Rabu, 01 Januari 2014

Idealisme



Idealisme yang kita utamakan. Idealisme yang kita buat sebagai pembungkus pilihan, tidak hanya pilihan hidup kita, tapi juga hidup mereka lainnya. Idealisme yang terekam jelas dipikiran tanpa pernah disampaikan. Idealisme yang tak semua orang mengerti. Idealisme yang kita paksakan tanpa ada penjelasan. Idealisme yang kemudian membuat kata tak mampu lagi kita ucapkan satu sama lain, meski hanya sebuah kata standar di penghujung sore seperti biasanya. Idealisme yang membuat wanita terlemah, ah bukan wanita terlembut hatinya, menangis dalam-dalam kemudian menyimpan kekecewaan yang juga dalam-dalam. Idealisme yang masih saja dipertahankan, meski waktu telah begitu banyak berlalu. Idealisme yang entah perlu atau tidak. 

Idealisme tanpa kata persetujuan dari yang lainnya. Idealisme yang dipaksa untuk diterapkan. Idealisme yang semakin meragukan. Idealisme yang memupuk kekecewaan. Idealisme yang mendinginkan kehangatan dan mengunci rapat mulut. Idealisme yang semakin dipertanyakan. 

Idealisme yang dipertontonkan pada gadis kecil sejak ia masih benar-benar kecil. Idealisme tanpa penjelasan. Idealisme yang ia coba mengerti tanpa ada penjelasan. Idealisme yang ia coba mengerti ketika dampak telah terasa. Idealisme yang membuat ia menyesali apa yang tak pernah ia lakukan. Idealisme yang membuatnya mengelus dada dalam kesendirian. Idealisme yang membuat sahabat adiknya memeluk erat dalam haru pada adiknya. Idealisme yang tak pernah ia curhat kan pada sahabat manapun. Idealisme yang diperbincangkan kakak adik dalam bisik-bisik pada bilik. Idealisme yang tak mampu ia tentang meski ingin, tak mampu juga ia pertanyakan meski penasaran. Idealisme yang masih tak ia temukan jawaban. Idealisme yang kemudian begitu takut ia terapkan namun justru tanpa sadar ia lakukan. Idealisme yang membuat ia menarik dirinya begitu banyak. Idealisme yang banyak membuat ia merenung dalam-dalam di tengah malam di atas sajadahnya. Idealisme yang membuat ia rindu pada masa kala itu. Masa dimana kata-kata hangat dipenghujung sore masih riuh disampaikan, masa dimana si kecil tak mengerti apapun selain boneka dan kuncir dua nya, masa dimana ia masih bermanja-manja pada semua kakaknya, masa dimana ia tak pernah melihat siapapun menangis kecuali teman sebayanya yang terjatuh dari sepeda, masa dimana dongeng si kancil masih setiap malam diperdengarkan bersama adiknya. 

Idealisme yang membuat ia banyak menyesali sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Idealisme yang membuat ia tersenyum tipis saat semua ego semakin menjadi-jadi sembari menenangkan adiknya. Ia hanya bertingkah tak ada apa-apa seraya berkata pada adiknya “sudah, lupakan”. Ia hanya mencoba lebih kuat dari adiknya karena ia tau, ia adalah kakak.

Idealisme, ia mendoakan idealisme ini pada setiap waktu terbaik untuk berdoa. Mendoakan sembari mencoba mengerti dan memaklumi. Mendoakan tanpa menyalahkan.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar