Jika
orng bilang bahwa pengalaman adalah guru terbaik, rasanya itu memang benar. Mungkin
ketika kita mendengar sahabat kita bercerita, kita bergidik, berdecak atau
bahkan ikut menangis, tapi percayalah semua tak lebih hanya sebatas angin lewat
yang memberikan kesejukan sementara waktu. Sementara ia telah lewat, terkadang
kita kembali meradang dalam panasnya kehidupan. Namun tengoklah pada sebuah
pengalaman yang raga dan hatimu sendiri
rasakan. Layaknya sebuah hujan lebat di lahan pertanian kering kerontang. Ia memupuk
harapan pada sebuah hijau yang ranum. Mengubah kerasnya tanah yang terzdalimi
oleh garam-garam hingga ia dipanggil tanah besi, memoles lembut akar-akar
tanaman yang telah merajuk dalam waktu lama. Singkatnya, ia berefek jauh lebih
banyak, entah negatif atau seperti selalu menjadi harapan kita dalam kehidupn
yakni ia yang positif.
Tulisan
ini mengawang, se awang khayalan yang berkeliaran entah kemana. Se awang rasa
yang membuncah didalam dada. Yang sebenarnya jika diluruskan setiap benang yang
kusut, maka garisnya terlihat sangat jelas. Hanya sebuah persoalan tentang
takutnya hati untuk berharap lebih. Hanya itu.
Berharap
lebih. Berharap lebih yang sebenarnya tak lebih untuk sebangsa dan sekaum ku. Hal
yang wajar menurut mereka. Bukan hal yang lebih. Tapi sekali lagi, pengalaman
itu mempertajam tingkat kewaspadaanmu hingga terkadang sampai pada tahap
meluber, tak tertahankan.
Bermain
aman jika ku bilang, padahal jika harus ku telusuri setiap bagian hati, maka
yang kutemukan hanya sebuah kepengecutan. Pengecut, tak berani mengambil
resiko. Takut terjatuh dan merasakan sakit yang sama. Takut melangkah dan
menghilang dibalik kegelapan tanpa menemukan jalan untuk kembali pulang. Takut
kembali terperangkat dalam ruang hampa udara yang menekan dada hingga tak bisa
bernafas dengan normal!
Percaya
dan mempercayai. Sebuah perjudian yang paling mahal bayarannya. Tak ada
jaminan, tanpa perhitungan matematis yang bisa dipecahkan logika, karena saat
hati manusia bermain di dalamnya, ia layaknya pedang digenggaman. Urusan percaya
dan mempercayai, kenaifan hati menertawakannya. Seolah urusan fana menjadi
lebih baik ketika seluruh matamu memantaunya. Namun, hidup tanpa mempercayai
siapapun, bukankah itu berarti kita tak hidup? Bahkan sebuah rumah yang
pintunya selalu tertutup tanpa membiarkan siapaun bertamu seringkali kita cap
sebagai rumah hantu. Lalu bagaimanakah dengan urusan hati? Apakah hati yang
begitu tertutup layaknya hati hantu? Ah, lagi-lagi urusan percaya dan
mempercayai
Teori.
Sebuah teori yang berliaran di dalam otak dan dipercayai oleh hati atau malah
hati yang membuat teori kemudian membentuk pola pikir pada otak? Namun ketika
masa ranum sedang dijalani, ketika semua tertawa bahagia dalam balutan pesona
urusan mempercayai, kembali teori tergoyahkan, bahkan hampir terpatahkan. Ia menunjukan
bahwa keegoisan hatimu tak membuahkan banyak hasil. Ia menunjukan bahwa
kekerasan kepalamu dan ketertutupan hatimu tak bisa kau pertahankan dalam waktu
lama. Pada akhirnya, kau harus tetap kembali pada perjudian berbahaya yang
tingkat kemenangannya hanya 50 %, percaya dan mempercayai. Seberapa takut pun,
kau tetap harus ikut andil dalam perjudian ini. Atau jika tidak, kau harus siap
mental hidup dalam ketidak normalan.
Ah,
maka nasehatku pada hati adalah ‘hati-hati’. Hanya sebuah kata yang meredamkan
senyuman disuatu malam, hanya sebuah kata yang menepiskan perlakuan manis yang
terekam didalam otak, hanya sebuah kata yang meletakkan segalanya di teras
rumah, bukan ruang tamu. Singkatnya, sebuah kata yang membangun benteng
berlapis-lapis sebagai bentuk pertahanan yang sebenarnya tak lain adalah
benteng yang melindungi sang putri dengan sakit parahnya dan ketakutannya. Benteng
kuat yang ia bangun sendiri sambil berharap akan datang seseorang yang mampu
menghancurkannya, kemudian menyembuhkan segala sakit yang ia derita. Meski tau
ia terlihat begitu bodoh, tapi ia tetap bertahan dalam kebodohannya.
Maka
garis seperti apa lagikah yang akan nampak didepan mata? Ah sudahlah, balutan
kerendahan hati dalam kelemahan yang meraja baiknya hanya disampaikan pada Ia
sang pemilik segala kekuatan. Dalam setiap simpuhan syahdu dimana hati hati
merendah dan mengadu. “kuatkan kaki untuk selalu melangkah Ya Rabb, semenggoyahkan
maupun semelemahkan apapun itu”
Tidak ada komentar :
Posting Komentar