Hai sahabat setia.. selamat malam
jujur saja, aku kebingungan bagaimana memulai perbincangan canggung kita ini
aneh ya? iya, padahal setiap hari kita selalu bersama
padahal, setiap hari kau selalu ada, menemaniku, membatasiku, namun melindungiku
aku ingat, dulu aku sempat menolakmu. Iya, menolakmu begitu banyak.
jauh sebelum itu, aku sama sekali tak paham tentang kewajiban menerimamu sebagai teman sehidup semati, namun ketika aku mulai paham, aku malah menolaknya. Dengan sangat keras kepala, aku menolakmu.
kau tahu, dulu aku berfikir begitu kolot tentangmu. Aku memandang aneh dan kasihan pada mereka yang menjadikanmu sahabatnya. Aneh dan kasihan? padahal sebenarnya akulah yang aneh dan kasihan. Aneh karena tak mau menerima kewajiban yang Ia tetapkan dan kasihan karena menutup hati pada suatu kebaikan. Tapi begitulah, jika hidayah belum mengetuk, maka hati tak kan pernah tergerak sedikitpun.
aku bersyukur pernah berbagi cerita kehidupan masa remaja dengan keluarga kedua ku di SMA. Dari mereka lah aku belajar tentangmu, dan melalui tangan mereka lah hidayah itu Ia sampaikan.
aku ingat, ketika satu persatu dari mereka mulai merubah penampilannya, aku malah semakin bersikeras tidak mau. Begitu banyak alasan, belum siaplah, tingkah laku masih jelek lah, sayang rambut lah, sayang baju lah, ah banyak pokoknya. Alasan yang sebenarnya tak masuk akal dan sengaja ku jadikan alabi untuk menguatkan hatiku berkata tidak.
namun perlahan, nasihat-nasihat lembut yang terkadang membuatku menitikkan air mata akhirnya meluluhkan kekerasan hatiku. Tentu saja perjalanannya tak semulus itu. Bahkan kejadian aneh pun sempat aku alami. Iya, kejadian dimana aku merasa roh ku terlepas dari raga. Aneh sekali rasanya. Disuatu tengah malam, aku terbangun, dadaku sesak. Aku sadar saat itu, aku dapat melihat temanku sedang tertidur diranjang sebelah, aku bisa melihat terangnya lampu kamar asrama. Aku sadar semua, namun tubuhku tak bisa digerakkan. Rasanya sesak, seperti ditindih hingga tak dapat bernafas. Saat itu aku ketakutan dan mulai melafazkan ayat-ayatnya. Aku berjuang agar dapat mendudukkan tubuhku yang meng-kaku ditempat tidur dan akhirnya aku berhasil, aku berhasil mengangkat tubuhku dalam posisi duduk ditempat tidur. Namun, aku begitu kaget ketika menoleh kebelakang, aku melihat tubuhku masih terbaring ditempat tidur. Aku ketakutan, dalam hati aku bertanya-tanya, inikah saatnya aku pergi? aku ketakutan, dan dengan polosnya aku berfikir, aku harus masuk kedalam tubuhku kembali. Aku belum siap berjumpa dengan-Nya. Ketika ku coba untuk melakukannya, aku seperti terjatuh dari ketinggian yang sangat tinggi. Kepala ku pusing, pusing sekali. Perjuangan untuk masuk kembali ketubuhku, benar-benar menyiksa. Hal itu kurasakan beberapa saat hingga akhirnya, ku ucapkan syukur saat tubuhku kembali menyatu.
kau tau apa yang kupikirkan setelah kejadian itu? "apa yang harus kulakukan saat waktu itu benar-benar telah datang?" dosa ku begitu banyak, ditambah lagi aku begitu gemar mengumbar aurat kepada siapapun. Aku ketakutan saat itu. Lalu mimpi-mimpi tentangmu beberapa kali bergulir menyapa disetiap tidurku membuat ku semakin galau. Alhasil disetiap sore, aku dan sahabatku, Evie yang juga saat itu sedang galau apakah akan mengambilmu atau tidak, sering merenung sambil mendengarkan lagu-lagunya Opick. Saat mendengar itu, terkadang kami menangis. Namun, hidayah itu masih ragu juga kami ambil.
Sampai pada akhirnya, disuatu pagi dihari sabtu, ketika teman-teman asrama telah berangkat ke sekolah, aku masih berkutat dengan pakaian olahragaku didepan cermin sambil menyisir-nyisir rambut. Aku memandangi diriku begitu banyak, menatap rambutku, menatap mataku dan terbersitlah keinginan untuk lebih dekat pada-Nya. Terbersitlah kerinduan yang sangat dalam pada-Nya, namun terselip juga rasa malu karena begitu gemar berbantah-bantah pada perintah-Nya. Ah, aku memandangi wajahku saat itu dengan rasa iba. Wajah cantik yang auratnya terumbar kemana-mana. Menyedihkan. Dan perlahan, kukuatkan tekad untuk menelpon ibuku, meminta izin mengenakanmu. Meminta izin untuk menjadikanmu pendamping sejati hidupku. Berbekal pulsa yang hanya tersisa 500 rupiah, aku menelpon kerumah. Saat kukatakan keinginanku, ibuku berkata "Iya, pake lah nak. Tapi pake yang bener, jangan dilepas lagi ya". Percakapan singkat karena memang pulsa yang terbatas itu membuat air mataku meleleh, akhirnya izin itu kudapatkan setelah dulu sempat ditolak. Ku seka air mataku, ku cari baju putih lengan panjang dan jilbab putih dilemariku. Untungnya saat itu, ada jilbab teman yang sempat kupinjam dan belum kukembalikan. Dengan kata bismillah, ku kenakan kau pertama kali.
kau tau, jantungku berdebar ketika aku keluar kamar. Ada rasa haru, bangga, malu, bahagia, semuanya. Dan mereka yang bertemu denganku, semua ternga-nga tak percaya, semua menyalami dan yang muhrim mulai memelukku. Aku terharu. Dan cerita mengharukan tentu saja ketika bertemu dengan teman-teman seperjuanganku. Mereka benar-benar terkejut, beberapa memelukku sambil menangis, rona-rona wajah bahagia mereka, aku masih tak dapat melupakannya hingga sekarang. Bahkan ketika mengenangnya pun, tanpa sengaja mataku berkaca-kaca. Iya, hari itu 13 september 2008 bertepatan dengan 13 Ramadhan, aku memilihmu.
sekarang, tahun kelima kita. Maaf, maaf,, aku begitu bingung harus berkata apa. Tapi yang pasti, ada rasa syukur sekaligus malu. Bersyukur karena hingga sekarang kau masih setia. Dan malu, karena aku tak memaknaimu dnegan sempurna. Sungguh, maafkan aku. Aku begitu malu, kau adalah simbol kemuliaan seorang perempuan, namun aku masih terlalu hina untuk mengecap kemuliaan itu. Maafkan aku yang tak banyak menurut pada penjagaanmu. Maafkan aku
Ditahun kelima, aku tak mampu berharap banyak. Namun, terbesit di hati yang dalam perasan iri tehadap mereka yang mampu memilih menjadi mulia dengan menyempurnakanmu. Tapi aku, lagi-lagi dengan keras kepala menolaknya
teman setiaku, tolong jangan pernah lelah, meski kau belum kusempurnakan, insya Allah aku takkan pernah meninggalkanmu. Tidak, tak akan. Kumohon, meski tak sempurna, aku ingin kau menjagaku untuk dia yang memang Allah izinkan. Kumohon, jadilah penebal rasa malu ku sebagai seorang wanita, jadilah penjara yang memenjarakan hatiku dari kehinaan. Aku tau, meski tak sempurna, kau adalah sebaik-baiknya penjaga kemuliaan ku. Terima kasih untuk 5 tahun terakhir.
Bogor, 13 September 2013
Tidak ada komentar :
Posting Komentar