Senin, 13 Oktober 2014

-ber Kemudian Ber-

Dua kumandang azan terdengar jelas diantara dinding-dinding beton kompleks kita. Kita yang tak berarti benar adalah kita. Dua kumandang azan bersahut-sahutan. Tak beradu siapa yang paling cepat, tak beradu siapa yang paling lantang. Ia hanya menyampaikan ajakan dengan sentuhan kemerduan yang berharap mampu mengelus kita yang masih saja bergelut dengan pikirnya setengah harian.

Dua kumandang azan berakhir hampir serentak. Sepi dan sayup. Hanya putaran kipas angin yang menerbangkan satu dua potong kertas sekarang. Pelan-pelan suara televisi terdengar dari dapur belakang. Berbunyi sendiri, tanpa ada yang menonton. Selebihnya, sunyi sayup.

Diluar panas. Kota hujan yang tak lagi pantas menyandang gelarnya. Ia tak pantas karena ia panas, SEKARANG. Kompleks yang panas dan banyak nyamuk! Meski teknologi buah pikir otak telah di terapkan, masih saja banyak nyamuk! Sesekali ku lirik handphone yang tergeletak di meja. Ia menghitam, tak bersuara. Ia mati suri lantaran kehabisan pasokan energi hidup. Ia menambah sepi.

13 Oktober yang berarti keesokan hari 14 Oktober. Oktober yang menjadi garang. Akhiran -ber yang tak lagi bermakna BRRRR. Akhiran -ber yang bertanda revolusi bumi hampir melunasi satu putarannya. Akhiran -ber yang memaksa bertanya "ber- apa yang telah kau sandang?".

Kompleks masih saja sepi, hanya saja suara perut ikut berbunyi sekarang. Kreok-kreok, ia membunyikan alarm alaminya. Sang pemilik masih saja sunyi sayu di tatapannya. Menatap lurus 20 meter sepanjang jalan yang berakhir pada belokan kiri. Tak ada apapun disana, hanya sederet rumah dan mobil-mobil pemiliknya. Mobil, seperti impiannya pada seseorang dulu. Rumah seperti percakapannya dengan seseorang dulu, percakapan terakhir rupanya. Mobil dan rumah yang menjadi hayal tak kesampaiannya dulu. Ternyata, ia masih manusia biasa, lumrah dan sederhana.

Boleh saja pandangan hanya melayang sejauh 20 meter, tapi pikirnya terbang bebas di ketinggian. Berkelana ke banyak tempat. Tempat kenangannya, tempat impiannya, tempat mau dan ingin-nya. Berkelana jauh namun hampir tak ingin pulang. Sang pemilik perut kehilangan pikirnya.

Kompleks masih saja sepi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar