Aku punya seorang abang. Abang yang sebenarnya abang. Darah yang mengalir di darah ku, adalah darah yang sama mengalir di tubuhnya, meskipun banyak yang tak percaya bahwa aku adalah adiknya. Dari segi perawakan, dari segi wajah, kami berbeda. Tapi ia adalah abang, seseorang yang menyaksikan bagaimana aku tumbuh dari bayi hingga sekarang, seseorang yang memakan nasi dari penanak nasi yang sama denganku, ia seseorang yang berbagi rumah yang sama denganku.
Ia seorang abang, abang yang super menurutku. Abang yang menjadikan aku adiknya, seseorang yang menasehati, menyarankan, melarang, mengingatkan, bahkan menegur. Abang yang menjadikan aku temannya, seseorang yang mengajak ku olahraga di sore hari, seseorang yang meminjamkan ku komik dan bertukar anime dengan ku, seseorang yang ku ladeni untuk bertengkar, seseorang yang ku julurkan lidah ketika aku kesal. Abang yang menjadikan aku layaknya seorang pacar, seseorang yang mengajakku pergi makan di luar berdua, seseorang yang menemaniku belanja, seseorang yang menghadiahiku sepatu, baju, tas. Abang yang memperlakukan aku seperti anaknya, seseorang yang memenuhi hampir segala kebutuhanku, seseorang yang menjamin bahwa S1 bisa kukenyam tanpa perlu kekhawatiran terhadap uang.
Ia seorang abang, yang detik ini belum memutuskan untuk menikah. Bukan tak ingin, bukan belum umurnya. Ia hanya berpikir "biar adik-adikku menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu"
Ia seorang abang yang berkali-kali membuatku terharu begitu banyak. Ia seorang abang yang memikirkan kami, adik-adiknya, begitu banyak. Ia seorang abang, abang yang super, begitu banyak.
Aku punya 4 orang abang dan dari ke empat orang abang, aku punya 1 abang yang akan selalu ku nomer 1 kan.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar