Senin, 19 November 2012

Kegalauan di Dua Pertiga Malam


Saat ini tengah malam. saya terbangun dari tidur lantaran belum solat isya. Ternyata temen-temen dirumah masih belum tidur. Sehabis solat, salah satu temen saya agak syok saat dia mengaduk-ngaduk facebooknya dan menemukan kabar seorang kenalannya telah meninggal. “padahal kemaren gue liat dia masih seger, sehat walafiat, ga kenapa-napa”, ujarnya kaget. Saat itu saya terkesiap dan teringat kembali pada hakikatnya maut. Tak kenal kondisi, tak kenal apapun. Jika sudah saatnya, ia akan datang menghampiri. Dan kita ga bisa nawar walau cuma satu detik!! Maut ini pasti datang kesemua yang bernyawa dan sayangnya kita tak pernah bisa memprediksi. Sungguh, ketika Ia kembali mengingatkan akan hakikat manusia ini, seluruh tubuh merinding.

Pertanyaan yang menyertai seketika itu adalah “apa yang akan dibawa nantinya?”. Dan serentetan perenungan menghujani, tentang untuk apa sebenarnya hidup yang saya jalani ini. Setiap pagi terbangun, mandi dan pergi kuliah, belajar dan tertawa, kemudian pulang dan berkutat dengan tugas, saat waktu aktif tubuh telah hampir lewat, mata kembali tertutup untuk menyambut hari esok. Beginilah setiap harinya. Tanpa menemukan arti yang cukup berarti. Waktu-waktu seperti ini terus menerus berlalu hingga tanpa sadar nantinya waktu akan habis *merinding lagi*.

Sebenarnya apa yang dicari dari kisah hidup yang singkat ini? Sering kali kita, khususnya saya sendiri, masih mengahbiskan waktu untuk berpusing-pusing ria dengan urusan hati yang fana atau biasa kita menyebutnya galau. Sering kali termenung bahkan merasa sedih untuk sebuah rasa yang sudah jelas jawabannya. Rasa yang ga halal saat ikatan belum Ia ridhoi!! Dan sepengamatan saya, inilah fenomena generasi kita sekarang, menjadi galau saat urusan hati yang berbicara. Efeknya bahkan membuat banyak hal terbengkalai lantaran disibukkan dengan aksi mengutarakan kegundahan hati di akun-akun sosial (padahal yang digalauin belom tentu baca dan peduli -_-“) sampai aksi bunuh diri (naudzubillah). Galau berhari-hari. Padahal, sekali lagi, tanpa disadari waktu terus berjalan dan akan segera berakhir.

Apa sebenarnya arti dari hidup ini? Sering saya dengar, hidup ini tak lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Mempersiapkan bekal untuk hari akhir. Waktu yang ada, pagi hingga malam kemudian pagi dan malam lagi tak lain dan tak bukan untuk beribadah kepada-Nya. Tentu saja pendangan beribadah ini tak boleh terlalu sempit. Beribadah bukan hanya kegiatan berdoa, solat, membaca alquran dan sejenisnya, namun pergi kuliah, makan, tidur juga merupakan ibadah saat semua itu dilakukan dengan tujuan untuk-Nya. Lalu bagaimana dengan aksi galau. Menurut saya, aksi galau juga ibadah, saat galau tersebut adalah merasa resah hatinya ketika jauh dari ridho-Nya ^^. Untuk galau masalah hati terkhususnya galau pada urusan lawan jenis yang tak halal, tentunya kita sudah tau jawabannya. Semoga kita tak hanya sekedar tau, tapi juga memahami.

Beginilah ke’galau’an malam ini. Ia mengingatkanku di dua pertiga malam ini tentang sebuah kewajiban makhluk ciptaan-Nya. Segala ambisi ambisi dunia, segala kesenangan kesenangan fana, segala harta dan titipannya, segalanya,menjadi tak berguna saat hanya selembar kain kafan yang kita bawa pada akhirnya. Manfaatkan waktu sebaiknya duhai diriku dan sahabatku. Mulailah dari hal kecil. Hanya dari hal kecil, semisalnya solat tepat pada waktunya dan tentu saja mengkhusukannya, ibadah-ibadah sunnah yang mudah (solat duha, tahajud, puasa senin kamis), bersedekah walau hanya seribu rupiah perhari (sama sekali tidak akan membuat kita jatuh miskin),  dan meluruskan setiap niatan dari kegiatan keseharian kita. Dari hal yang sederhana ini namun sering kali kita lalaikan. Dan semoga Allah selalu mengajari dan mengingatkan kita pada kebaikan. Hingga kesempurnaan sebagai seorang muslim dapat kita raih bersama. amin

Semoga bermanfaat sahabat. Dan jangan lupa berpuasa pada hari ini dan esok hari, puasa tanggal 8 dan 9 Djulhijah >0<

Tidak ada komentar :

Posting Komentar