Sedari dini hari tadi akun-akun sosial
dipenuhi dengan ucapan selamat serta doa-doa yang dihanturkan untuk sang negeri
yang berulang tahun hari ini. 67 tahun sudah negeri makmur ini merdeka. Seluruh
penduduk negeri ini bersuka cita. Bermacam-macam perwujudan kesukacitaan ini
mereka tunjukan. Ntah hanya melalui ucapan dan doa-doa singkat hingga aksi-aksi
nasionalis yang beraneka macam. Bergetar rasanya jiwa ini saat mendengar
lagu-lagu nasionalis yang diperdendangkan dibanyak stasiun televisi. Tiba-tiba
rasa haru meyeruak, antara bahagia dan sedih.
Diusianya yang cukup tua, negeri ini begitu
abstrak. Terlihat kemilau disatu sisi, namun begitu muram disisi lainnya. Aku
tak terlalu pintar untuk memahami apa yang terjadi pada negeri ini. Sepanjang
mata memandang di hari kemerdekaan ini, ada sejuta harapan yang begitu ingin
diwujudkan. Ada sejuta kritik dan protes yang berharap untuk adanya perbaikan.
Ada sejuta kebanggaan sekaligus kekecewaan. Pada siapakah sebenarnya semua ini
ditujukan? Pada siapakah harapan ini ditumpukan?
Dari pemikiran awam inilah aku berpikir
dengan sederhana. Jika tumpuan harapan hanya disandarkan pada segelintir orang,
maka percayalah harapan itu hanya akan menjadi kekecewaan. Jika segelintir
orang harus memutar otak untuk memikirkan kehidupan jutaan orang, maka sampai
kepala terputar kebelakang pun titik temunya tak kan ada. Kita tak bisa
menggantungkan hidup pada segelintir orang-orang ini. Walau bagaimana pun,
terlepas dari bagaimana kinerja mereka, mereka adalah manusia biasa. Tak ada
gunanya berharap tanpa bertindak. Tak ada gunanya menyalahkan tanpa memberikan
solusi. Tak ada gunanya saling curiga dan menuding. Ucapan selamat di berbagai
akun-akun sosial tak kan berguna banyak tanpa semangat perubahan.
Tak
perlu berfikir terlalu rumit. Tak perlu memikirkan nasib-nasib orang-orang yang
masih tertindas diluar sana, tak perlu memikirkan negara dalam cakupan luas.
Cukup pikirkan dirimu dan keluargamu saja. Cukup sejahterakan dirimu. Cukup
sejahterakan keluargamu. Cukup disiplinkan dirimu dan keluargamu. Cukup
sehatkan dan bersihkan dirimu serta keluargamu. Ketika setiap orang didalam
satu RT memikirkan hal tersebut, maka terciptalah satu RT yang sejahtera secara
hakiki. Jika setiap RT didalam satu RW melakukan hal tersebut, maka sejahteralah
satu RW tersebut. ketika setiap RW melakukan hal yang sama, maka satu kelurahan
akan sejahtera. Lama kelamaan, maka sejahteralah Indonesia.
Jumat Ramadhan, 17 Agustus 2012
Tidak ada komentar :
Posting Komentar