Minggu, 19 Agustus 2012

Enam Puluh Tujuh Negeriku



Sedari dini hari tadi akun-akun sosial dipenuhi dengan ucapan selamat serta doa-doa yang dihanturkan untuk sang negeri yang berulang tahun hari ini. 67 tahun sudah negeri makmur ini merdeka. Seluruh penduduk negeri ini bersuka cita. Bermacam-macam perwujudan kesukacitaan ini mereka tunjukan. Ntah hanya melalui ucapan dan doa-doa singkat hingga aksi-aksi nasionalis yang beraneka macam. Bergetar rasanya jiwa ini saat mendengar lagu-lagu nasionalis yang diperdendangkan dibanyak stasiun televisi. Tiba-tiba rasa haru meyeruak, antara bahagia dan sedih.
Diusianya yang cukup tua, negeri ini begitu abstrak. Terlihat kemilau disatu sisi, namun begitu muram disisi lainnya. Aku tak terlalu pintar untuk memahami apa yang terjadi pada negeri ini. Sepanjang mata memandang di hari kemerdekaan ini, ada sejuta harapan yang begitu ingin diwujudkan. Ada sejuta kritik dan protes yang berharap untuk adanya perbaikan. Ada sejuta kebanggaan sekaligus kekecewaan. Pada siapakah sebenarnya semua ini ditujukan? Pada siapakah harapan ini ditumpukan?
Dari pemikiran awam inilah aku berpikir dengan sederhana. Jika tumpuan harapan hanya disandarkan pada segelintir orang, maka percayalah harapan itu hanya akan menjadi kekecewaan. Jika segelintir orang harus memutar otak untuk memikirkan kehidupan jutaan orang, maka sampai kepala terputar kebelakang pun titik temunya tak kan ada. Kita tak bisa menggantungkan hidup pada segelintir orang-orang ini. Walau bagaimana pun, terlepas dari bagaimana kinerja mereka, mereka adalah manusia biasa. Tak ada gunanya berharap tanpa bertindak. Tak ada gunanya menyalahkan tanpa memberikan solusi. Tak ada gunanya saling curiga dan menuding. Ucapan selamat di berbagai akun-akun sosial tak kan berguna banyak tanpa semangat perubahan.
 Tak perlu berfikir terlalu rumit. Tak perlu memikirkan nasib-nasib orang-orang yang masih tertindas diluar sana, tak perlu memikirkan negara dalam cakupan luas. Cukup pikirkan dirimu dan keluargamu saja. Cukup sejahterakan dirimu. Cukup sejahterakan keluargamu. Cukup disiplinkan dirimu dan keluargamu. Cukup sehatkan dan bersihkan dirimu serta keluargamu. Ketika setiap orang didalam satu RT memikirkan hal tersebut, maka terciptalah satu RT yang sejahtera secara hakiki. Jika setiap RT didalam satu RW melakukan hal tersebut, maka sejahteralah satu RW tersebut. ketika setiap RW melakukan hal yang sama, maka satu kelurahan akan sejahtera. Lama kelamaan, maka sejahteralah Indonesia.  

Jumat Ramadhan, 17 Agustus 2012

Tidak ada komentar :

Posting Komentar