Dari kecil aku selalu takut pada
jarum suntik. Setiap kali sakit, aku lebih memilih menelan banyak obat dari
pada disuntik satu kali. Disuntik selalu terlihat menakutkan, tak peduli
seberapa banyak kalimat bujukan untuk menenangkanku, aku tetap saja selalu
takut disuntik. Kata mereka disuntik tidak sakit, rasanya hanya seperti digigit
semut, sakit sebentar, setelah itu sudah, sakitnya berakhir. Tapi kalimat itu,
aku tak pernah percaya. Disuntik selalu sakit, dan aku menghindarinya. Tapi pada
akhirnya, selalu ada saat-saat dimana aku tak bisa menolak disuntik. Sewaktu SD
misalnya, sekali setahun sekolah kami kedatangan tim dari puskesmas yang
membawa tujuan mulia “memvaksin anak-anak”. Entah vaksin apa, aku juga tak
pernah mengerti, yang pasti setiap kali mereka datang, perut ku mendadak mulas.
Sebuah respon alamiah saat aku mulai ketakutan “perut mendadak mulas”. Dan celakanya,
hari vaksin ini tak pernah diumumkan sebelumnya, hingga tentu saja aku tak bisa
menghindari mereka. Maka hari yang begitu, aku selalu terduduk lemas di kursi,
menunggu takdir jarum itu menusuk tubuhku. Ibu ku tau aku takut disuntik. Tapi
aku harus tetap disuntik, biar sehat katanya. Aku ingat apa nasehat beliau saat
aku akan disuntik “Tubuhnya dilemasin ya nak, jangan dikerasin, nanti kalo
dikerasin jarumnya patah di dalam, bahaya”. Aku mengangguk saat dinasehati
begitu, bukan cuma sekedar anggukan, nasehat ini selalu ku ingat dan ku kenang
hingga saat ini, tentu saja ia ku terapkan saat harus berada pada situasi
disuntik. Dan begitulah aku, dengan pasrah disuntik, meski takut, meski benci,
meski sakit, tapi aku pasrah disuntik. Tidak menolak, tidak memberikan
perlawanan, pasrah dan ikhlas saja disuntik, toh dengan disuntik tubuhku
menjadi lebih sehat. Mereka yang menyuntikku ingin aku lebih sehat. Toh pada
akhirnya disuntik membawa kebaikan untukku.
Jika dipikir-pikir lagi tentang
disuntik. Bukankah hidup itu seperti aku yang disuntik? Ada beberapa hal dan
ada saat-saat seperti aku disuntik. Takdir, masalah, atau apapun itu, saat ia
datang ia seperti jarum yang masuk ke tubuhku. Sakit, mereka menimbulkan rasa
sakit. Tapi seperti biasa saat disuntik, aku harus ikhlas disuntik. Jangan dilawan,
jangan ditolak. Terima saja, hadapi saja. Meski sakit, ya terima saja. Toh
hal-hal seperti ini baik untukku. Hal-hal yang seperti ini, ada banyak kan. Hal-hal
yang kita tak boleh lawan, hal-hal yang kita tak mampu lawan. Tak perduli
seberapa benci, seberapa takut, seberapa sakit, kita tetap tak mampu dan tak
boleh lawan. Kita hanya harus pasrah, menerima, tanpa boleh melawan. Tentu saja,
seperti jarum suntik, jika dilawan ia akan lebih berbahaya. Jika dilawan ia
akan lebih menyakitkan.
Aku suka dengan Darwis Tere Liye
yang bilang “Hakikat cinta sejati itu melepaskan”. Kurasa bukan hanya sekedar
cinta sejati, tapi hakikat sebenarnya hidup adalah melepaskan. Akan ada saat
dimana kau memang harus melepaskan, tak peduli seberapa berarti, tak peduli seberapa
berat, tak peduli seberapa banyak harap dan mimpimu disana. Akan ada saat dimana
kau memang harus melepaskan, tanpa bisa bertanya kenapa, tanpa bisa
bernegosiasi mungkin bisa ditukar dengan apa, atau mungin waktunya diundur
sebentar. Tak ada, tak bisa, hanya melepaskan. Hanya mengikhlaskan untuk
dilepaskan.
Ibuku, aku ingat betul sosok
seperti apa dia. Dialah gambaran terbaik wanita terhebat sejagad. Kau tau
kenapa aku berkata begitu? Ia manusia yang menerima sesuatu dengan sangat baik.
Seberapa banyak takdir yang mengampiri mu, seberapa banyak yang mampu kau
terima? Kau tau, tak semua manusia memliki kemampuan merima sesuatu dengan
sangat baik. Tapi jika kau punya kemampuan itu, kau hebat sekali. Dan ibuku,
beliau memiliki kemampuan itu. Itulah kenapa bagiku beliau hebat. Kehebatannya
ini, selalu menjadi andalan beliau saat menasehati kami. Kehebatannya ini selalu
beliau upayakan untuk ditularkan pada anak-anaknya. Kau tau kalimat andalan
beliau? “Biar lah orang lain melakukan itu ke kita, asalkan jangan kita yang
melakukan itu ke orang lain”. Itu kalimat andalan beliau, selalu beliau ulangi
saat anak-anaknya mengadu atas tindakan tak semestinya dari orang lain, selalu
beliau ulangi saat anak-anaknya protes saat ibu diperlakukan dengan tidak
semestinya oleh orang lain. “Allah itu tidak tidur, nanti juga ada balasannya”
itu sambungan kalimat andalan beliau. Beliau menerima dengan baik apa yang
terjadi pada hidupnya. Meski begitu, beliau bukan wanita bodoh yang membiarkan
dirinya disakiti tanpa berani membela dirinya. Kau tau, orang yang jelas tidak
salah tapi membiarkan dirinya disakiti tanpa mau membela dirinya sendiri, ia
adalah orang yang bodoh. Ibu ku mengajarkan dengan jelas tentang ini. sejak
kecil aku terbiasa menyaksikan tindak tanduknya dalam mengambil peran
melindungi yang tersakiti. Jangan heran, karena background pekerjaan bapak,
rumah kami selalu menjadi tempat orang-orang mengadu. Dan ibu, beliau dengan jiwa
sosialnya mengambil peran menguatkan siapa saja yang seharusnya membela
dirinya. Sedari kecil aku menyaksikan ini, bagaimana beliau berprinsip “Jangan
sakiti orang lain, tapi jangan biarkan dirimu disakiti orang lain”. Pun saat
kita tetap merasa tersakiti setelah membela diri, ya sudah biarkanlah, terima
saja, ikhlaskan saja, jangan dibalas dengan balik menyakiti. Terima saja dengan
baik, tak perlu dilawan sakitnya. Ikhlaskan, terima dengan baik. Mungkin dibalik
sakitnya, Allah bermaksud baik pada mu. Allah ingin kamu lebih baik lagi. Seperti
jarum suntik yang menusuk tubuhmu, terima saja. Jarum itu punya tujuan agar
kamu lebih baik kesehatannya.
“Lah lah, biarlah, dak tau
ngapolah kito. Biarlah, dak tau nek ngula e agik”
“Biarlah orang kayak tu ke kito,
asal jangan kito bae yang kayak tu ke orang”
Aku merindukanmu. Semoga Engkau
di sayang Allah. Selamat hari ibu.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar