Idealisme yang kita utamakan. Idealisme
yang kita buat sebagai pembungkus pilihan, tidak hanya pilihan hidup kita, tapi
juga hidup mereka lainnya. Idealisme yang terekam jelas dipikiran tanpa pernah
disampaikan. Idealisme yang tak semua orang mengerti. Idealisme yang kita
paksakan tanpa ada penjelasan. Idealisme yang kemudian membuat kata tak mampu lagi
kita ucapkan satu sama lain, meski hanya sebuah kata standar di penghujung sore
seperti biasanya. Idealisme yang membuat wanita terlemah, ah bukan wanita
terlembut hatinya, menangis dalam-dalam kemudian menyimpan kekecewaan yang juga
dalam-dalam. Idealisme yang masih saja dipertahankan, meski waktu telah begitu banyak berlalu. Idealisme yang entah perlu atau tidak.
Idealisme tanpa kata persetujuan
dari yang lainnya. Idealisme yang dipaksa untuk diterapkan. Idealisme yang
semakin meragukan. Idealisme yang memupuk kekecewaan. Idealisme yang
mendinginkan kehangatan dan mengunci rapat mulut. Idealisme yang semakin
dipertanyakan.
Idealisme yang dipertontonkan
pada gadis kecil sejak ia masih benar-benar kecil. Idealisme tanpa penjelasan. Idealisme
yang ia coba mengerti tanpa ada penjelasan. Idealisme yang ia coba mengerti
ketika dampak telah terasa. Idealisme yang membuat ia menyesali apa yang tak
pernah ia lakukan. Idealisme yang membuatnya mengelus dada dalam kesendirian. Idealisme
yang membuat sahabat adiknya memeluk erat dalam haru pada adiknya. Idealisme yang
tak pernah ia curhat kan pada sahabat manapun. Idealisme yang diperbincangkan
kakak adik dalam bisik-bisik pada bilik. Idealisme yang tak mampu ia tentang
meski ingin, tak mampu juga ia pertanyakan meski penasaran. Idealisme yang
masih tak ia temukan jawaban. Idealisme yang kemudian begitu takut ia terapkan
namun justru tanpa sadar ia lakukan. Idealisme yang membuat ia menarik dirinya
begitu banyak. Idealisme yang banyak membuat ia merenung dalam-dalam di tengah
malam di atas sajadahnya. Idealisme yang membuat ia rindu pada masa kala itu. Masa
dimana kata-kata hangat dipenghujung sore masih riuh disampaikan, masa dimana
si kecil tak mengerti apapun selain boneka dan kuncir dua nya, masa dimana ia masih
bermanja-manja pada semua kakaknya, masa dimana ia tak pernah melihat siapapun
menangis kecuali teman sebayanya yang terjatuh dari sepeda, masa dimana dongeng
si kancil masih setiap malam diperdengarkan bersama adiknya.
Idealisme yang membuat ia banyak
menyesali sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Idealisme yang membuat ia
tersenyum tipis saat semua ego semakin menjadi-jadi sembari menenangkan
adiknya. Ia hanya bertingkah tak ada apa-apa seraya berkata pada adiknya “sudah,
lupakan”. Ia hanya mencoba lebih kuat dari adiknya karena ia tau, ia adalah
kakak.
Idealisme, ia mendoakan idealisme
ini pada setiap waktu terbaik untuk berdoa. Mendoakan sembari mencoba mengerti
dan memaklumi. Mendoakan tanpa menyalahkan.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar