“Ini bogor, dan ini november. Hujan yang menjadi akrab
disetiap sore kita.” Ini status yang saya tulis di fecebook hari ini. Satu
komentar muncul, dari kakak perempuan saya “ini gang merpati, dan ini dekat
pantai. Angin kencang menjadi akrab dengan kita setiap kali hujan (gak kalah
saing)”. Kontan saya tertawa membaca komentarnya. Hujan, kontrakan sepi, dan
dingin. Perasaan saya reflek mengalir sangat deras. Dan tentu saja semua
tertuju untuk mereka dirumah, ditanah kelahiran saya, gang merpati, Koba, Bangka.
Gang merpati, itu adalah nama gang rumah kami. Sebuah rumah berukuran besar yang dibangun pada tahun 1986 (kalau tidak salah). tak sampai seratus meter dibelakang rumah kami terhampar lautan luas dengan pernak-pernik khas pantai seperti sungai, pohon bakau, pohon kelapa yang menjulang tinggi, pasir putih, serta tumbuhan-tumbuhan pantai yang saya sendiri tidak tahu namanya. Rumah ini dibangun saat bapak dipindah tugaskan ke koba (bapak adalah seorang polisi). Ketika membangun rumah ini, hanya ada sekitar lima rumah disini. Sepi, hutan lebat, seram. Kenapa seram? Ditahun itu, masih banyak penyamun yang berkeliaran dimalam hari. Auman serigala masih sering terdengar. Cekikikan kuntilanak masih sering dijumpai, maklum pohon berukuran besar banyak tumbuh disekitar situ. Gang merpati, koba, belum tersentuh pembangunan apapun.
Keluarga kami pindah dari belinyu ke sungailiat, kemudian ke pangkalpinang dan terakhir menetap di koba. Bapak pun menghabiskan masa jabatannya di koba, dan saya serta seorang kakak dan seorang adik saya dilahirkan di koba. Koba, tempat yang selalu saya rindukan walau dimana pun kaki melangkah. Sesuatu yang selalu saya banggakan dari tanah kelahiran ini adalah langit malamnya yang hitam pekat dengan hiasan jutaan bintang-bintang membentuk konstelasi. Orion di bulan februari dan scorpio disekitaran agustus akan tampak bertengger di atas kepala saat malam mulai menjelang. Tiupan angin laut, deburan ombak, dan gemerisik daun-daun kelapa yang dipermainkan sang angin, perpaduan yang sungguh sempurna. Kalau kau beruntung, kau akan melihat gesekan batu luar angkasa yang mengkilat berapi di atmosfer, yang biasa orang sebut sebagai bintang jatuh. Bangunlah diwaktu subuh, dan menengoklah keluar rumah! Udara dingin dan segar dengan deburan ombak yang tenang. Langit masih tampak gelap dengan bulan yang masih bertengger dan setitik cahaya yang terang di sebelah barat, itu lah dia planet venus. Tak kalah saingnya, kokok ayam dan suara mengaji pak burhan dari mesjid menambah syahdunya waktu subuh ditanah kelahiran saya.
Rumah-rumah di tanah kami dibangun tak saling rapat. Disebelah kanan rumah saya terdapat dua pohon rambutan yang berukuran besar, tiga pohon jambu air, beberapa pohon kelapa, satu pohon coklat, dan beberapa batang salak. Disebelah kirinya dulu kami (pemuda-pemuda di gang merpati) buatkan sebuah lapangan badminton untuk tempat bermain santai atau malah menjadi lapangan bertanding saat tujuh belas agustusan tiba. Selain itu terdapat juga dua batang rambutan disana. Di depan rumah juga masih terhampar lapangan yang cukup luas untuk arena bermain kami saat kecil. Dibelakang rumah? Jangan ditanya. Bermacam pohon yang sengaja ditanam atau pun yang secara alami ada disana.
Saya jadi ingat, dulu sewaktu kecil, hari minggu pagi adalah hari berkebun kami. Saya, adik, dan abang akan pergi kebelakang rumah untuk berkebun. Kami merumput, menanam cabe, bengkoang, ubi, singkong, semangka, tomat, dan banyak macam. Terkadang kami menyalakan api dan membakar ubi disana. Kami makan dengan wajah berkeringat dan berlepotan terkena arang hitam hasil pembakaran kayu. Kami berkebun sampai matahari mulai naik keatas, merelakan tayangan film kartun di pagi hari minggu. Sepulangnya dari kebun, hidangan makan siang telah tersedia. Terkadang lempah kuning ikan (makanan khas bangka) dengan sambal terasi dan lalapannya, atau malah masakan kepiting bersantan dengan daun singkong.
Bagaimana dengan sore harinya? Jika hujan turun, saya dan adik saya mulai kegirangan. Memasang wajah memelas dan mulai merayu ibu saya agar diperbolehkan mandi air hujan. Sesekali beliau merelakan, sesekali beliau melarang. Jika ia mulai melarang, sebagai gantinya beliau akan memutar tape kami, menyalakan speaker dan mic, mulailah kami berdua akan bernyanyi secara bergantian. Meisyi adalah artis idola kami saat itu. kebiasaan bernyayi ini masih ada sampai saya dewasa. Maaf ya buat temen-temen sekontrakan yang terganggu dengan suara merdu saya, dan anak-anak karate yang tadi malem numpang rapat malah jadi pendengar setia konser kamar saya, hahaha. Lain ceritanya saat ibu merelakan kami bermain air hujan. Kami akan berlari ke ayunan di depan rumah. Terkadang kami membawa serta anak kucing yang kami pelihara untuk main bersama. Kucing kedinginan, kami kedinginan, semua tertawa terbahak. Bermain ayunan ditengah derasnya hujan yang turun. Alhamdulilah, hujan dibangka tak seperti dibogor, sangat jarang terlihat kilatan petir dan suara guntur. Saat hujan tak turun sore itu, kami akan berkumpul dihalaman depan rumah untuk bermain. Banyak macam permainan, main karet, main rumah-rumahan, main petak umpet (kami biasa menyebutnya sembunyi gong), main kelereng, main sepeda, main tamat (saya kurang tau bahasa indonesianya apa), main kejar-kejaran, caklingking, balon, rumah tanah, banyak macam lagi. Terkadang kami berkelahi, menangis, pulang kerumah, namun besoknya bermain bersama lagi.
Jika matahari menjadi terlalu terik, ibu akan melarang kami bermain diluar. Maka sebagai gantinya, saya, abang dan adik saya akan tidur-tiduran diruang tamu sambil membaca komik. Sebuah hobi yang sampai sekarang tak bisa lepas dari saya. Conan, dragon ball, doraemon, sinchan, donal bebek, bebapa komik pertarungan lainnya yang saya sudah lupa judulnya bertebaran disetiap sudut rumah kami. Jika anak-anak kebanyakan diluar sana akrab dengan majalah bobo, saya akrab dengan komik dan beberapa buku SMA kakak saya yang mengambil jurusan kesehatan (hal ini lah yang kemudian membuat saya pernah terobsesi untuk menjadi dokter).
Saat magrib mulai menjelang, kami terburu-buru pergi kemesjid dengan menyandang Alquran. Selepas magrib, kami akan mengaji dirumah pak Asmadi, guru mengaji kami. Pada mulanya, kami belajar mengaji dirumah. Saat program TPA masuk kemesjid kami, kami dengan girangnya belajar di TPA. Belajar mengaji, hafalan doa dan surat-surat pendek, belajar solat yang benar, menyanyi, menggambar, bermain, sungguh menyenangkan. Kami menyelesaikan TPA sampai kami diwisuda dan selanjutnya melanjutkan mengaji dirumah pak asmadi. Rutinitas mengaji disana setiap malam saya lakukan sampai pada akhirnya saya harus berpisah dari orang tua karena saya mendapatkan beasiswa full untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA di pemali, sungailiat. Disana kami diasramakan. Sebuah asrama yang banyak mendidik dan menggojlok mental saya, subhanallah.
Sejak kecil saya dibesarkan bersama kakak laki-laki saya. Kakak perempuan saya saat itu harus menempuh pendidikan di sungailiat sehingga ia sangat jarang dirumah. Namun sesekali saat ia pulang kerumah, saya sangat senang karena ia sering membawakan kami jepitan rambut atau ikat rambut yang lucu-lucu. Ia juga sering mendandani rambut saya yang panjang sebahu. Saat ia ada dirumah, saya selalu pergi sekolah dengan gaya rambut baru yang terkadang membuat sebagian orang dewasa menjadi sangat usil dengan mencubit pipi atau menarik ikatan rambut saya. Atau malah teman laki-laki dikelas yg menjahili saya. Saya ingat dulu sewaktu masih TK, saya selalu bersembunyi dibalik baju ibu saat melewati sebuah rumah. Saya takut bertemu denagn seorang kakak yang sangat suka mencubit pipi dan menarik hidung saya dengan gemasnya sambil memanggil saya susan. Padahal sangat jelas nama saya dian. Dia bilang saya lucu dan cantik seperti boneka susan, saya jadi malu,hahaha.
Ahh,, saya masih ingin bercerita banyak hal. Masa-masa kecil yang indah dan membuat kangen. Alhamdulillah penuh syukur atas karunia keluarga yang begitu hangat dan berkecukupan. Kami memang hidup tak melimpah, saya tak tau apa itu mall, dufan, video game, PS, boneka barbie dengan seperangkat rumahnya, bioskop, atau apalah hiburan orang-orang kota pada umumnya. Saya dibesarkan dengan cara sederhana, ditempat yang sederhana, tapi dengan cinta yang berlimpah.
Gang merpati sekarang memang tak sepenuhnya seperti dulu lagi. Pembangunan dikoba sudah cukup meningkat. Bahkan, kemarin saat saya pulang ke tanah kelahiran, saya sempat bingung menemukan gang merpati kami. Ada banyak perubahan disana. Rumah-rumah sekarang menjadi lebih rapat, ada banyak tetangga-tetangga yang tak saya kenali muka dan namanya. Gang merpati ramai. Auman serigala dan cekikikan kuntilanak berganti dengan dentuman DVD yang dipasang dirumah-rumah. Antara senang dan sedih, ntahlah. Pembangunan memang seprti ini, menyisakan kenangan dan memupuk harapan. Tapi satu hal yang masih selalu saya banggakan dari tanah kelahiran ini, atmosfer malam hari yang benar-benar syahdu. Saya berharap, langit kelam dengan suasana syahdunya masih akan tetap ada sampai nanti saat tangan saya telah digandeng oleh seorang ksatria cahaya ( cieeee,hahaha). Saya ingin menunjukan ini semua padanya. Saya jadi malu lagi ini,hahaha.
Sekarang hujan di bogor telah reda. Tulisan ini saya akhiri dulu.
Kamar kontrakan, dramaga bogor
Hujan, sepi, dingin
18 november 2012, 16:39
Tidak ada komentar :
Posting Komentar