Kamis, 06 Juni 2013

Hati Hati

   Jika orng bilang bahwa pengalaman adalah guru terbaik, rasanya itu memang benar. Mungkin ketika kita mendengar sahabat kita bercerita, kita bergidik, berdecak atau bahkan ikut menangis, tapi percayalah semua tak lebih hanya sebatas angin lewat yang memberikan kesejukan sementara waktu. Sementara ia telah lewat, terkadang kita kembali meradang dalam panasnya kehidupan. Namun tengoklah pada sebuah pengalaman yang raga dan  hatimu sendiri rasakan. Layaknya sebuah hujan lebat di lahan pertanian kering kerontang. Ia memupuk harapan pada sebuah hijau yang ranum. Mengubah kerasnya tanah yang terzdalimi oleh garam-garam hingga ia dipanggil tanah besi, memoles lembut akar-akar tanaman yang telah merajuk dalam waktu lama. Singkatnya, ia berefek jauh lebih banyak, entah negatif atau seperti selalu menjadi harapan kita dalam kehidupn yakni ia yang positif.

     Tulisan ini mengawang, se awang khayalan yang berkeliaran entah kemana. Se awang rasa yang membuncah didalam dada. Yang sebenarnya jika diluruskan setiap benang yang kusut, maka garisnya terlihat sangat jelas. Hanya sebuah persoalan tentang takutnya hati untuk berharap lebih. Hanya itu.

     Berharap lebih. Berharap lebih yang sebenarnya tak lebih untuk sebangsa dan sekaum ku. Hal yang wajar menurut mereka. Bukan hal yang lebih. Tapi sekali lagi, pengalaman itu mempertajam tingkat kewaspadaanmu hingga terkadang sampai pada tahap meluber, tak tertahankan.

      Bermain aman jika ku bilang, padahal jika harus ku telusuri setiap bagian hati, maka yang kutemukan hanya sebuah kepengecutan. Pengecut, tak berani mengambil resiko. Takut terjatuh dan merasakan sakit yang sama. Takut melangkah dan menghilang dibalik kegelapan tanpa menemukan jalan untuk kembali pulang. Takut kembali terperangkat dalam ruang hampa udara yang menekan dada hingga tak bisa bernafas dengan normal!
 
     Percaya dan mempercayai. Sebuah perjudian yang paling mahal bayarannya. Tak ada jaminan, tanpa perhitungan matematis yang bisa dipecahkan logika, karena saat hati manusia bermain di dalamnya, ia layaknya pedang digenggaman. Urusan percaya dan mempercayai, kenaifan hati menertawakannya. Seolah urusan fana menjadi lebih baik ketika seluruh matamu memantaunya. Namun, hidup tanpa mempercayai siapapun, bukankah itu berarti kita tak hidup? Bahkan sebuah rumah yang pintunya selalu tertutup tanpa membiarkan siapaun bertamu seringkali kita cap sebagai rumah hantu. Lalu bagaimanakah dengan urusan hati? Apakah hati yang begitu tertutup layaknya hati hantu? Ah, lagi-lagi urusan percaya dan mempercayai

     Teori. Sebuah teori yang berliaran di dalam otak dan dipercayai oleh hati atau malah hati yang membuat teori kemudian membentuk pola pikir pada otak? Namun ketika masa ranum sedang dijalani, ketika semua tertawa bahagia dalam balutan pesona urusan mempercayai, kembali teori tergoyahkan, bahkan hampir terpatahkan. Ia menunjukan bahwa keegoisan hatimu tak membuahkan banyak hasil. Ia menunjukan bahwa kekerasan kepalamu dan ketertutupan hatimu tak bisa kau pertahankan dalam waktu lama. Pada akhirnya, kau harus tetap kembali pada perjudian berbahaya yang tingkat kemenangannya hanya 50 %, percaya dan mempercayai. Seberapa takut pun, kau tetap harus ikut andil dalam perjudian ini. Atau jika tidak, kau harus siap mental hidup dalam ketidak normalan.

      Ah, maka nasehatku pada hati adalah ‘hati-hati’. Hanya sebuah kata yang meredamkan senyuman disuatu malam, hanya sebuah kata yang menepiskan perlakuan manis yang terekam didalam otak, hanya sebuah kata yang meletakkan segalanya di teras rumah, bukan ruang tamu. Singkatnya, sebuah kata yang membangun benteng berlapis-lapis sebagai bentuk pertahanan yang sebenarnya tak lain adalah benteng yang melindungi sang putri dengan sakit parahnya dan ketakutannya. Benteng kuat yang ia bangun sendiri sambil berharap akan datang seseorang yang mampu menghancurkannya, kemudian menyembuhkan segala sakit yang ia derita. Meski tau ia terlihat begitu bodoh, tapi ia tetap bertahan dalam kebodohannya. 

     Maka garis seperti apa lagikah yang akan nampak didepan mata? Ah sudahlah, balutan kerendahan hati dalam kelemahan yang meraja baiknya hanya disampaikan pada Ia sang pemilik segala kekuatan. Dalam setiap simpuhan syahdu dimana hati hati merendah dan mengadu. “kuatkan kaki untuk selalu melangkah Ya Rabb, semenggoyahkan maupun semelemahkan apapun itu”

Tidak ada komentar :

Posting Komentar