Sedari SD, kita selalu dibiasakan untuk menulis. saya ingat dulu guru SD saya selalu menyuruh kami menulis ulang kalimat-kalimat yang ada dibuku pelajaran atau minimal menulis apa yang ia tulis dipapan tulis. Kebiasaan ini dengan suka rela saya tekuni sampai kelas 6 SD. Namun saat saya SMP, saya mulai merasa bahwa semua ini sia-sia. Untuk apa menulis sesuatu yang secara jelas sudah tercantum di dalam buku, maka semenjak SMP saya berpikir lebih efisien untuk sekedar mendengarkan penjelasan guru tetapi tetap menuliskan hal-hal yang memang tidak disajikan dibuku pelajaran. Namun saat menginjak SMA, saya tidak lagi merasa catatan itu perlu, saya lebih mempercayakan semua hal yang saya dengar pada otak saya untuk merekam semuanya. Padahal cara ini tidak murni 100% berhasil karena ternyata otak manusia, khususnya otak saya ,menemukan kesulitan dalam mengingat kata-kata yang sulit, misalnya seperti istilah-istilah asing. Saat saya kuliah, saya dianjurkan untuk menuliskan semua mimpi-mimpi saya. “Tuliskan seratus impianmu dan tempatkan ditempat yang bisa kamu lihat setiap waktu”. Dulu saya pernah melakukan hal ini, namun hanya sebuah impian. Impian ini selalu saya tulis dimana pun, dibuku pelajaran, buku catatan, diary, kertas bungkus makanan, diatas meja belajar, dipohon, bahkan di buku pinjaman perpustakaan. “OSN, BISA, PASTI BISA, HARUS BISA”. Efeknya apa? Setiap kali membaca tulisan ini, seluruh darah saya seperti berkumpul dikepala, se-lemas, se-ngantuk, se-lapar,bahkan se-galau apapun saya saat itu, saya tidak akan berhenti berjuang untuk mimpi itu. Bahkan saat membacanya, rasanya seluruh sel-sel tubuh meneriakkan kalimat itu, sampai membuat mata berkaca-kaca. Ini serius bukan sebuah ke-lebay-an. Ini lah dahsyatnya kekuatan sebuah tekad, membuat dirimu kuat berkali-kali lipat dan tekad ini butuh yang namanya pengisian ulang. Nah tulisan mimpi itulah yang selalu membangkitkannya. Selalu mengingatkan bahwa ada sebuah impian yang harus diwujudkan, yang selalu menjadi cambuk saat saya mulai 3M (Menunda, Mengeluh, Menyalahkan).
Selanjutnya setelah sedikit saya amati, ternyata dengan menulis banyak mengantarkan orang pada puncak kesuksesan, minimal menghantarkanmu pada ajang-ajang berkelas nasional. Bahkan seorang mahasiswa pun diwajibkan menuliskan penelitiannya dalam bentuk skripsi, tesis atau disertasi. Itu artinya sebuah tulisan memegang peranan penting. Saya ingat, sejak dulu saya sering mengaku suka menulis, tapi pada kenyataannya saya jarang menulis. Alasannya mudah “ga ad ide, ga tau mau nulis apa, ga punya bahan tulisan” atau kebiasaan saya lagi, saya punya ide, sudah penuh dikepala, tapi begitu sulit untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan, padahal saya mengaku suka menulis. Kesulitan yang ditemui saat menulis memang beragam, ada teman saya yang bisa menulis apa yang dia pikirkan dengan cepat, tapi kalimatnya amburadul, tidak ada keterkaitan satu dengan yang lainnya, ada yang bisa menuliskannya dengan bagus diawal tapi mampet sampai tengah alias endingnya ga ada, nah kalau saya sendiri, saya sulit untuk memulai sebuah tulisan, bingung harus menulisnya dari sebelah mana, tapi saat saya telah menemukan awalan yang baik, maka berikutnya lancar dan mengalir dengan mudah. Namun permasalahan umum yang terjadi adalah persoalan ide. Banyak dari kita yang berdalih “belum dapet ide” untuk menunda menulis. Padahal ide menulis harus dicari, bukan ditunggu. Dimana mencarinya? Seorang penulis yang baik adalah pembaca yang rakus. Kalimat itu benar adanya. Bahan tulisan bisa didapatkan dengan mudah dari hobi kita membaca. Kebanyakan orang yang suka membaca memiliki bahasa tulisan yang bagus juga. Selanjutnya bahasa tulisan ini dapat dibentuk dari pengalaman menulis. Seorang master sastra yang saya hormati, guru saya sewaktu SMA, mengatakan bahwa setiap penulis memilki gaya menulis sendiri. Gaya ini akan kita temukan saat kita telah melahirkan banyak karya, ntah dua, lima, sepuluh, seratus, atau seterusnya dan satu lagi kalimat beliau yang membuat saya tidak pernah minder dalam menulis “ tidak ada tulisan yang salah” artinya tulis aja semau lo, mau nulis puisi? Boleh, nulis cerpen? Boleh? Essay, novel? Hayuuu.. Tidak ada yang berhak untuk mengatakan tulisan itu salah. karena tulisan adalah bentuk ekspresi perasaan manusia. Ia adalah salah satu bahasa kejujuran dari hati manusia. Namun kalimat “tidak ada tulisan yang salah” jangan disalahartikan bahwa kita boleh menghina SAR, menulis hal yang tidak sepantasnya didalam tulisan. Kata “salah” disini lebih dimaksudkan dalam “bentuk” tulisan tersebut, apakah ia pantas disebut karya sastra, bukan dari segi kelayakan dibacanya oleh masyarakat umum.
Satu lagi manfaat yang saya temui dari menulis. Tulisan membuat hal yang rumit terlihat lebih sederhana. Misalnya saat saya sedang dihadapkan dengan suatu permasalahan hidup, seperti ada ribuan beban yang menyesakkan hati, maka salah satu cara untuk mengerti semua permasalahan ini dengan menuliskannya. Dari tulisan itu biasanya saya akan menemukan sebuah solusi. Karena saat mulai menulis, saat itu hati saya akan mulai jujur, mulai menyingkirkan ego dan gengsi. Mungkin gampangnya seperti ini, sebuah soal kalkulus yang rumit bisa lebih mudah dicari pemecahannya dengan mencoret-coret disebuah kertas ketimbang memikirkannya hanya diotak saja.
Pada akhirnya, semua harus dimulai, tulislah semua hal yang menurutmu perlu ditulis. Tulislah sebelum lupa, bahkan ide menulis pun perlu dituliskan sebelum kamu lupa. Siap semangat bermanfaat yaa…
Tidak ada komentar :
Posting Komentar