“Ssttt… Diamlah sebentar.
Cinta sejati hanya bisa didengar justeru dalam senyap.
Bukan gegap gempita kalimat, yang mengaburkan makna.
Dan kita tertipu oleh tampilannya.
Ssttt… Ayo duduk sejenak.
Cinta sejati hanya bisa dikenali saat sepi.
Diperhatikan dengan seksama, dalam kesadaran diri paripurna.
Bukan berisik teriak-teriak ‘Aku cinta kamu’.
Hanya untuk esok lusa kita meratap kencang-kencang sebaliknya.
Ssttt…. Bisakah kita diam dulu?
Agar cinta sejati menunjukkan siapa diri sebenarnya.
Apakah yang ini, atau yang itu, atau mungkin yang lain lagi.
Dan kita harus menunggu dan bersabar.”
***
"Melupakan" adalah salah satu dahan dari pohon cinta. Dia dekat dengan dahan "melepaskan". Dan boleh jadi, besok lusa, seiring waktu berjalan, dua dahan ini justeru menjadi akibat penting bersatunya sebuah cinta.
Sayangnya, dahan-dahan ini tidak akan terlihat oleh orang yang terlalu dekat, melotot pula, takut sekali kehilangan, saat menatap pohon cinta. Terabaikan begitu saja.
***
Tidak semua rindu itu harus dikatakan. Lebih banyak yang sebaiknya disimpan dalam diam; apalagi jika rindu tersebut dalam bentuk hubungan yang tidak sesuai rambu2 agama.
Semoga dengan menahan diri, besok lusa diberikan kesempatan terbaik dalam cara yang baik menyampaikannya.
***
Nggak ada rumusnya hidup kita itu sepi, sendiri. Nggak ada rumusnya hidup kita sesak, sakit, bosan. Nggak ada.
Kalau memang tetap merasa begitu, ayo segera sana ambil wudhu, shalat. Mengadu pada Allah.
Orang yang memiliki iman di hatinya, walau sebenang saja besarnya, tidak pantas merasa hidupnya sendiri.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar