samudera ini masih sangat luas.. ia berujung namun tak tau kapan waktu bertemu ujungnya, bahkan letak pasti ujungnya. kita hanya berpegang teguh pada pedoman yang mendoktrinkan bahwa pelayaran ini akan menemukan ujungnya.
angin ini, ia entah kawan atau lawan. terkadang ia menghanyutkan perahu kita, membelai rambut kepala dan membuat kita gagah sebagai nahkoda. namun disatu sisi, ia menghantam hingga terkadang kita tersesat dan perahu oleng hampir pecah.
sejauh mata memandang, hanya air asin yang terkadang berkilau-kilau menggoda mata, atau malah hitam pekat tak menggairahkan.
dan terkadang lumba-lumba menari-nari dihadapan kita. kita tertawa, namun lekas usai.
kesunyian pekat kembali datang dengan beribu kekhawatiran tentang malam yang segera menjelang. cerah berbintangkah? atau mendung dengan hujan deras yang mengantarkan kedinginan
hamparan yg sama saja tiga ratus enam puluh derajat mata memandang, mengasah mental dan menguji kesabaran. serta pertanyaan tentang ujung yang belum juga terjawab. bahkan terkadang terasa terlalu menakutkan. seratus meter kedepan, meski aliran tampak tenang, apakah ada jaminan tak bersembunyi pusaran air kencang yang menghisap dan menelan perahu kita? tak ada. kita hanya seorang diri tanpa teman berlayar. hanya rasi bintang yang terkadang kita gunakan sebagai petunjuk arah. meski arahnya pun tak pernah kita pastikan itu apa. lalu sambutan angin yang terkdang sebagai kawan namun juga terkdang melawan, tak bisa diandalkan.
ah, tapi bukankah perjalanan ini ada ujungnya? meski tak tau kapan, meski tak jelas alamatnya. tapi perjalanan ini tetap akan berujung. jika angin tak jelas sikapnya, maka tangan kita masih bisa dipergunakan. mendayung perahu hingga tujuan, meski capai pasti terasa, namun perjalanan ini jauh lebih bermakna.
malam pasti datang, dan badai terkadang juga datang. namun tak selalu badai, adakalanya langit musim semi dengan taburan bintang berkilauan dan hangatnya sapuan angin malam.
kita masih saja berlayar. mendayung harapan, mendayung impian tentang tanah tujuan. meski tak tau jawaban tentang pertanyaan kapan, tapi kita memutuskan tak kan pernah menjadi pecundang.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar