Niat memang memegang kunci pada hasil dari suatu tujuan. Niat baik atau niat buruk, hasilnya berimbang sesuai niatan. Niat baik akan berakhir baik, insya Allah. Begitu juga sebaliknya. Baik yang dimaksud tentu saja tidak selalu baik menurut kehendak kita. Tidak selalu, tapi ia berbentuk "baik" menurut yang Maha Bijaksana, jadi tentu saja itu "baik".
Galau adalah pertanda hati yang risau dalam mencari. Galau berarti hati mu sedang risau mencari tempat berlabuh. Galau berarti hatimu merindukan tempat berlabuh. Apakah tempat berlabuh yang lebih baik dari pada yang Maha Penyayang? Adakah yang lebih baik untuk berlabuh selain Dia yang Maha Penyayang? Tentu saja tak ada. Maka galau berarti hati mu sedang rindu pada Dia yang Maha Penyayang. Hati mu sedang risau akibat rindu pada tempat berlabuh terbaik, yakni Dia yang Maha Penyayang.
Niat yang baik, kemudian hati yang meng-galau, begitu saja meng-galau seiring proses perjalanan mewujudkan niat baik tersebut, pertanda apa kah ini? Apakah ini pertanda niat baik mu bukan lah niat yang baik? tentu saja tidak, keraguan itu datang seiring dengan setan yang rajin berbisik di kedua telingamu, merayu-rayu segumpal daging bernama hati milikmu yang terkadang lemah, menghembus bujuk-bujuk di otak mu yang terkadang hilang fokus. Itu lah asal muasal ragu yang berujung pada galau. Ada yang salah dengan niat baik awal yang kau niatkan? Tak ada. Sama sekali tak ada.
Maka, galau ini kembalikan lah ia pada definisi awalnya, "hati yang sedang mencari tempat berlabuh terbaik". Kembalilah lagi pada Dia yang Maha Baik.
Sebaik apa dirimu saat bercerita pada temanmu? Sebaik apa dirimu dalam menyampaikan maksud dan tujuanmu pada orang lain? Maka lakukanlah sebaik itu juga pada Allah mu. Bukan, lakukan lebih baik. Allah maha tahu, tentu saja. Tanpa perlu kau katakan, Allah tau apa-apa yang tersembunyi di hatimu, apa-apa yang berkecamuk di setiap bagian otakmu. Allah tau, sangat tau dengan sangat jelas. Tapi, cobalah untuk tetap menyampaikan sebaik mungkin pada Allah. Meskipun Ia tau segala hal, cobalah untuk menyampaikan serinci-rincinya. Apa beban mu, apa yang membuat mu sedih, apa yang membuatmu senang, apa yang kau sesalkan, apa yang kau harapkan, apa yang sebenarnya telah terjadi, apa yang membuatmu risau, apa yang membuat hati mu merasa tidak mudah. Katakan semua pada-Nya. Sebaik kau bercerita pada sahabatmu, sebaik itu juga katakan padanya. Bahkan, lebih baik untuk bercerita lebih lengkap dari pada biasanya. Bukankah, Ia maha tahu, maka kau tak perlu malu. Bukan kah Ia penjaga rahasia terbaik, jadi tak perlu khawatir. Bukan kah Ia pemilik hidup dan mati mu, maka tak perlu sungkan untuk jujur pada-Nya. Ia Maha Mendengar dan Ia Maha Bijaksana, Ia selalu ada untuk mu, kapan pun dan dimana pun.
Maka jika kau galau, suatu ketika jika kau galau, dengan alasan apapun, terlebih lagi jika kau galau dalam proses "niat baik" mu, jangan ragu untuk curhat pada pemilik hidup dan matimu. Kembali lah pada tempat berlabuh terbaik.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar