Hanya tentang sebait rindu yang ditorekan pada mata basah
berkaca-kaca
Tentang hati, asa, khayalan atau masa kelam yg terlewati tanpa kesempurnaan
Ah cinta, merasuk hanya pada satu bait
Menghias hampir separuh sajak
Akhir yg menggantung tanpa banyak kata terungkap
Namun rasa, layaknya bulan purnama dilangit gelap
Bahkan sang bintang pun begitu takut menampakan dirinya
Ranum, kita..
Seranum cinta pertama yang ditulis gadis desa
Namun persimpangan jalan selalu ada didepan mata
Hingga matang tak selalu lekat pada batang
Dan cinta, lagi-lagi cinta..
Ia merasuki banyak malam, menghiasi mata-mata kecil didalam
dada
Hingga penuh sesak tanpa ada lubang bernafas yg melegakan
Maka, doa rindu didua pertiga malam
Sayup-sayup di kerendahan hati
Diantara gamangnya hati yang lemah
Andai ia sesederhana rasa lapar yang teobati dengan
segenggam nasi
Atau rasa dahaga pada tegukan pertama
Andai
namun cinta, bahwa ia menjamahmu dalam kerendahan hati tak
ternilai harganya
maka doa rindu di dua pertiga malam
yang kulantunkan dalam segala kepasrahan
pada sebuah persimpangan jalan
bismillah..
Tidak ada komentar :
Posting Komentar