Senin, 22 Desember 2014

Disuntik



Dari kecil aku selalu takut pada jarum suntik. Setiap kali sakit, aku lebih memilih menelan banyak obat dari pada disuntik satu kali. Disuntik selalu terlihat menakutkan, tak peduli seberapa banyak kalimat bujukan untuk menenangkanku, aku tetap saja selalu takut disuntik. Kata mereka disuntik tidak sakit, rasanya hanya seperti digigit semut, sakit sebentar, setelah itu sudah, sakitnya berakhir. Tapi kalimat itu, aku tak pernah percaya. Disuntik selalu sakit, dan aku menghindarinya. Tapi pada akhirnya, selalu ada saat-saat dimana aku tak bisa menolak disuntik. Sewaktu SD misalnya, sekali setahun sekolah kami kedatangan tim dari puskesmas yang membawa tujuan mulia “memvaksin anak-anak”. Entah vaksin apa, aku juga tak pernah mengerti, yang pasti setiap kali mereka datang, perut ku mendadak mulas. Sebuah respon alamiah saat aku mulai ketakutan “perut mendadak mulas”. Dan celakanya, hari vaksin ini tak pernah diumumkan sebelumnya, hingga tentu saja aku tak bisa menghindari mereka. Maka hari yang begitu, aku selalu terduduk lemas di kursi, menunggu takdir jarum itu menusuk tubuhku. Ibu ku tau aku takut disuntik. Tapi aku harus tetap disuntik, biar sehat katanya. Aku ingat apa nasehat beliau saat aku akan disuntik “Tubuhnya dilemasin ya nak, jangan dikerasin, nanti kalo dikerasin jarumnya patah di dalam, bahaya”. Aku mengangguk saat dinasehati begitu, bukan cuma sekedar anggukan, nasehat ini selalu ku ingat dan ku kenang hingga saat ini, tentu saja ia ku terapkan saat harus berada pada situasi disuntik. Dan begitulah aku, dengan pasrah disuntik, meski takut, meski benci, meski sakit, tapi aku pasrah disuntik. Tidak menolak, tidak memberikan perlawanan, pasrah dan ikhlas saja disuntik, toh dengan disuntik tubuhku menjadi lebih sehat. Mereka yang menyuntikku ingin aku lebih sehat. Toh pada akhirnya disuntik membawa kebaikan untukku.

Jika dipikir-pikir lagi tentang disuntik. Bukankah hidup itu seperti aku yang disuntik? Ada beberapa hal dan ada saat-saat seperti aku disuntik. Takdir, masalah, atau apapun itu, saat ia datang ia seperti jarum yang masuk ke tubuhku. Sakit, mereka menimbulkan rasa sakit. Tapi seperti biasa saat disuntik, aku harus ikhlas disuntik. Jangan dilawan, jangan ditolak. Terima saja, hadapi saja. Meski sakit, ya terima saja. Toh hal-hal seperti ini baik untukku. Hal-hal yang seperti ini, ada banyak kan. Hal-hal yang kita tak boleh lawan, hal-hal yang kita tak mampu lawan. Tak perduli seberapa benci, seberapa takut, seberapa sakit, kita tetap tak mampu dan tak boleh lawan. Kita hanya harus pasrah, menerima, tanpa boleh melawan. Tentu saja, seperti jarum suntik, jika dilawan ia akan lebih berbahaya. Jika dilawan ia akan lebih menyakitkan. 

Aku suka dengan Darwis Tere Liye yang bilang “Hakikat cinta sejati itu melepaskan”. Kurasa bukan hanya sekedar cinta sejati, tapi hakikat sebenarnya hidup adalah melepaskan. Akan ada saat dimana kau memang harus melepaskan, tak peduli seberapa berarti, tak peduli seberapa berat, tak peduli seberapa banyak harap dan mimpimu disana. Akan ada saat dimana kau memang harus melepaskan, tanpa bisa bertanya kenapa, tanpa bisa bernegosiasi mungkin bisa ditukar dengan apa, atau mungin waktunya diundur sebentar. Tak ada, tak bisa, hanya melepaskan. Hanya mengikhlaskan untuk dilepaskan.

Ibuku, aku ingat betul sosok seperti apa dia. Dialah gambaran terbaik wanita terhebat sejagad. Kau tau kenapa aku berkata begitu? Ia manusia yang menerima sesuatu dengan sangat baik. Seberapa banyak takdir yang mengampiri mu, seberapa banyak yang mampu kau terima? Kau tau, tak semua manusia memliki kemampuan merima sesuatu dengan sangat baik. Tapi jika kau punya kemampuan itu, kau hebat sekali. Dan ibuku, beliau memiliki kemampuan itu. Itulah kenapa bagiku beliau hebat. Kehebatannya ini, selalu menjadi andalan beliau saat menasehati kami. Kehebatannya ini selalu beliau upayakan untuk ditularkan pada anak-anaknya. Kau tau kalimat andalan beliau? “Biar lah orang lain melakukan itu ke kita, asalkan jangan kita yang melakukan itu ke orang lain”. Itu kalimat andalan beliau, selalu beliau ulangi saat anak-anaknya mengadu atas tindakan tak semestinya dari orang lain, selalu beliau ulangi saat anak-anaknya protes saat ibu diperlakukan dengan tidak semestinya oleh orang lain. “Allah itu tidak tidur, nanti juga ada balasannya” itu sambungan kalimat andalan beliau. Beliau menerima dengan baik apa yang terjadi pada hidupnya. Meski begitu, beliau bukan wanita bodoh yang membiarkan dirinya disakiti tanpa berani membela dirinya. Kau tau, orang yang jelas tidak salah tapi membiarkan dirinya disakiti tanpa mau membela dirinya sendiri, ia adalah orang yang bodoh. Ibu ku mengajarkan dengan jelas tentang ini. sejak kecil aku terbiasa menyaksikan tindak tanduknya dalam mengambil peran melindungi yang tersakiti. Jangan heran, karena background pekerjaan bapak, rumah kami selalu menjadi tempat orang-orang mengadu. Dan ibu, beliau dengan jiwa sosialnya mengambil peran menguatkan siapa saja yang seharusnya membela dirinya. Sedari kecil aku menyaksikan ini, bagaimana beliau berprinsip “Jangan sakiti orang lain, tapi jangan biarkan dirimu disakiti orang lain”. Pun saat kita tetap merasa tersakiti setelah membela diri, ya sudah biarkanlah, terima saja, ikhlaskan saja, jangan dibalas dengan balik menyakiti. Terima saja dengan baik, tak perlu dilawan sakitnya. Ikhlaskan, terima dengan baik. Mungkin dibalik sakitnya, Allah bermaksud baik pada mu. Allah ingin kamu lebih baik lagi. Seperti jarum suntik yang menusuk tubuhmu, terima saja. Jarum itu punya tujuan agar kamu lebih baik kesehatannya.

“Lah lah, biarlah, dak tau ngapolah kito. Biarlah, dak tau nek ngula e agik”
“Biarlah orang kayak tu ke kito, asal jangan kito bae yang kayak tu ke orang”
Aku merindukanmu. Semoga Engkau di sayang Allah. Selamat hari ibu.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar