Sabtu, 21 September 2013

Rasa Yang Berjuta

Rasa yang berjuta. Itu cara gue mengungkapkan sebuah perasaan yang nano-nano dan sulit diterangkan dengan kata-kata. 
Dua hari ini, rasa yang berjuta datang dan menemani segala aktivitas perkuliahan dan kesibukan ngaduk-ngaduk sampah (dilain kesempatan akan gue ceritakan aktivitas ngaduk-ngaduk sampah ini,hehe). 
Dimulai dari sebuah kabar yang nge-JLEB banget. Disuatu pagi, ketika gue lagi semangatnya mau berangkat kuliah. Gue ga bisa bilang detailnya apa. Tapi yang pasti, ini kabar yang paling takut untuk gue denger, sejujurnya. Kabar yang gue udah tau dari sejak dulu bahwa gue akan denger kabar ini, tapi gue cuma ga nyangka aja secepet ini. Kabar yang lagi-lagi ngebuat gue harus menganalisa setiap kejadian untuk membesarkan hati seorang diri.

Rasa yang begitu berjuta. Pengen bilang "masa bodoh" pun, pada kenyataannya gue peduli dan terpengaruh. Pengen bilang gue baik-baik aja pun, pada kenyataannya gue ga cukup baik untuk tau. Pengen bilang gue kuat, pada kenyatannya gue cukup kepayahan untuk membesarkan hati.

Dan, hari ini gue dapet kabar bahagia dari temen gue. Gue seneng, sekaligus sedih. Bukan sedih atas kebahagian orang lain, melainkan sedih terhadap diri gue. Sedih atas pengharapan yang sebenernya gue paham itu ga boleh dan belum pantes, tapi jujur gue pengen. 
Rasanya begitu malu, ketika dalam hati gue bertanya-tanya "Gue kapan ya?", "Ada ga ya?"

Iya, Gue kapan ya? Ada ga ya? Kenapa begitu sulit buat gue sementara yang lain begitu mudah? Apa yang salah? Bagian yang mana?

Gue paham, sebenarnya kabar kemarin ga perlu terlalu nge-JLEB kalo pada saat ini gue punya. Tapi jangankan punya, kemungkinan untuk punya pun terlalu kecil.

Ah, ini rasa yang benar-benar berjuta. Berjuta sekali.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar