Sabtu, 10 Maret 2012

Tiga Bujang*

Bukanlah hal yang tak biasa lagi jika waktu sore seperti ini kita lewatkan berkumpul di teras .Kurasa seantero kampung telah begitu bosan menyaksikan wajah-wajah kita di teras ini. Dasar kau Bujang,tak sampai sepuluh jariku ,dalam dua bulan terakhir ini, menghitung banyaknya sore dimana matamu mau terbuka bersama kami menyaksikan perubahan kampung ini. Tapi bisa aku maklumi juga itu Bujang, hujan yang terus saja mengguyur kampung kita memang membuai siapa saja untuk menutup mata, mencari kehangatan. Begitu juga kau.
Sebegitu hangatkah kakiku Bujang, hingga kau begitu betah dan tak bergeming dari sana walaupun percakapan aku dan bapak begitu seru. Dasar kau Bujang, kau tak pernah berubah sejak dulu, sejak pertama kali kau masuk kerumah ini dan menjadi penghuni tetapnya. Lima Desember saat itu. Teriakan malangmu mengetuk jiwa luguku. Segera saja aku berlari ke rumah, sekencang-kencangnya, begitu takut keduluan muntahan langit yang semakin berat menampung titik-titik hujan.
“ Ibu..Ibu..” terburu-buru aku masuki rumah dan menuju dapur.
“ Ibu…aku..aku telah tertambat”susah payah kukeluarkan maksudku, kening ibu berkerut.
“ Aku..aku telah tertambat pada seekor kucing. Ibu, izinkan aku membawanya pulang” ibu hanya tersenyum dan tanpa perlu basa-basi lagi segera kupacu kakiku untuk menjemputmu. Dan sejak saat itu kau dan aku menjadi satu. Itu kejadian 8 tahun yang lalu. Kardus yang dulu menyertaimu dibuang pun telah bertahun-tahun hancur tak berbekas. Kau pun kini telah tua seiring dengan pertumbuhanku menjadi seorang pemuda yang tampan, begitu juga dengan penuaan bapak yang benar-benar telah nampak jelas kini.
Aku menjadi geli sendiri jika teringat celoteh Bi Yati tentang kita, ia bilang begini
“ Duuuuh…tiga bujang, apa tak bosan saban sore melototi pahon manggaku ini. Pantas saja ia tak mau berbuah, kalian membuatnya takut. Atau kalian sedang menanti sang bidadari datang bertamu? Tak perlulah kau nanti Bujang, bidadari ini tetanggamu sendiri.” Bi Yati menepuk-nepuk dadanya sendiri. Bapak hanya tersenyum singkat menanggapinya. Kita adalah tiga bujang katanya, kau, aku dan juga bapak yang sejak 6 tahun lalu kembali menjadi bujang. Aku jadi rindu ibu. Rumah ini terasa hampa tanpa tangan ibu, tanpa tangan perempuan. Kehangatannya menghilang sama seperti cat rumah kita. Kini tak dapat lagi kita jumpai aneka warna bunga yang dulu begitu rajin ibu rawat. Banyak yang hilang ya Bujang, tak pernah lagi ada aktivitas malam hari menunggu bunga sedap malam memekar semekar mangkok, atau sekedar berbagi canda tawa di bawah kelap-kelip sang bintang sambil mengamati gerak hariannya bersama teman-temannya dalam sebuah konstelasi.
Bapak tersenyum lebar, rupanya sedari tadi bapak asyik memperhatikan sekumpulan anak-anak yang bemain kelereng. Salah satu dari mereka menangis dan itu yang membuat bapak tersenyum.
“ Anak Pak Amir itu persis sepertimu Bujang, mau menang sendiri, garang, tapi cengeng, rasanya susah menemukan hari dimana Kau pulang tanpa menangis. Ada- ada saja yang Kau tangisi, entah kau terjatuh dari pohon, kalah bermain kelereng, berkelahi dengan temanmu, kalah rebutan ayunan, atau Kau tidak diperbolehkan ikut serta dalam permainan” aku tersipu malu mendengar cerita bapak.
“ Kau akan pulang dengan beruraian air mata dan suara tangisan yang melengking. Dan Mira selalu menunjukan kasihnya saat itu, ia akan memelukmu erat, menenangkanmu lalu memandikanmu. Kau juga begitu mudahnya merajuk, Mira sangat khawatir tiap kali kau mengurung diri di kamar dan tidak mau makan. Itulah sebabnya ia selalu menuruti apa maumu Bujang.” Aku tertawa kecil menanggapi cerita bapak.
“ Tapi ibu begitu cepat pergi ya Pak”
“ Mira…perempuan yang baik, ia lembut dan sabar. Semua orang mencintainya, aku yakin Tuhan juga mencintainya, itulah mengapa Tuhan begitu cepat mengambilnya, Tuhan takut dunia akan menodainya.” Bapak menanggapiku begitu lembut, mata tuanya jauh menerobos sekumpulan awan colombus.
“ Aku bartemu Mira dengan sengaja, kedua kakekmu yang merancangnya. Masih jelas hari itu, Mira begitu muda dan cantik. Ia tersipu saat pandangan kami bertemu, ia selalu memainkan kepangnya saat berbicara denganku. Atas rancangan kakekmu juga kami menikah dan akhirnya menetap di rumah ini.”
“ Sudah enam tahun Mira pergi, ah…tidak, bukan enam tahun, hampir tujuh tahun. Iya…benar, tiga bulan lagi tepat tujuh tahun kepergian Mira. Sudah hampir tujuh tahun Mira meninggalkanku. Aku pun semakin renta Bujang, Tuhan bisa memanggilku kapan saja Ia mau, hal yang mudah bagi-Nya menarik nyawaku dari tubuhku yang sudah rusak ini. Aku pun sudah siap untuk itu. Aku siap menyusul Mira. Aku siap meninggalkanmu, Bujang. Tak ada lagi khawatir di dadaku untuk meninggalkanmu. Kau sudah bujang. Kau sudah pantas menyandang nama panggilan itu.”
“ Tapi sebelum itu semua terjadi Bujang,….” Bapak menggantungkan pembicaraannya, ia menoleh padaku, tahulah aku apa yang sedang bapak pikirkan. Menikah, iya..sudah sewajarnyalah aku menikah dan memberinya seorang cucu.
“ Bujang,…menikah… izinkan aku menikah lagi..” bapak hanya mengucapkan kalimat yang singkat itu dengan pelan, tapi entah kenapa terdengar begitu kencang bagiku. Bapak menunggu responku dengan amat sangat, tapi aku hanya diam. Aku tak tahu harus menunjukkan respon yang seperti apa.
“ Bujang” kugoyang tubuh kucing kesayanganku itu.
“ Bujang..” ku goyang sekali lagi tapi ia tak mau bangun.
“ Bujang, dengarkan aku… bapak mau menikah lagi. Rumah kita nanti tak lagi
hampa, akan hangat seperti dulu, Bujang!” ku rapatkan selimut bujang dan kuelus keningnya. Aku terlalu lelah hari ini. Ku posisikan diriku tepat di samping bujang, ku punggungi ia.
“ Ibu…bapak mau menikah lagi” bisikku pelan. Air mataku jatuh seiring kukatupkan kelopak mataku.

****

Intensitas hujan telah jauh berkurang sekarang. Sudah tak ada lagi nyanyian ramai sang kodok, begitu juga laron-laron yang biasanya begitu asyik mengelilingi lampu teras rumah kita dan menyisakan banyak sayapnya di pagi hari. Intensitas kehadiran bapak di teras ini juga menjadi berkurang, hampir tiap sore bapak menghilang. Bapak asyik memadu cintanya sekarang.
“ Musim sudah berganti Pak, intensitas hujan sudah jauh berkurang, tetangga kita yang biasanya sibuk di ladang kini sudah sibuk kembali di laut. Sudah saatnya jaket-jaket tebal, selimut tebal dimasukkan ke dalam lemari, karena sudah tak pantas lagi dikenakan dimusim sekarang. Karena musim sudah berubah Pak!” sengaja kutekan kalimat terakhirku ini.
“ Musim memang telah berganti Bujang. Tapi jaket tebal dan selimut tebal itu masih boleh Kau kenakan jika Kau ingin. Tak akan ada yang melarangmu. Jangan takut Kau akan dihukum lantaran hal itu. Tak ada undang-undang yang mau mengaturnya. Itu sah, legal.”
“ Hukum memang tak kan mempermasalahkannya Pak, memang tak ada aturan di undang-undang tentang pemakaian jaket tebal dan selimut tebal. Tapi kurasa orang-orang sekitar yang akan menghukumnya dengan ejekan, dengan tatapan aneh. Lagipula benda itu sendiri yang akan menyiksa penggunanya.”
“ Tapi bagaimana jika orang itu pun terpaksa menggunakannya Bujang, lantaran ia menggigil misalnya, adakah orang akan mengejeknya? Menghinanya? Kurasa jaket itu malah akan membuatnya lebih baik!” bapak bicara begitu tegas.
“ Maafkan aku Bujang.” bapak berlalu begitu saja dari hadapanku.
                                                                      ***
“ Bujang, aku titip rumah sebentar” ujar ku pada Bujang. Kututup pintu rumah tanpa menguncinya dan berlalu. Pikiranku begitu kacau, serasa ada jutaan tangan yang mengocoknya. Ku percepat langkahku menuju pemakaman desa ini. Aku ingin bercerita banyak hal pada ibu. Lama aku berdiri mematung menatap ‘rumah’ibu. Aku hanya bisa menatap lekat-lekat ukiran di nisannya. Banyak kalimat yang telah kususun tiba-tiba hilang begitu saja. Semua rasa dapat berubah sekejap hanya dengan menatap nisan ibu. Lama aku mematung disana, sampai suara azan bersahut-sahutan dari kedua mushola di kampung ini.
Hari ini tak sepatah kata pun aku sampaikan pada bapak. Aku kembali seperti anak kecil lagi, mengurung diri di kamar, tanpa makan dan tanpa minum. Sebenarnya aku tak ingin keluar kamar lagi. Tapi aku tak tega denganmu Bujang. Kau kelaparan bersamaku. Mau tak mau kuajak juga kau ke dapur.
“ Bujang..” panggil bapak, bapak berdiri diantara daun pintu dapur, aku hanya menoleh tanpa menyahutinya.
“ Bapak ingin bicara sebentar” bapak tak menunggu persetujuanku, dengan percaya diri bapak menungguku di teras walaupun hari telah lumayan larut. Kuselesaikan dulu tugasku melayani Bujang, baru kususul bapak di teras.
“ Duduklah..” ujar bapak. Aku menurut saja. Tak sama sekali kutoleh wajah bapak. Aku sibuk mengamati rasi bintang malam ini. Orion yang hampir terbenam begitu mencolok di mataku.
“ Bapak tidak suka dengan sikap kekanak-kanakanmu ini Bujang. Kau sudah bujang, bukan anak-anak lagi yang harus dibujuk untuk makan. Lagi pula sekarang ini tak ada lagi orang yang mau membujukmu.”
“ Bapak sudah sadar kalau aku sudah bujang?” ku nanti respon bapak, tapi sepertinya tak ada, terpaksa aku lanjutkan kalimatku itu
“ Kalau begitu, seharusnya Bapak juga sadar kalau Bapak sudah tua “ ujarku sinis. Entah lari kemana sopan santunku sebagai seorang anak. Aku sudah siap dengan amarahnya bapak, tapi bapak hanya menghela nafas panjang.
“ Aku sadar Bujang, aku belum terlalu rabun hingga tak dapat mengenali kerutan-kerutan di wajah dan hampir seluruh tubuhku. Aku sadar bahwa musim telah berganti. Masaku telah berganti. Waktuku untuk menikah lagi telah hilang, aku sadar itu,sungguh…Tapi terkadang kita boleh keluar dari kebiasaan bahkan aturan sekalipun  jika kondisi memang memintanya begitu…”
“ Kondisi??? Bukankah Bapak sendiri yang bilang bahwa Bapak tak khawatir meninggalkanku kelak. Lalu untuk apa niat Bapak meninggalkan seorang ibu untukku? Atau Bapak merasa begitu tersiksa harus tidur sendiri??”
“ Tidak Bujang, tidak lagi, tapi dulu iya, awal-awalnya..tapi sekarang tak lagi. Aku….”
“ Lalu kenapa Pak??” ku potong omongan bapak, nadaku mulai meninggi.
“ Aku mencintai Mira Bujang, sangat mencintainya. Walaupun awalnya tidak. Walaupun ketika harus kuucapkan Ijab Kabul, hatiku untuk gadis lain. Walaupun awalnya tak ada getar-getar asmara saat aku menatapnya, namun seiring kau tumbuh di rahimnya, seiring itu juga cinta itu mulai ada untuknya. Dan seiring itu juga kuikhlaskan cinta pertamaku lenyap dan musnah. Tapi Bujang, takdir itu bicara, ia menuntunku kecinta pertamaku dulu.” Aku terhenyak mendengar pengakuan bapak
“ Jadi Bapak jatuh cinta lagi? Cinta Bapak bersemi lagi? Begitukah Pak??”
“ Aku tak pernah mengajarimu bicara kasar pada orang tua Bujang” bapak menatapku tajam.
“ Dimana sopan santun yang selalu Mira utamakan dalam setiap nasihatnya kepadamu??”
“Bapak masih ingin kuhormati??” ingin sekali kuucapkan kalimat itu, tapi kuurungkan. Aku bangkit dari kursiku. Aku ingin segera tidur saja.
“ Bujang..” panggil bapak. Aku tak peduli.
“Bujang!!” bapak memperbesar volume suaranya, seketika aku terhenti.
“ Aku belum selesai bicara!! Aku tahu aku bukan lagi ABG. Aku tahu tak pantas lagi bagiku untuk jatuh cinta. Dan aku juga yakin bahwa cinta pun sudah tak bernafsu lagi untuk menyapaku. Aku hanya ingin suatu saat pergi dengan tenang Bujang, tak menyisakan hutang seperti ini. Dulu aku meninggalkan gadis itu begitu saja, setelah kupenuhi ia dengan banyak janji, banyak sumpah. Aku tak kuasa menolak perintah kakekmu dulu. Hingga harus kutinggalkan ia. Sampai sekarang ia masih menungguku, menggadis seumur hidupnya, hanya untuk menantiku karena janji dan sumpahku. Aku tak lagi mencintainya. Tak jua kembali jatuh cinta padanya seperti yang Kau tuduhkan padaku. Sungguh..katakan padaku Bujang…katakan padaku Anakku,.. apa yang harus bapakmu ini lakukan?” kudengar suara bapak semakin parau. Aku tak kuat lagi. Kutinggalkan bapak sendiri.

****

Bapak semakin sering tak di rumah sejak satu bulan terakhir ini. Bapak akan pergi jam enam pagi dan pulang jam sepuluh malam. Begitu terus setiap hari dan tiap kali beliau pulang, bapak terlihat begitu lelah. Hingga sampai pada hari ini, belum lewat tengah hari bapak telah kembali ke rumah.
“ Sudah selesai pacarannya Pak??” ingin sekali kuucapkan kalimat itu, tapi kubatalkan lantaran raut wajah bapak yang terlihat sedih. Bapak berhenti melangkah di hadapanku.
“ Siap-siap… bantu bapak mengurus jenazah..” ujarnya pelan
“ Siapa yang meninggal Pak??
“ Gadis itu” bapak berlalu masuk ke kamarnya.
Rumah itu telah ramai, alunan Yasin begitu merdu terdengar. Tak ada isak tangis di sana. Air mata bapak pun telah kering. Hujan yang telah lama tak turun mengiringi kepergian ‘gadis’ itu. Rumah gadis itu kini tak berpenghuni lagi. Ia memang tinggal sendiri sejak ayahnya meninggal sebelas tahun yang lalu. Kudengar dari para tetangganya, ia memang telah lama sakit. Dan semakin parah sejak sebulan belakangan ini.
Malam ini hari kedelapan kepergian ‘gadis’ itu. Bapak mematung sendiri di kursi teras. Kudekati bapak.  
“ Ia pergi dengan damai Jang, sebelum itu ia berbisik pada bapak, ‘Bang, maaf..aku tak bisa jadi pengantinmu. Rasanya tak lucu melihat gadis tua ini duduk di pelaminan bersama duda yang juga tua. Mungkin kita akan bersanding di akhirat kelak, Insya Allah..23 tahun aku menunggumu, dan Kau ganti dengan tiga bulan bersamamu. Terima kasih… ku anggap itu bayaran atas janjimu dulu' . Bujang, bapak lega sekarang. “ kupeluk bapak erat.
“ Maafkan bujang Pak…”
***

Jakarta, Juli 2010
”Saat masa penantian yang begitu mengkhawatirkan dan Ia jawab dengan sebuah pilihan yang indah”
Bujang             : Panggilan untuk anak laki-laki di daerah Bangka yang belum menikah

Tidak ada komentar :

Posting Komentar