Sungguh, ingin sekali, merasakan kembali atmosfer seperti
setahun atau dua tahun silam. Berkeringat, berpeluh, berpusing, menghabiskan waktu
dan disibukkan dengan sesuatu yang bernama ‘amanah’. Mengurangi waktu tidur,
memundurkan waktu nge-laporan, menunda untuk bergosip atau tidur-tiduran untuk
sesuatu yang bernama ‘amanah’. Iya, sesuatu yg bernama ‘amanah’ dimana tak
sepeserpun kita dihargai dengan rupiah, tapi nilai kepuasaan yang tiada terkira
saat tujuan kita bersama tercapai.
Hanya untuk sekedar berkata ‘iya’. Berat sekali rasanya. Bukankah
‘iya’ adalah pertanda kita siap dengan segala konsekuensinya? Bukankah ‘iya’
pertanda kesediaan yang menimbulkan sejuta harapan yang harus diwujudkan? Bukankah
kata ‘iya’ adalah sebuah amanah yang harus diemban, dan bukankah amanah itu
sesuatu yang akan Ia mintakan pertanggungjawaban? Sungguh, butuh pertimbangan
yang tak sedikit untuk berkata ‘iya’.
Bukan tak peduli, Bukan. bukan tega sekali, bukan. sungguh
bukan. namun ada kondisi yang harus diperjuangkan. Ada sekelumit urusan yang
harus diperbaiki. Dan, ada harapan mereka yang begitu besar hingga output pada
diri pribadi lebih diprioritaskan.
Maka, menjadi tak tamak dengan semua ‘jadwal’ ini adalah
keputusannya. Jika ada yang lebih mampu dalam segala hal, pilihlah. Insya Allah
tujuan dan harapan kalian tak akan pudar sedikitpun. Mohon maaf atas segala
kekurangan dan ketakberdayaan^^
Tidak ada komentar :
Posting Komentar