuk ngajarin lo. Artinya, ngebuat lo
dari ga tau jadi tau. Artinya lagi, ini ladang besar untuk belajar apa yg lo
pengenin. Makanya, gue sok-sok-an aja pengen jembatan walaupun di SIL ga pernah
belajar jembatan secara khusus. Tapi, justru yg tadi gue bilang, ini ladang
besar untuk belajar. Justru karena di kelas ga pernah belajar, maka ini adalah
kesempatan untuk belajar, dan ditambah lagi ada yg mau ngajarin. Pas banget kan?
Awalnya gue Cuma pengen stuktur atas, yang artinya mekanika
teknik yang diperdalam disitu. Namun, jalannya ternyata berubah. Dari struktur
atas, gue diarahin kestruktur bawah. Struktur bawah, itu artinya yang berperan
bukan Cuma mekanika teknik tapi juga geoteknik alias tanah. Situasi semakin
panas ketika jembatan yang disarankan adalah yang melalui sungai. Itu artinya,
selain cakupan struktur, cakupan yang harus difokuskan juga meliputi air.
Anggapan-anggapan saat beberapa rekan tau tentang cakupan
skripsi kita jadi beragam. Ada yg “oww air juga? Semangat yan” atau bahkan ada
yang “Lu maruk amat sih yan, udah struktur di embat, air juga di embat. Kalo struktur
ya struktur ga usah ribet-ribet mau air juga”. Lelucon setiap orang mah memang
beda-beda kan ya. Apapun itu, gue sih ketawa aja tanpa pernah mau berpikir
negatif, karena gue tau mereka ga bermaksud negatif.
Kalo dipikir-pikir, celetukan temen gue ada bener nya juga. Jika
dipikir-pikir, air yang jadi bahasan di skripsi gue sebenernya itu bisa jadi
satu buah skripsi. Tapi, entah bagaimana, saat dosen gue mengatakan keinginan
beliau memasukkan air kedalam skripsi gue, gue malah senyum kegirangan. Gue saat
itu sadar sih, ini bakalan riweh. Sebenernya saat itu gue juga sempet ngerasa
males sih “yah, dimasukin air deh”. Gue sempet mikir gitu, tapi setelah
pertemuan berikutnya sama Beliau, gue jadi malah senyum-senyum semangat.
Lantas kenapa gue sempet mengalami "pusing aja" ya? Ah bukan
apa-apa. Ini pusing bukan dalam artian putus asa. Ini pusing, pusing aja. Gue pusing
harus mulai dari mana. Di otak gue, ada banyak hal yang berebutan. Di otak gue
terekam banyak jadwal dengan faktor kepentingan yang sama dan memakan waktu yang
banyak yang harus dituntaskan, sementara itu otak gue juga menyadari bahwa waktu
gue tinggal sebulan lagi. Karena itu lah gue pusing aja.
Ada banyak hal yang harus gue mulai. Mulai pelajari, pahami,
kerjakan, kemudian kuasai. Ada banyak, dan mereka bukan hal yg gampang. Tapi bukan
berarti ga bisa kan? Hanya perlu usaha lebih banyak lagi. Iya itu jawabannya.
Dan kembali gue bersyukur punya partner. Setidaknya, saat
gue berada pada posisi bingung yang berujung pada "pusing aja", gue punya sejenis
alarm yang mengingatkan bahwa pusing tanpa bertindak adalah sama dengan
memperburuk keadaan. Mau pusing aja kek, mau pusing banget kek, ya tetep, kalo Cuma
guling-guling di kasur, pusingnya ga akan ilang, tapi malah bertambah akut. Dan hati-hati loh, jangan sampai skenario "lupa ingatan" harus dilaksanakan.
Begitulah cerita pusing aja yang pertama ini. Bagaimana pun,
skripsi ya begini. Harus pusing. Kalo ga pusing mah ga seru ya, hehe...
Semangat semangat..
*gue inget sebuah tulisan yang sempat gue baca. Tulisan itu
kurang lebih ingin menyampaikan “Lihat usaha mu, kemudian tanyakan pada dirimu,
jika seandainya kamu adalah 'pihak yang memilih' apa kah kamu akan memilih orang
seperti dirimu?”*
Oya, ngomong-ngomong, tanggal 21 tadi, Suju-M ngeluarin mini album ke tiga mereka, khekkhekhe... Gue kembali menemukan, bahwa bahagia itu sederhana, misalnya ketika oppadeul ngeluarin MV dengan gaya baru mereka. Gue paling suka saat mereka bertingkah "cowok banget", dengan gaya rambut yang memamerkan jidatnya, saat itu mereka terlihat jauh lebih tampan dari pada rambut di-poni-in, khekhekhe... *kalo gaya rambut Wig beterbangannya Hae yan? ya berhubung dia adalah suami saya, maka saya akan tetap suka, haha*
Ahhhh,, Oppadeul aku selalu padamu >0<
Tidak ada komentar :
Posting Komentar